Mengenal Karakter Wayang Bima yang Sarat Nilai Kehidupan

  • 24 Jul 2026 19:31 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta – Tokoh Bima atau Werkudara dalam pewayangan Jawa bukan hanya dikenal sebagai sosok ksatria bertubuh besar dan sakti, tetapi juga menjadi simbol ketegasan, kejujuran, disiplin, tanggung jawab, serta kesetiaan kepada keluarga. Nilai-nilai tersebut dinilai masih sangat relevan untuk diterapkan dalam kehidupan masyarakat saat ini.

Guru Seni Budaya dan Bahasa Jawa SMK Mikael Surakarta sekaligus seorang dalang, Sujarwo Joko Prihatin, S.Sn, saat menjadi narasumber dalam program Jagongan Pro 4 RRI Surakarta Senin, 20 Juli 2026 pagi mengatakan bahwa karakter Bima berbeda dibandingkan tokoh Pandawa lainnya. Meski dikenal keras dan tegas, Bima memiliki hati yang lembut serta selalu bertindak berdasarkan kejujuran.

"Bima itu orang yang sangat tegas, tidak suka bertele-tele, tetapi sebenarnya hatinya sangat lembut. Dia juga sangat bertanggung jawab terhadap keluarga dan selalu jujur," ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa Bima memiliki banyak nama, seperti Bimasena, Werkudara, Brotoseno, hingga Seno. Penyebutan nama tersebut berbeda-beda sesuai daerah maupun tradisi pedalangan yang berkembang di masyarakat.

Selain karakter, Sujarwo juga mengulas makna filosofis berbagai atribut yang dikenakan Bima dalam wayang kulit. Mulai dari gelung Minangkara, sumping, anting, hingga kain poleng, seluruhnya mengandung simbol perjalanan hidup manusia.

Menurutnya, gelung Minangkara melambangkan kesadaran manusia dalam mengenal dan menyembah Tuhan. Sementara atribut lainnya menggambarkan ketajaman pikiran, ketulusan hati, pengendalian hawa nafsu, hingga kekuatan batin.

"Semua pakaian dan aksesoris Bima bukan sekadar hiasan. Setiap unsur memiliki filosofi tentang kehidupan manusia," ujar dia.

Dalam kesempatan tersebut, Sujarwo juga mengupas kisah terkenal Bima bertemu Dewa Ruci. Ia menjelaskan bahwa perjalanan spiritual tersebut mengandung ajaran mendalam mengenai pencarian jati diri.

Menurutnya, perjalanan mencari Kayu Gung Susuh Angin hingga Tirta Pawitra Mahening Suci bukan dimaknai secara harfiah, melainkan sebagai simbol perjuangan manusia mengejar cita-cita melalui usaha, keyakinan, dan keteguhan hati.

"Dewa Ruci merupakan gambaran jati diri Bima. Kisah itu mengajarkan manusia untuk mengenal dirinya sendiri dan memahami makna kehidupan," kata dia.

Sujarwo menambahkan, perjalanan spiritual Bima juga mengandung berbagai falsafah Jawa yang hingga kini masih relevan, termasuk pentingnya memiliki keyakinan, tidak mudah menyerah, serta terus berusaha menghadapi berbagai rintangan. Menurutnya, meskipun Bima dikenal sebagai ksatria perkasa yang mampu mengalahkan banyak musuh, ia tetap menjadi sosok yang rendah hati dan setia kepada keluarga serta negaranya.

Sujarwo berharap masyarakat, khususnya generasi muda, tidak menjauh dari dunia wayang. Sebab, wayang bukan hanya menjadi hiburan, tetapi juga media pembelajaran karakter yang sarat nilai moral.

"Kalau kita memahami karakter tokoh-tokoh wayang, terutama Bima, banyak pelajaran hidup yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu jangan sampai kita jauh dari wayang," katanya. (Nuri)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....