Dalang Wanita Angkat Sejarah Kartasura Lewat Wayang Berbasis Motion Graphic

  • 28 Jul 2026 19:46 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Tim Hibah Program Inovatif Seni Nusantara (PISN) 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta menghadirkan inovasi dalam pelestarian budaya dengan menggabungkan motion graphic pada pementasan wayang lakon Kembang Ngargayasa. Pertunjukan tersebut juga menjadi ruang ekspresi bagi dalang wanita untuk mengenalkan sejarah Babad Kartasura kepada kalangan pelajar.

Latihan kolaborasi digelar di Sanggar Wayang Gamelan Sangswara, Hargosari, Sraten, Gatak, Sukoharjo, pada Sabtu 26 Juni 2026. Kegiatan itu merupakan bagian dari program Hibah PISN 2026 yang dikelola Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) di bawah Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Dalam latihan tersebut, dalang wanita Nia Dwi Raharjo tampak memimpin jalannya pementasan dengan memainkan tokoh utama Matah Ati yang diiringi gamelan. Di sela latihan, Nia bersama tim kampus dan anggota sanggar berdiskusi untuk mematangkan alur cerita serta karakter wayang yang akan dipentaskan.

Ketua Sanggar Wayang Gamelan Sangswara, Nia Dwi Raharjo, mengatakan lakon Kembang Ngargayasa mengangkat sosok Matah Ati sebagai perempuan pemberani yang melawan ketidakadilan.

"Lakon Kembang Ngargayasa ini akan mengisahkan tokoh Matah Ati, figur perempuan yang memberontak terhadap ketidakadilan dan memimpin pasukan perlawanan kepada pribumi yang ikut bersekutu dengan kompeni," ujarnya.

Pementasan dirancang dalam format wayang climen yang dipadukan dengan motion graphic sehingga diharapkan lebih menarik bagi generasi muda. Selain menghadirkan hiburan, pertunjukan juga membawa pesan nasionalisme dan semangat melawan ketidakadilan.

Anggota tim Hibah PISN ISI Surakarta, Indriati Suci Pravitasari, mengatakan kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya memperkenalkan sejarah Kartasura sekaligus wayang kulit kepada siswa sekolah dasar.

"Kegiatan ini sebagai upaya mengenalkan sejarah Kartasura dan wayang kulit kepada siswa sekolah dasar, selain itu untuk memberi wahana dalang wanita dalam berekspresi melalui pementasan wayang climen," katanya.

Program ini dipimpin Basnendar Herry Prilosadoso bersama anggota Ana Rosmiati, Indriati Suci Pravitasari, dan Sri Murwanti, serta melibatkan mahasiswa ISI Surakarta. Tim merencanakan sejumlah latihan lanjutan untuk menyempurnakan alur cerita agar sesuai dengan karakter penonton pelajar, sekaligus memperkuat nilai edukasi, hiburan, dan pelestarian budaya melalui media pertunjukan yang lebih inovatif. (Ril/Ase)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....