Sumunar Art Solo Bawa Identitas Budaya Solo ke Festival Seni di Korea Selatan
- 29 Agt 2026 15:15 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surrakarta – Seni tradisi Kota Solo akan kembali dibawa ke panggung internasional. Sumunar Art Solo dijadwalkan menjadi bagian dari gelaran Jinju World Folk Art Biennale di Kota Jinju, Korea Selatan, pada Oktober 2026.
Koordinator Rombongan Sumunar Art, Kambang Arum Prabaningrat Festival tersebut merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan Pemerintah Kota Jinju melalui Jinju Culture and Tourism Foundation. Kota Jinju sendiri dikenal sebagai bagian dari UNESCO Creative Cities Network dalam bidang craft and folk art. Festival ini telah berlangsung sejak 2019 dan tidak hanya menampilkan seni tari, tetapi juga musik, teater hingga kerajinan tangan.
“Bagi Sumunar Art Solo, keikutsertaan tahun ini menjadi kesempatan penting untuk memperkenalkan kekayaan seni dan budaya Kota Solo kepada masyarakat internasional. Untuk pertunjukan ke luar negeri itu kan dokumennya pasti lebih rumit, proses yang harus dipersiapkan meliputi proposal, portofolio komunitas, materi pertunjukan hingga berbagai dokumen perjalanan, ” ujar Kambang.
Sumunar Art Solo akan membawa dua sajian tari dalam festival tersebut. Salah satunya berjudul Sanggit, sebuah karya yang berangkat dari akar gerak tari tradisional Kota Solo kemudian dipadukan dengan unsur kontemporer.
Menurut Kambang, karya Sanggit tidak hanya menampilkan gerakan tari, tetapi juga membawa pesan tentang kerinduan terhadap Kota Solo. “Inti dari sajian yang pertama ini Sanggit ini adalah tentang rasa kangen terhadap Kota Solo,” katanya.
Konsep pertunjukan juga disesuaikan dengan karakter penonton internasional. Unsur tradisi tetap dipertahankan, tetapi dikemas dengan musik dan gerakan yang lebih modern agar pesan karya dapat diterima oleh penonton dari berbagai negara.
“Kami tetap ingin membawakan inti tradisi itu, tetapi juga kami balut ada musiknya mungkin yang lebih modern, kemudian ada beberapa part gerakan agak kontemporer, agak modern,” jelas Kambang.
Keterlibatan Sumunar Art Solo juga menjadi bagian dari upaya memperkuat diplomasi budaya. Kambang mengatakan, misi utama kelompoknya adalah memperkenalkan identitas Kota Solo, mulai dari tradisi, cerita tentang kota, hingga batik yang menjadi salah satu kekayaan budaya daerah.
“Yang jelas kami ingin menonjolkan Kota Solo sendiri dari tradisi kemudian cerita Kota Solo, kemudian mungkin dari batik-batik yang dimiliki Kota Solo,” ungkapnya.
Menariknya, Kota Solo dan Jinju memiliki kesamaan sebagai kota yang masuk dalam jaringan UNESCO Creative Cities Network pada bidang craft and folk art. Kondisi tersebut membuka peluang terjadinya pertukaran pengetahuan dan pengalaman antara seniman dari kedua kota.
Selain tampil di panggung festival, dua anggota Sumunar Art Solo akan berangkat lebih awal untuk mengikuti program residensi. Program tersebut menjadi ruang bagi seniman Indonesia untuk berkolaborasi dengan seniman lokal di Jinju. Hasil kolaborasi itu nantinya juga akan dipentaskan dalam rangkaian festival.
Festival Jinju juga menjadi ruang pertemuan seniman dari berbagai negara. Sumunar Art Solo menyebut terdapat sekitar 40 seniman internasional lainnya yang turut terseleksi, dengan jumlah keseluruhan seniman diperkirakan lebih dari 100 orang karena sejumlah negara mengirimkan lebih dari satu kelompok.
Keikutsertaan dalam festival internasional juga diharapkan tidak berhenti pada penampilan di atas panggung. Sumunar Art Solo ingin membawa pulang pengalaman dan pengetahuan baru, kemudian membagikannya kepada komunitas seni dan generasi muda di Kota Solo.
Kambang berharapa dengan pengalaman tersebut dapat menjadi modal untuk mengembangkan kegiatan seni di daerah, termasuk kemungkinan menciptakan festival dengan konsep yang mempertemukan berbagai cabang seni seperti tari, musik dan kerajinan. (Nuri)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....