Belajar Gamelan Jawa di Mancanegara: Dari Musik hingga Pembentukan Karakter

  • 18 Sep 2026 13:07 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Pembelajaran gamelan Jawa di mancanegara tidak hanya berfokus pada kemampuan memainkan instrumen, tetapi juga mengenalkan nilai, filosofi, kedisiplinan, dan karakter yang terkandung di dalamnya. Pengajar gamelan di University of California, Los Angeles (UCLA), Joko Sutresno, menerapkan enam tahapan pembelajaran yang dimulai dari berpikir hingga mencapai tujuan akhir pembelajaran.

Dalam dialog Jagongan, Selasa 15 September 2026, Joko menjelaskan, tahap awal pembelajaran adalah menyiapkan pola pikir peserta didik sebelum mereka mempraktikkan gamelan. Menurutnya, mahasiswa asing perlu memahami alasan di balik setiap aturan, termasuk melepas alas kaki, tidak melangkahi gamelan, serta menjaga sikap selama berada di ruang gamelan.

“Kalau pertama kali belajar sesuatu yang baru, kita harus menyiapkan mindset atau pikiran. Mereka harus memahami teori, konsep, dan prinsip gamelan secara intelektual sebelum menerapkannya dalam praktik,” ujar Joko.

Setelah memahami konsep, peserta didik diarahkan untuk menginternalisasi materi melalui ucapan sebelum memainkan instrumen. Joko menggunakan pendekatan tradisi lisan dengan mengajak peserta menghafalkan struktur gending dan mengucapkannya terlebih dahulu, sebelum kemudian mengambil tabuh dan memainkan instrumen.

Prinsip tersebut dirangkum Joko dalam ungkapan, “If you can say, you can play.” Menurutnya, kemampuan mengucapkan struktur musik membantu peserta memahami hubungan antarinstrumen sehingga tidak hanya memainkan bagian masing-masing, tetapi juga mampu merasakan keseluruhan permainan gamelan.

Tahap berikutnya adalah praktik yang dilakukan secara berulang hingga menjadi kebiasaan. Joko mengatakan, peserta tidak langsung diberikan seluruh bagian gending, melainkan mempelajari bagian kecil terlebih dahulu sampai benar-benar dikuasai sebelum melanjutkan ke bagian berikutnya.

“Kalau kita sudah tahu, tidak cukup memainkan sekali. Harus diulang-ulang sampai menjadi kebiasaan, sehingga pada akhirnya kita tidak lagi berpikir secara sadar mengenai setiap gerakan,” kata Joko.

Menurut Joko, kebiasaan yang terbentuk melalui latihan kemudian berkembang menjadi karakter pemain. Ia menilai setiap orang pada akhirnya dapat memiliki gaya permainan yang berbeda karena proses belajar yang konsisten membantu peserta menemukan penghayatan dan karakter musikalnya masing-masing.

Tahap terakhir adalah kemampuan menyajikan gamelan secara utuh dengan hafal, percaya diri, dan penuh penghayatan. Joko menekankan bahwa setiap instrumen dalam gamelan memiliki keterkaitan sehingga permainan tidak dapat dilepaskan dari kerja sama seluruh pemain.

“Gamelan itu merupakan suatu kesatuan yang sangat unik. Kendang tidak bisa berdiri sendiri, gong tidak bisa berdiri sendiri, karena semuanya saling bergantung,” ucapnya. Pembelajaran musik secara berkelompok juga memiliki kaitan dengan pengembangan kemampuan personal.

Joko juga menegaskan bahwa belajar gamelan tidak mengenal batas usia maupun latar belakang budaya. Baginya, gamelan dapat menjadi sarana untuk mengenal diri sendiri sekaligus memahami pentingnya kebersamaan, sehingga pembelajaran gamelan di mancanegara tidak berhenti pada keterampilan bermusik, tetapi juga membuka ruang untuk memahami nilai budaya Jawa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....