Hujan di Musim Kemarau Tetap Perlu Diwaspadai

  • 27 Agt 2026 20:24 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, SURAKARTA – Hujan tetap berpotensi turun meski Jawa Tengah sedang memasuki puncak musim kemarau. Fenomena tersebut perlu diwaspadai karena perubahan cuaca dapat memicu bencana hidrometeorologi.

Hal tersebut dibahas dalam Dialog Tanggap Bencana RRI Surakarta, Selasa, 18 Agustus 2026. Program tersebut menghadirkan Giyarto, M.Kom. dari BMKG A. Yani.

Ketua Tim Manajemen Sistem Operasional BMKG A. Yani Semarang, Giyarto, M.Kom., mengatakan hujan tetap dapat terjadi saat kemarau. Namun, intensitas dan frekuensinya cenderung lebih rendah dibandingkan musim penghujan.

“Musim kemarau itu tidak berarti tidak ada hujan. Ada hujan, akan tetapi intensitasnya sangat kecil.” kata Giyarto.

Menurut Giyarto, kondisi kemarau 2026 dipengaruhi fenomena El Nino yang berdampak pada panjangnya musim kering. Kondisi tersebut juga dapat mengurangi curah hujan dan meningkatkan risiko kekeringan.

“Musim kemarau bisa menjadi agak sedikit lebih panjang.” ujar Giyarto. Ia mengatakan berkurangnya hujan turut menyebabkan persediaan air tanah semakin menipis.

Potensi hujan juga berbeda antardaerah karena kondisi geografis dan topografi Jawa Tengah. Wilayah dataran tinggi dan pegunungan memiliki potensi hujan relatif lebih besar.

Giyarto mengatakan masyarakat perlu memahami informasi cuaca untuk mendukung mitigasi bencana. Informasi tersebut juga penting bagi pertanian, transportasi, kesehatan, dan kegiatan masyarakat.

“Dengan kita melek informasi cuaca dan iklim, setidaknya bisa menjadi pegangan kita.” ucap Giyarto.

Memasuki masa pancaroba, masyarakat juga perlu mewaspadai perubahan cuaca yang cepat. Hujan dapat lebih sering terjadi pada sore hingga awal malam dengan intensitas yang bergantung kondisi atmosfer.

Giyarto mengatakan hujan lebat tetap dapat terjadi ketika hujan dalam satu bulan terkonsentrasi dalam beberapa hari. Karena itu, masyarakat perlu mengikuti informasi dan peringatan dini cuaca dari BMKG.

Selain hujan, kondisi kemarau panjang meningkatkan risiko kebakaran lahan dan hutan. Masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran tanpa pengawasan karena kondisi kering membuat api lebih mudah menyebar.

Giyarto juga mengingatkan masyarakat menghemat penggunaan air dan menjaga kondisi tubuh. Cuaca panas dapat meningkatkan risiko dehidrasi, terutama ketika suhu udara meningkat pada September hingga Oktober.

Menurut Giyarto, perubahan dari kemarau menuju hujan juga perlu diwaspadai. Tanah yang mengalami kondisi kering cukup lama dapat lebih mudah tergerus ketika menerima hujan dengan intensitas tinggi.

“Ketika suatu perubahan kondisi cuaca terjadi dengan hujan intensitas yang cukup tinggi, ini juga sangat berbahaya.” kata Giyarto.

Ia mengajak masyarakat tidak panik menghadapi perubahan cuaca. Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dengan memahami informasi cuaca dan menyesuaikan aktivitas.

“Kalau tahun kering, kita mengurangi pembakaran, menggunakan air tanah yang bijaksana, dan menjaga kesehatan tubuh.” ujar Giyarto. (CA)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....