Bukan Bulan Angker, Bulan Suro Mengajarkan Mawas Diri dan Harapan
- 26 Jun 2026 08:07 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID , Surakarta - Bulan Suro kerap dianggap sebagai bulan yang sakral, bahkan oleh sebagian masyarakat Jawa dipandang sebagai waktu yang perlu dijalani dengan kehati-hatian. Namun, Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret (UNS), Bani Sudardi dalam program Jagongan pada tanggal 19 Juni 2026, menegaskan bahwa pemaknaan Bulan Suro tidak semata-mata berkaitan dengan hal-hal mistis atau angker.
Menurutnya, pandangan tersebut berakar dari sejarah panjang budaya Jawa yang mewarisi tradisi masa Hindu-Buddha. Pada masa itu, pergantian tahun menjadi momentum untuk melakukan perenungan, membersihkan diri, serta mengevaluasi perjalanan hidup sebelum memasuki tahun yang baru.
Tradisi tersebut kemudian berakulturasi dengan ajaran Islam saat Sultan Agung menetapkan penanggalan Jawa yang mengadopsi kalender Hijriah. Bulan pertama yang sebelumnya dikenal sebagai Waitra berubah menjadi Bulan Suro, yang merujuk pada bulan Muharam dalam kalender Islam.
Dalam perspektif Islam, Bulan Muharam justru dikenal sebagai bulan yang mulia dan penuh harapan. Tanggal 10 Muharam atau Asyura diyakini sebagai momentum penting yang berkaitan dengan berbagai peristiwa besar para nabi, termasuk diterimanya tobat Nabi Adam dan keselamatan Nabi Nuh.
Karena itu, Prof. Bani menilai Bulan Suro seharusnya dimaknai sebagai waktu untuk mawas diri sekaligus membangun harapan baru. Nilai tersebut sejalan dengan ajaran Jawa yang menekankan sikap waspada, introspektif, dan tidak berlebihan dalam menyambut pergantian tahun.
Ia juga menjelaskan bahwa tradisi malam satu Suro yang dikenal melalui kirab pusaka sebenarnya bukan sekadar arak-arakan budaya. Tradisi tersebut berakar pada konsep kesiapsiagaan dan laku prihatin yang diwujudkan melalui tapa bisu atau berjalan tanpa berbicara sebagai simbol pengendalian diri.
Di tengah perkembangan zaman, berbagai tradisi Suro terus mengalami perubahan bentuk. Meski demikian, esensi yang terkandung di dalamnya tetap relevan, yakni mengajak masyarakat untuk merenungkan perjalanan hidup, memperbaiki diri, dan menyiapkan langkah yang lebih baik di masa mendatang.
“Bulan Suro adalah kekayaan budaya yang mengajarkan kehati-hatian sekaligus optimisme. Bukan sekadar bulan yang ditakuti, tetapi momentum untuk mawas diri dan menumbuhkan harapan,” ujar Prof. Bani dalam program Jagongan RRI Surakarta. (Hil)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....