Harga Minyakita Tembus Rp20 Ribu, Bulog Jateng Siap Gelar Operasi Pasar
- 02 Mei 2026 08:02 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, SRAGEN – Menyikapi kelangkaan dan melonjaknya harga minyak goreng bersubsidi Minyakita yang di pasaran mencapai Rp20.000 per kemasan, Perum Bulog Kantor Wilayah (Kanwil) Jawa Tengah menyiapkan langkah intervensi. Bulog berencana melakukan operasi pasar untuk menekan harga agar kembali stabil sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET).
Rencana tersebut disampaikan oleh Kepala Kantor Wilayah Perum Bulog Jawa Tengah, Sri Muniati, saat meninjau ketersediaan stok di Gudang Bulog Duyungan, Sidoharjo, Kabupaten Sragen, pada Kamis 30 April lalu.
Sri Muniati menjelaskan bahwa saat ini Bulog tengah fokus menyalurkan bantuan pangan, yang di dalamnya mencakup komoditas beras dan minyak goreng. Stok yang ada dipastikan cukup memadai untuk memenuhi pagu penyaluran bantuan pangan tersebut.
“Di samping untuk kebutuhan penyaluran bantuan pangan, Minyakita dari Bulog ini juga disalurkan ke pengecer-pengecer di pasar rakyat, khususnya Pasar Pemanton SP2KP. Harapannya, harga Minyakita akan lebih terkendali dan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat luas,” ujar Sri Muniati.
Terkait mekanisme harga, Sri menegaskan bahwa Bulog berupaya memotong mata rantai distribusi yang terlalu panjang guna menjaga harga di tingkat konsumen. Bulog menjual produk ke pengecer mitra dengan harga Rp14.500 per kemasan. "Jadi pengecer wajib menjualnya ke masyarakat dengan harga maksimal Rp15.700 sesuai ketentuan HET," ucap dia.
Menanggapi fakta di lapangan di mana harga Minyakita kerap melambung hingga Rp20.000 per kemasan, Sri Muniati mengakui adanya kendala pada pola distribusi. Menurutnya, saat ini peran Bulog dalam pendistribusian Minyakita masih terbatas.
“Problem dari Minyakita ini adalah distribusinya. Bulog sendiri hanya mendapatkan kuota 70% dari 35% pasar Domestic Market Obligation (DMO) dari seluruh produsen minyak goreng,” katanya menegaskan.
Ia menambahkan, saat ini sebagian besar distribusi atau sekitar 65% Minyakita masih disalurkan melalui jaringan distributor produsen. Kondisi inilah yang membuat pasokan ke pasar rakyat terkadang tidak kontinu.
Menindaklanjuti persoalan ini, Sri menyebut bahwa Direktur Utama Bulog telah mengajukan usulan kepada pemerintah untuk penambahan kuota Minyakita bagi Bulog. Pihaknya optimistis, jika Bulog mendapatkan kuota yang lebih besar dan menguasai stok secara memadai, maka pasokan ke pasar akan lebih kontinu dan harga di tingkat pengecer dapat tetap terjaga sesuai aturan.
"Kami yakin kalau kita menguasai stok Minyakita secara memadai, kita tentunya akan bisa menjaga pasokan secara lebih kontinu ke pasar," katanya.

Diberitakan sebelumnya, kelangkaan minyak goreng subsidi program pemerintah, Minyakita kian meresahkan warga di Kabupaten Sragen. Tak hanya harganya yang melambung jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET), keberadaan stoknya kini mulai sulit ditemukan atau "gaib" di pasar-pasar tradisional.
Berdasarkan pantauan di Pasar Bunder, Sragen para pedagang mengaku sudah lama tidak mendapatkan pasokan Minyakita. Kondisi ini memaksa masyarakat beralih ke minyak goreng kemasan bermerk dengan harga yang jauh lebih mahal.
Ibu Rusmini, salah satu pedagang sembako di Pasar Bunder, mengungkapkan bahwa pasokan Minyakita sudah terhenti cukup lama. Menurutnya, hilangnya produk tersebut dari lapak-lapak pedagang sudah terjadi sejak masa persiapan Lebaran lalu.
"Minyakita enggak ada. Sudah lama sekali kosong, sejak mau Lebaran itu. Sampai sekarang sales-nya juga sudah tidak datang lagi. Padahal waktu musim parsel kemarin, banyak yang cari tapi barangnya memang tidak ada," ujar Rusmini saat ditemui di kiosnya, Selasa 28 April.
Ia menambahkan, jika pun barang tersebut tersedia di distributor, harganya sudah tidak masuk akal. Satu karton Minyakita menyentuh angka Rp230.000 hingga Rp250.000. Secara hitungan kasar, harga per liternya bisa mencapai Rp19.000 hingga Rp20.000, jauh melampaui aturan harga subsidi.
Keresahan pedagang dan pembeli tidak berhenti di minyak goreng. Rusmini membeberkan bahwa harga plastik kemasan melonjak drastis hingga 100 persen. Kenaikan ini berdampak domino pada harga kebutuhan lain yang harus dikemas ulang.
Tak hanya dua komoditas tersebut, harga Tepung Beras (500g) Naik dari Rp7.500 menjadi Rp8.500. Gula Pasir Curah Naik dari Rp18.000 menjadi Rp19.000 per kilogram.
Minyak Kemasan Merk Lain Harga per karton (isi 12 liter) berkisar antara Rp250.000 hingga Rp265.000 (seperti SunCo dan Fortune).
"Semua yang dibungkus plastik naik modalnya, biasanya naik sekitar Rp2.000 per kemasan karena harga plastiknya sendiri naik dua kali lipat," ujar Rusmini. MI
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....