Angka Stunting di Klaten Tembus 13,39 Persen, Program 'Genting' Gencar Digalakkan
- 05 Jun 2026 12:24 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Klaten — Kasus stunting di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, dinilai masih memprihatinkan. Berdasarkan data terbaru hingga April 2026, tercatat angka stunting di wilayah ini mencapai 13,39 persen atau menyasar sebanyak 7.834 anak.
Dari total pemetaan wilayah, Kecamatan Bayat menjadi daerah dengan kasus tertinggi yang menyentuh angka 18,56 persen. Sementara itu, angka terendah berada di Kecamatan Jogonalan dengan persentase 8,3 persen.
Menyikapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten melalui Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan KB (Dissos P3APPKB) menggelar Rapat Koordinasi dan Evaluasi Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) pada Kamis, 4 Juni 2026.
Acara yang berlangsung di Pendopo Kabupaten Klaten ini dihadiri oleh sekitar 200 peserta dari berbagai elemen masyarakat, mulai dari Dharma Wanita, Penggerak PKK, PGRI, hingga perwakilan dunia usaha.
Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan KB (Dinsos P3APPKB) Kabupaten Klaten, Puspa Enggar Hastuti, menjelaskan bahwa program Orang Tua Asuh melalui gerakan 'Genting' merupakan salah satu prioritas utama pemerintah daerah. Program ini bertujuan menggalang kepedulian dan partisipasi aktif dari berbagai pihak untuk memberikan bantuan langsung kepada keluarga yang berisiko stunting.
"Kalau dibandingkan tahun lalu, sebenarnya ada penurunan. Namun demikian, fluktuasi data ini terus bergerak naik turun. Bisa saja sekarang 13,39 persen, dan nanti di bulan Mei (atau bulan berikutnya) menjadi 13,20 persen. Untuk mempercepat penurunan ini, kita optimalkan program Genting," ujar Puspa.
Ia menambahkan, penguatan kolaborasi dan sinergitas lintas sektor menjadi kunci utama agar target penurunan stunting di Kabupaten Klaten dapat tercapai secara efektif.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Klaten, Fahrani Hamenang Wajar Ismoyo, menegaskan bahwa gerakan cegah stunting ini pada hakikatnya adalah gerakan gotong royong berskala besar. Gerakan ini melibatkan berbagai pihak mulai dari BUMN, BUMD, swasta, hingga perguruan tinggi.
Menariknya, Fahrani menekankan bahwa seluruh pendanaan program Genting di Klaten murni bersumber dari swadaya masyarakat, bukan dari anggaran negara.
"Genting ini adalah program prioritas dari Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga. Perlu dicatat, pengumpulan dana Genting ini tidak menggunakan dana APBN atau APBD, jadi murni pengelolaan dana dari masyarakat," kata Fahrani kepada wartawan.
Fahrani memaparkan bahwa target program anak asuh cegah stunting di Jawa Tengah terus ditingkatkan. Pada tahun 2025, target berada di angka 149 ribu anak, dan kini melonjak menjadi kurang lebih 168 ribu anak.
Meski tantangan ke depan cukup besar, capaian program ini di Klaten dinilai sangat luar biasa. Pada tahun lalu, dari target kisaran 4.000 anak, realisasi bantuan yang tersalurkan berhasil menembus angka 7.000-an anak.
"Harapannya ke depan, semua pihak baik sektor swasta maupun perorangan bisa terus berpartisipasi aktif untuk ikut serta mencegah stunting," ujar istri Bupati Klaten itu.
Sebagai bentuk apresiasi, dalam kegiatan koordinasi tersebut Pemkab Klaten juga memberikan penghargaan khusus kepada sejumlah organisasi dan lembaga yang dinilai memiliki kontribusi serta peran tinggi dalam upaya menekan angka stunting di Kabupaten Klaten. Adam Sutanto
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....