Keraton Surakarta Rawat Jejak Leluhur Mataram Lewat Tradisi Tahunan

  • 06 Jul 2026 13:22 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Boyolali - Keraton Surakarta Hadiningrat kembali menggelar tradisi ganti singep atau penggantian penutup makam dan song-song (payung kebesaran) di Pesarean Sinuhun Sri Makurung Handayaningrat, Desa Dukuh, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, Sabtu 4 Juli 2026 malam. Tradisi yang telah berlangsung sekitar dua dekade itu menjadi upaya menjaga kelestarian warisan budaya sekaligus merawat jejak sejarah Dinasti Mataram.

Pengageng Sasana Wilapa Keraton Surakarta Hadiningrat sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA), GKR Koes Moertiyah Wandansari atau Gusti Moeng, mengatakan kegiatan tersebut telah menjadi agenda rutin Keraton Surakarta setiap tahun.

"Keraton Surakarta sudah sekitar dua puluh tahunan melakukan ganti singep, tutup makam, dan song-song di Pesarean Sinuhun Sri Makurung Handayaningrat di Pengging. Kegiatan ini kami laksanakan secara rutin setiap tahun," ujarnya.

Menurut Gusti Moeng, tradisi itu kini semakin mendapat dukungan dari berbagai pihak. Selain pemerintah desa dan kecamatan, Pemerintah Kabupaten Boyolali juga telah mendukung pelaksanaannya, bahkan kegiatan tersebut telah masuk dalam kalender event Kecamatan Banyudono.

"Alhamdulillah setiap tahunnya berjalan lancar. Sekarang sudah masuk kalender event Banyudono dan dalam tiga tahun terakhir mulai didukung oleh Pemerintah Kabupaten Boyolali," katanya.

Ia menjelaskan, prosesi ganti singep bukan sekadar mengganti kain penutup makam maupun payung kebesaran. Tradisi itu merupakan bentuk penghormatan Keraton Surakarta kepada para leluhur yang memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah Mataram.

"Ini merupakan bentuk penghormatan kami kepada para leluhur yang menjadi bagian penting sejarah Mataram," ujarnya.

Gusti Moeng menuturkan, Pesarean Sinuhun Sri Makurung Handayaningrat memiliki arti penting dalam sejarah Jawa. Sosok tersebut merupakan salah satu leluhur Keraton Surakarta yang hidup sebelum berdirinya Kerajaan Pajang dan menjabat sebagai bupati pada masa Kerajaan Majapahit.

"Sinuhun Sri Makurung Handayaningrat merupakan salah satu leluhur kami sebelum Pajang berdiri. Beliau adalah seorang bupati pada masa Majapahit. Artinya, Pengging sudah memiliki pemerintahan sejak zaman Majapahit," ucapnya.

Berdasarkan silsilah yang dimiliki Keraton Surakarta, Sri Makurung Handayaningrat merupakan leluhur raja-raja Mataram melalui putranya, Kebo Kenanga, yang kemudian menjadi ayah dari Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya, pendiri Kerajaan Pajang. Dari garis keturunan tersebut lahir Dinasti Mataram Islam yang kemudian melahirkan Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Kesultanan Yogyakarta Hadiningrat, Kadipaten Mangkunegaran, dan Kadipaten Pakualaman.

Hingga kini, makam Sri Makurung Handayaningrat bersama permaisurinya, Ratu Ratna Pembayun, di Dukuh Malangan, Desa Dukuh, Kecamatan Banyudono, masih menjadi tujuan ziarah masyarakat maupun keluarga besar Keraton Surakarta. Melalui tradisi ganti singep yang digelar setiap tahun, Keraton Surakarta berupaya menjaga kelestarian situs sejarah sekaligus mengenalkan kembali akar sejarah Mataram kepada generasi muda. (Ril/Ase)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....