Harga Plastik "Ugal-ugalan" Imbas Konflik Timur Tengah, UMKM Sragen Tercekik

  • 14 Apr 2026 13:17 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, SRAGEN – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai berdampak nyata hingga ke pelosok daerah. Di Kabupaten Sragen, para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kini menjerit akibat kenaikan harga plastik yang dinilai sudah "ugal-ugalan".

Sektor paling terdampak adalah para pedagang es teh dan minuman yang kesulitan menyesuaikan harga jual di tengah melambungnya biaya produksi.

Salah satu pedagang minuman di samping Masjid Al-Falah Sragen Cak Duma mengakui harga plastik naik signifikan. Harga cup 50 pcs biasanya Rp13.000 kini jadi Rp 25.000.

"Ini ganti harga mas, bukan naik lagi. Bayangkan cup tempat minuman biasanya Rp13.000 naik 100 persen," ucap.Cakadurma, Selasa 14 April.

Meskipun harga plastik naik hampir dua kali lipat, tapi pihaknya enggak berani menaikkan harga es teh. Setiap cup dijual Rp 3.000. Akhirnya keuntungan dia berkurang signifikan.

"Gak berani naik mas, kasihan yang beli di sini anak anak pelajar. Mau untung darimana kalau begini."

Salah seorang warga membeli minuman dalam kemasan plastik di salah satu UMKM di Kabupaten Sragen. (Foto: RRI/Mulato Ishaan)

Kondisi ini mendapat sorotan tajam dari Ketua Fraksi Golkar DPRD Sragen, Pujono Elly Bayu Effendi. Saat diwawancarai wartawan hari ini, sosok yang akrab disapa Bayu ini mengaku merasakan langsung dampak tersebut karena dirinya juga merupakan seorang pengusaha es.

Bayu mengungkapkan bahwa plastik merupakan komponen yang tidak tergantikan dalam budaya konsumsi praktis masyarakat saat ini. Penggunaan plastik sekali pakai hampir mustahil dihindari oleh pedagang kecil.

"Es teh saja pakai plastik, bungkus gorengan pakai plastik. Substitusinya apa? Masyarakat tidak mungkin beli es teh dipincuk (daun pisang). Saya sendiri kena imbasnya karena pekerjaan asli saya pedagang, DPRD itu tugas pengabdian tambahan," ujar Bayu kepada awak media.

Ia memaparkan kenaikan harga plastik yang terjadi saat ini mencapai angka yang fantastis. Plastik yang awalnya di kisaran harga tertentu, sekarang naik sampai 100 persen.

"Saya setiap hari harus membungkus es sekitar 1.000 bungkus, itu langsung terasa. Mau menaikkan harga es dari Rp7.000 ke Rp8.000 saja masyarakat belum tentu mau menerima," keluhnya.

Menyikapi kondisi yang mencekik ini, Bayu mengaku telah menyuarakan aspirasinya kepada pimpinan partai di tingkat provinsi maupun pusat. Ia berharap pemerintah segera turun tangan mengintervensi harga bahan baku plastik yang didominasi oleh pelaku UMKM dan pedagang kaki lima.

"Kemarin Pak Menteri UMKM sudah bersuara untuk berupaya menekan harga plastik agar tidak naik 100 persen. Plastik harus lebih murah dan memihak rakyat kecil karena di Indonesia ini semua sudah serba praktis, tidak bisa kembali ke pincuk daun," kata dia.

Untuk menyiasati kerugian, Bayu terpaksa menaikkan harga di tingkat produksinya, meski tidak setinggi kenaikan bahan baku. "Mau tidak mau naik, tapi mungkin untuk sisi plastiknya 50 persen. Artinya, ini tetap mengurangi margin pendapatan kami karena plastik es atau gelas itu sekali pakai, tidak bisa dikembalikan seperti galon atau botol kaca," kata dia.

Selain masalah plastik, Bayu juga menyoroti kondisi ekonomi global yang tidak stabil sehingga membuat investor ragu menanamkan modal. Di Sragen sendiri, tantangan investasi tidak hanya datang dari luar, tapi juga dari dalam.

"Orang mau investasi di zaman dunia tidak stabil ini takut. Di Sragen pun sulit karena masyarakat belum sepenuhnya paham kelebihan investasi. Selain itu, Sragen didominasi oknum-oknum yang mempermainkan harga tanah dan lingkungan. Ini menjadi kendala besar bagi investor," ucap Bayu.

Berbeda dengan sektor manufaktur atau investasi besar, sektor perumahan di Sragen terpantau masih stagnan. "Untuk perumahan, harga beli turun, progresnya masih biasa saja, tidak ada kenaikan atau penurunan yang signifikan," katanya. MI

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....