SPPG Al Abidin Ditutup Sementara, Pemkot Solo Tunggu Hasil Uji Lab
- 01 Agt 2026 20:22 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Al Abidin di Banyuanyar, Solo, ditutup sementara menyusul munculnya gejala keracunan pada puluhan siswa SDII Al Abidin. Pemerintah Kota Surakarta masih menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan penyebab kejadian tersebut.
Wakil Ketua Satgas Makan Bergizi Gratis (MBG) Kota Surakarta, Purwanti, mengatakan operasional SPPG dihentikan selama proses investigasi berlangsung. Tim telah melakukan pemeriksaan lapangan dan mengambil sejumlah sampel untuk diuji.
“Saat ini memang diberhentikan dulu. Ya, dari SPPG di Banyuanyar 1, itu juga Yayasan Al Abidin sendiri yang mengelola,” katanya, Sabtu 1 Agustus 2026.
Purwanti mengatakan penyebab munculnya gejala keracunan belum dapat disimpulkan berasal dari menu MBG. Hasil penelusuran menemukan tidak seluruh siswa yang mengalami gejala mengonsumsi makanan dari program tersebut.
Selain MBG, tim turut mendalami makanan dari kantin dan air minum yang tersedia di sekolah. Sampel makanan MBG, makanan kantin, hingga air minum telah diambil Dinas Kesehatan Kota Surakarta untuk pemeriksaan laboratorium.
“Karena memang sebagian siswa yang mengalami itu tidak mengonsumsi MBG. Jadi, kita belum bisa memberikan kesimpulan,” katanya.
Purwanti menyebut berdasarkan data terbaru terdapat sekitar 90 siswa yang terdeteksi mengalami gejala. Keluhan yang dialami rata-rata tergolong ringan, seperti mual, muntah, dan sakit perut.
Tiga siswa sempat mendapatkan penanganan di rumah sakit dan seorang lainnya di klinik. Menurut Purwanti, siswa yang mendapatkan perawatan tersebut telah diperbolehkan pulang.
Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Kota Surakarta, Sugeng Riyanto, mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, dan Satgas MBG. DPRD juga melakukan inspeksi ke sekolah untuk mengetahui kondisi di lapangan.
“Ini jadi warning. Meskipun kita belum tahu penyebabnya, apakah karena MBG atau faktor lain, tetapi apa pun ini kita jadikan momentum untuk meningkatkan lagi kehati-hatian,” kataSugeng.
Hasil uji laboratorium terhadap sejumlah sampel diperkirakan paling cepat keluar pada Selasa 4 Juli 2026. Hasil tersebut akan menjadi dasar untuk mengetahui sumber munculnya gejala pada siswa sekaligus menentukan langkah penanganan selanjutnya. (Reza)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....