Imbas Harga Plastik Melambung, Harga Minyak Goreng di Solo Terkerek Naik

  • 22 Apr 2026 16:03 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Harga berbagai merek minyak goreng di sejumlah pasar tradisional di Kota Solo mulai mengalami kenaikan signifikan. Kenaikan ini disinyalir merupakan dampak dari melambungnya harga bahan baku plastik untuk kemasan serta pengaruh situasi geopolitik global.

Pantauan rri.co.id di Pasar Harjodaksino, Solo, pada Rabu 22 April 2026, kenaikan harga minyak goreng kemasan botol rata-rata berkisar di angka Rp2.000 per kemasan.

Salah seorang pedagang sembako di Pasar Harjodaksino, Sriyoto, menuturkan bahwa kenaikan harga terjadi secara bertahap dalam sepekan terakhir. Beberapa merek mengalami penyesuaian harga yang cukup bervariasi.

Seperti Merek Hemat (1 liter) dari Rp20.000 naik menjadi Rp21.000. Minyak Rizki dari Rp17.000 naik menjadi Rp19.000. Merek Sanco dari Rp22.000 naik menjadi Rp25.000. Minyak Fortune dari Rp17.000 naik menjadi Rp18.500.

"Kenaikan harga minyak goreng kemasan botol ini kemungkinan dipicu harga plastik yang kian mahal. Selain itu, ada alasan pengaruh perang di Timur Tengah yang berdampak pada distribusi," ujar Sriyoto kepada RRI.

Meskipun harga merangkak naik, Sriyoto mengaku permintaan masyarakat tetap stabil. Hal ini dikarenakan minyak goreng merupakan komoditas pokok yang wajib dipenuhi oleh rumah tangga.

Sementara itu berbeda dengan Harjodaksino, pantauan di Pasar Nusukan menunjukkan harga cenderung "stabil tinggi". Pedagang sembako setempat, Parimin, menjelaskan bahwa harga merek premium seperti Sanco dan Bimoli masih tertahan di angka Rp24.000 per liter.

Sementara itu, untuk minyak bersubsidi pemerintah, permintaannya justru melonjak tajam. Saat ini, MinyaKita di tingkat pedagang dijual pada kisaran Rp16.500 hingga Rp17.000.

"Kami menjual MinyaKita bersubsidi cepat sekali habis. Biasanya pedagang mie ayam langsung ambil satu kardus. Pasokan 10 kardus seminggu sekali bisa habis hanya dalam 10 hari," ucap Parimin.

Kenaikan harga minyak goreng ini mulai membebani para pelaku UMKM, khususnya pedagang makanan penyetan. Sambodo, seorang pemilik warung makan di Solo, mengaku harus memutar otak agar tidak merugi.

Sebagai langkah antisipasi, ia berencana menaikkan harga menu dagangannya sekitar 10 persen.

"Misalnya harga ayam penyetan dari Rp18.000 akan naik sekitar Rp1.800 menjadi Rp19.800 per porsi," ungkap Sambodo.

Ia berharap pemerintah dapat segera melakukan intervensi agar harga minyak goreng kembali stabil, sehingga pedagang kecil tidak perlu terus-menerus menyesuaikan harga jual yang berisiko menurunkan daya beli pelanggan. Siti Fatimah/MI

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....