Geopolitik Global Goyang Industri di Sragen, DPMPTSP: Sektor Ternak Dilirik PMA

  • 06 Mei 2026 11:28 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, SRAGEN - Ketidakpastian ekonomi global akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai berdampak pada sektor industri di Kabupaten Sragen. Kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat yang hampir menembus angka Rp17.400,- memicu lonjakan harga bahan baku plastik, yang berujung pada efisiensi tenaga kerja di sejumlah perusahaan lokal.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Sragen, Erwan Aditya Sudin, mengungkapkan bahwa konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat di Selat Hormuz menjadi faktor utama melambungnya biaya produksi bagi perusahaan berbasis plastik.

"Perusahaan yang berbahan baku biji plastik pasti terdampak. Contohnya PT Combine Will Industrial yang bergerak di industri boneka, kemudian PT Trus, dan PT Dutavokal Plaxindo. Karena dolar terkerek tinggi, harga bahan baku naik tajam," ujar Erwan saat ditemui di kantornya, Rabu 6 Mei 2026.

Terkait isu pemutusan hubungan kerja (PHK) di pabrik-pabrik tersebut, Erwan menjelaskan bahwa hal itu merupakan kebijakan operasional internal perusahaan. Menurutnya, rata-rata perusahaan yang berorientasi ekspor menggunakan sistem kontrak atau outsourcing.

"Jika kontrak dari supplier atau vendor asing berkurang akibat kondisi global, biasanya tenaga kerja yang habis masa kontraknya tidak diperpanjang. Jadi ini lebih ke masalah operasional kontrak masing-masing perusahaan. Dari sisi iklim investasi secara umum, Sragen sebenarnya masih aman," katanya menambahkan.

Meski diterpa isu global, Pemkab Sragen terus berupaya menjaga daya tarik investasi dengan menyiapkan infrastruktur penunjang. Saat ini, Sragen telah menyiapkan kawasan peruntukan industri seluas 2.113 hektare yang tersebar di 12 kecamatan.

Fokus pengembangan saat ini diarahkan ke wilayah Timur, seperti Gondang dan Sambungmacan. Pemkab berkomitmen meningkatkan kualitas jalan desa atau kecamatan menjadi jalan kabupaten agar mampu menampung mobilitas kontainer besar berukuran 50 kaki.

"Akses jalan setidaknya harus di atas 6 meter untuk simpangan kontainer. Selain jalan dan jembatan, kita juga siapkan penerangan jalan umum (PJU) untuk program glowingsisasi," ujar Erwan.

Di sisi lain, investasi di sektor perumahan dan Penanaman Modal Asing (PMA) skala besar sempat tersendat akibat kebijakan moratorium Lahan Sawah Dilindungi (LSD). Banyak investor yang sudah membeli lahan di zona kuning namun tidak bisa memproses sertifikat karena sistem di pusat mengembalikannya ke zona hijau.

Namun, di tengah moratorium tersebut, sektor peternakan justru menunjukkan geliat positif. Investor asing (PMA) asal Korea dan Taiwan mulai melirik Sragen karena usaha peternakan tidak memerlukan lahan sawah, melainkan tanah tegalan atau kawasan hortikultura yang terhindar dari zona LSD.

"Lucunya, saat sektor lain menahan diri karena LSD, teman-teman PMA di sektor peternakan malah berani masuk. Mereka menggunakan Gis-Designer untuk memetakan titik koordinat yang aman dari LSD. Investasi ini nantinya juga untuk mendukung program nasional Makan Bergizi Gratis sebagai supplier SPBG," kata Erwan.

Meski belum bersedia membeberkan nama perusahaan secara rinci, Erwan memastikan para investor tersebut sudah mulai bergerak mencari lahan di Bumi Sukowati. MI

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....