KTNA Sragen Kritik Sekolah Lapang Iklim BMKG, Terlambat-Sasaran Kurang Luas

  • 04 Agt 2026 10:58 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, SRAGEN — Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Sragen memberikan kritik tajam terhadap pelaksanaan Sekolah Lapang Iklim (SLI) yang diselenggarakan oleh BMKG Jawa Tengah bagi perwakilan petani di wilayah Sragen.

Kegiatan sosialisasi cuaca dan pola tanam tersebut dinilai kurang efektif, berpotensi membuang-buang anggaran, serta terlambat dinikmati manfaatnya oleh para petani di lapangan.

Ketua KTNA Sragen, Suratno, mengungkapkan bahwa edukasi mengenai perubahan iklim seharusnya disampaikan jauh sebelum Musim Tanam 3 (MT 3) dimulai. Ia menilai materi pelatihan iklim saat ini sudah tidak berimbas banyak karena mayoritas lahan di Sragen sudah terlanjur ditanami padi.

"Ini kan sudah masuk Agustus, padahal tinggal dua bulan lagi. Bahkan di beberapa wilayah Sragen sudah mulai turun hujan dan hampir semuanya sudah tanam," ujar Suratno, Selasa 4 Agustus.

Menurut Suratno, petani di Sragen pada dasarnya sudah bergerak mandiri sejak jauh hari untuk mengantisipasi fenomena iklim seperti El Nino. Langkah cepat yang diambil petani di antaranya me-rencanakan percepatan masa tanam dengan bibit paketan, memilih varietas benih yang tahan kering serta berumur pendek atau genjah, hingga memaksimalkan pompanisasi secara mandiri.

Selain persoalan waktu yang tidak tepat, KTNA Sragen juga menyoroti metode pelatihan yang hanya melibatkan perwakilan petani. Pola pelatihan terbatas tersebut dianggap tidak menyentuh akar rumput secara utuh karena transfer informasi berhenti di tingkat individu dan tidak menyebar luas.

"Sekolah lapang ini mestinya paling tidak satu desa, syukur-syukur satu kelompok tani satu. Kalau hanya diambil beberapa orang saja, akhirnya informasi tidak menyebar. Yang paling efektif menurut saya ya informasi melalui media sosial, karena teman-teman petani sekarang sudah punya media semua," kata Suratno tegas.

Ia menyarankan agar BMKG mengubah strategi edukasi iklim di masa mendatang dengan pelaksanaan yang lebih berjenjang dan terjadwal jauh sebelum musim tanam tiba.

Meski menilai kegiatan saat ini terkesan formalitas belaka, pihak KTNA tetap berharap pasokan air tanah melalui sumur-sumur dalam milik warga masih mencukupi hingga masa panen MT 3 selesai.

"Ya lebih baik diadakan daripada tidak sama sekali. Tapi kalau untuk sekarang, ibaratnya petani sudah melangkah duluan. Ke depan, sosialisasi seperti ini harus dilakukan jauh-jauh hari," ucap Suratno. MI

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....