Harga Minyak Goreng di Solo Melejit, Pedagang dan UMKM Mulai Tercekik
- 26 Apr 2026 14:25 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Harga sejumlah kebutuhan pokok di pasar tradisional Kota Solo, Jawa Tengah, terus mengalami tren kenaikan. Kenaikan paling signifikan terpantau pada komoditas minyak goreng berbagai merek yang dipicu oleh kelangkaan stok dan tingginya harga bahan baku kemasan.
Berdasarkan pantauan tim RRI di Pasar Induk Legi Solo pada Minggu 26 April 2026, kenaikan harga minyak goreng rata-rata mencapai Rp5.000 per liter. Situasi ini disinyalir merupakan dampak dari melambungnya harga bahan baku plastik kemasan serta pengaruh situasi geopolitik global yang mengganggu rantai pasok.
Salah seorang pedagang sembako di Pasar Legi, Maryani, mengungkapkan bahwa kenaikan terjadi secara bertahap pasca-Lebaran. Menurutnya, mencari stok minyak kemasan saat ini sangat sulit
"Harga minyak mahal, stok tidak ada untuk jenis minyak kemasan dan mencari sangat susah. Naiknya per kardus hampir Rp100 ribu, sehingga jual ecerannya naik Rp4.000 sampai Rp5.000 per botol," ujar Maryani kepada RRI.
Berdasarkan data perbandingan harga yang dihimpun di Pasar Legi Solo; Minyakita Rp15.700 (HET) naik menjadi Rp20.000/liter. Minyak Sanco Rp38.000 naik menjadi Rp48.000/2 liter. Fortune & Bimoli Rp34.000 naik menjadi Rp45.000/2 liter.
Kondisi serupa juga terjadi di Pasar Harjodaksino Solo. Sriyoto, salah satu pedagang setempat, mengaku pasokan minyak subsidi seperti Minyakita kini dibatasi atau dijatah oleh distributor.
"Kalau pasokan Minyakita agak susah, saya dapat dari Indomarco dijatah, tidak bisa beli kardusan. Kami hanya dapat beberapa botol saja, tidak sampai satu kardus, biasanya dipasok seminggu sekali," kata Sriyoto.
Di Harjodaksino harga merek lain seperti Hemat menyentuh angka Rp21.000/liter, sementara merek Fortune dan Sania melonjak tajam ke angka Rp24.000 dari harga sebelumnya Rp17.000 per botol.
Melambungnya harga minyak goreng mulai memukul para pelaku UMKM, khususnya pedagang makanan gorengan. Siti Aminah, seorang pedagang gorengan di kawasan Banjarsari, mengaku harus menyiasati ukuran dagangannya agar tidak merugi.
"Sangat berpengaruh, biasanya laba Rp10.000 sekarang tinggal Rp6.000. Solusinya saya tidak menaikkan harga karena takut pembeli berkurang, tapi ukuran gorengannya saya kurangi sedikit," keluhnya.
Masyarakat dan para pedagang berharap pemerintah segera melakukan intervensi pasar untuk menstabilkan harga dan menjamin ketersediaan stok di pasaran, guna menjaga daya beli masyarakat tetap stabil. (SF/MI)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....