Musim Kemarau, Damkar Klaten Tangani 71 Kebakaran Sepanjang Juli
- 30 Jul 2026 15:02 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Memasuki musim kemarau, kejadian kebakaran di Kabupaten Klaten menunjukkan peningkatan. Sepanjang Juli 2026, Satpol PP dan Damkar Kabupaten Klaten telah menangani sebanyak 71 kejadian kebakaran, dengan kebakaran lahan menjadi kasus yang paling banyak ditemukan.
Kabid Damkar Satpol PP dan Damkar Kabupaten Klaten, Sumino, S.Sos., M.Si., mengatakan kondisi cuaca panas dan angin kencang membuat api lebih mudah menyebar, terutama ketika masyarakat melakukan pembakaran di lahan terbuka. “Rata-rata disebabkan karena banyak yang membakar lahan. Kemudian dengan situasi seperti ini, perambatan api semakin cepat dan api tidak bisa dikendalikan lagi sehingga dampaknya pada kebakaran yang cukup meluas,” kata Sumino dalam Siaran Tanggap Bencana, Selasa, 28 Juli 2026.
Selain kebakaran lahan, selama Juli Damkar Klaten juga mencatat 13 kejadian kebakaran bangunan. Kasus lainnya meliputi kebakaran rumpun bambu, kendaraan hingga kandang ternak. Kebakaran pada bangunan dinilai memiliki risiko kerugian lebih besar karena langsung berdampak pada harta benda masyarakat.
Salah satu kejadian yang menjadi perhatian adalah kebakaran Pasar Bayat. Damkar menerima laporan dan tiga menit kemudian petugas langsung bergerak menuju lokasi. Namun, saat petugas tiba, api telah meluas karena banyak terdapat material yang mudah terbakar seperti kayu, kertas dan plastik.
Penanganan dilakukan bersama TNI, Polri, BPBD, relawan Kecamatan Bayat dan berbagai unsur lainnya hingga operasi pemadaman selesai sekitar pukul 19.00 WIB. Barang-barang milik pedagang di area los yang terdampak mengalami kerusakan cukup besar. “Kerusakan barang-barang milik pedagang hampir sekitar 80 persen untuk kerusakan di dalam los pasar,” ujarnya.
Menghadapi tingginya potensi kebakaran selama musim kemarau, Damkar Klaten meningkatkan kesiapsiagaan personel dan peralatan. Pemeriksaan alat komunikasi, kendaraan dan perlengkapan pemadaman dilakukan secara rutin. Petugas juga memantau akses menuju lokasi serta ketersediaan sumber air yang dapat berkurang selama musim kemarau.
Damkar turut memetakan wilayah rawan berdasarkan angka kejadian kebakaran tahun sebelumnya. Sejumlah kecamatan tercatat memiliki tingkat kerawanan cukup tinggi, di antaranya Klaten Utara, Ceper, Juwiring, Pedan dan Trucuk.
Selain penanganan, upaya pencegahan dilakukan melalui sosialisasi, pelatihan dan simulasi kepada masyarakat. Edukasi juga menyasar sekolah, perusahaan, rumah sakit, pemerintah kecamatan, unsur TNI hingga masyarakat melalui kegiatan mahasiswa KKN.
Sementara untuk kebakaran rumah tangga, Sumino menyebut terdapat tiga faktor yang cukup sering menjadi penyebab, yakni korsleting atau instalasi listrik yang tidak sesuai standar, penggunaan tungku kayu yang apinya belum benar-benar padam, serta kebocoran kompor atau tabung gas. Masyarakat diminta tidak menunda laporan apabila api sudah tidak dapat dikendalikan.
Menurut Sumino, kecepatan laporan berpengaruh terhadap tingkat kerusakan dan kerugian yang ditimbulkan. “Damkar datang dengan penanganan lebih cepat, otomatis tingkat kerusakan dan tingkat kerugian yang dialami masyarakat bisa kita minimalisir,” katanya.
Dalam penanganan laporan, Damkar Klaten berpedoman pada waktu tanggap 15 menit sejak laporan diterima. Namun, waktu tersebut juga dipengaruhi jarak antara pos pemadam dan lokasi kejadian.
Sumino juga menekankan pentingnya kesiapan masyarakat melakukan penanganan awal saat api masih kecil. Pelatihan dan simulasi diperlukan agar warga tidak panik dan memahami metode pemadaman yang tepat.
Di sisi lain, pelayanan Damkar untuk kondisi darurat tidak dipungut biaya. Masyarakat tidak dikenai biaya atas air, armada maupun personel yang diterjunkan dalam penanganan kebakaran.
Sumino mengingatkan kesiapsiagaan selama musim kemarau tidak hanya menjadi tanggung jawab petugas pemadam kebakaran, tetapi membutuhkan peran seluruh masyarakat. “Di musim kemarau ini hendaklah tidak kami saja yang siaga, tetapi masyarakat saya imbau untuk siaga juga,” ujarnya.
Ia berharap berbagai kejadian kebakaran yang telah terjadi dapat menjadi pelajaran untuk meningkatkan kewaspadaan. Pencegahan perlu dilakukan sejak dini karena kebakaran dapat menimbulkan kerugian harta benda, kerusakan lingkungan hingga mengancam keselamatan jiwa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....