Pemkab Optimis Kunjungan HB X ke Sragen akan Berdampak di Pariwisata dan Budaya

  • 12 Jul 2026 21:11 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Sragen - Kunjungan Gubernur DIY yang juga Raja Kasultanan Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X ke Sragen dalam Muhibah Budaya, Kamis 9 Juli, dinilai akan membawa dampak nyata. Salah satunya sektor pariwisata dan kebudayaan.

Hal itu disampaikan Sekretaris Daerah Sekda Sragen Hargiyanto kepada wartawan, Sabtu 11 Juli 2026. Melihat tingginya nilai sejarah dan potensi magnet ekonomi dari kunjungan Sultan, Pemerintah Kabupaten Sragen bergerak cepat.

Hargiyanto membeberkan bahwa Pemerintah Daerah telah menyusun rencana strategis untuk merehabilitasi kawasan Situs Sumberan di Jhapoh pada tahun anggaran 2027 mendatang.

Langkah renovasi tersebut dipastikan tetap akan menjaga keaslian bentuk dan kelestarian alam sekitar. Terlebih, Situs Sumberan didukung oleh daya tarik ekologis berupa 7 mata air alami yang terus mengalir serta keberadaan 21 jenis pohon raksasa yang berfungsi menjaga ekosistem penampung air di lokasi.

"Program ke depan, aset ini setelah diperbaiki kemungkinan akan dihibahkan atau dikerjasamakan pengelolaannya dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Jhapoh agar menjadi destinasi wisata berbasis sejarah dan alam yang berkelanjutan. Kami akan formulasikan detailnya bersama tim TPAPD," kata Sekda Sragen.

Lebih lanjut, Hargiyanto menilai momentum Muhibah Budaya ini menjadi jembatan penting untuk menyambung kembali tali persaudaraan (seduluran) batin Mataraman antara Yogyakarta dengan Sragen. Menurutnya, sejarah mencatat bahwa cikal bakal berdirinya Keraton Yogyakarta sejatinya berakar kuat di Bumi Sukowati melalui pergerakan Pangeran Mangkubumi.

"Selama ini daerah Mataraman luar seperti Blitar, Tulungagung, atau Ponorogo sudah sering tersentuh kerja sama kebudayaan Jogja. Padahal Sragen ini adalah tempat awal mula perjuangan sebelum Keraton Jogja berdiri, namun kemarin-kemarin belum sempat disambungkan. Melalui komunikasi dengan Ibu Sekda Pemprov DIY yang turut hadir, kami berharap ke depan ada kerja sama kebudayaan yang lebih erat, termasuk pelestarian budaya di Sragen lewat dukungan Dana Keistimewaan," katanya menjelaskan.

Rangkaian acara Muhibah Budaya di Sragen ini berlangsung semarak. Selain napak tilas situs sejarah, kegiatan juga diisi dengan pameran hasil workshop seni macapat dan tarian tradisional yang dilatih langsung oleh tim kebudayaan DIY, pertunjukan panggung budaya rakyat, deklarasi Bergodo Mangkubumi, serta ditutup dengan jamuan makan malam (gala dinner) resmi di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sragen.

Kunjungan Sri Sultan dinilai tidak sekadar menjadi seremonial kebudayaan, melainkan membuka peluang emas integrasi sejarah Mataraman Islam dan pengembangan sektor pariwisata lokal di Bumi Sukowati.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sragen, Purwanti, menyampaikan apresiasi atas dipilihnya Sragen sebagai lokasi Muhibah Budaya Yogyakarta 2026.

Ia menilai kegiatan tersebut menjadi pengakuan atas pentingnya posisi Sragen dalam sejarah Mataraman sekaligus momentum untuk mempererat hubungan antardaerah yang selama ini telah terjalin.

“Kami bersyukur dan merasa terhormat karena peran historis Sragen masih begitu lekat dalam ingatan masyarakat Yogyakarta. Muhibah Budaya ini kami harapkan semakin menguatkan rasa persaudaraan sekaligus menjadi awal lahirnya kerja sama yang lebih erat di berbagai sektor,” ungkapnya.

Seminar sejarah tersebut menjadi pembuka rangkaian Muhibah Budaya Yogyakarta di Kabupaten Sragen yang berlangsung pada 2 serta 5–9 Juli 2026. Selain seminar, kegiatan juga diisi dengan workshop, pameran, dan wanuh budaya Mataram sebagai ruang mempererat persaudaraan budaya Mataraman antara DIY dan Sragen. Puncak kegiatan dijadwalkan berlangsung pada 9 Juli 2026 dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat dan pemangku kepentingan dari kedua daerah. MI

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....