Wisata Candi Bajang Ratu Jadi Ruang Belajar Sejarah Majapahit

  • 08 Agt 2026 20:14 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Mojokerto – Di tengah hamparan kawasan bersejarah Trowulan, Kabupaten Mojokerto, berdiri megah Candi Bajang Ratu, salah satu peninggalan penting Kerajaan Majapahit yang hingga kini terus menarik perhatian wisatawan dari berbagai daerah. Tidak sekadar menjadi tempat berfoto, candi bercorak bata merah itu menjelma menjadi ruang belajar terbuka yang mempertemukan masyarakat dengan jejak peradaban masa lalu Indonesia.

Sejak pagi ini, Sabtu, 8 Agustus 2026, pengunjung tampak silih berganti memasuki kompleks cagar budaya tersebut. Dengan tiket masuk sebesar 5 ribu hingga 10 ribu rupiah per orang, pengunjung sudah bisa berkeliling ke area candi berada di tengah taman.

Candi Bajang Ratu dikenal sebagai gapura paduraksa peninggalan era Majapahit yang diperkirakan dibangun pada abad ke-14. Bangunan setinggi lebih dari 16 meter itu dipercaya berkaitan dengan penghormatan terhadap Raja Jayanegara, raja kedua Majapahit. Keindahan arsitektur bata merah dengan detail ukiran yang masih terlihat jelas menjadi daya tarik utama bagi pengunjung yang ingin memahami kebesaran kerajaan Nusantara pada masa lampau.

Bagi banyak wisatawan, pengalaman melihat langsung bangunan berusia ratusan tahun memberikan kesan berbeda dibanding sekadar membaca buku sejarah. Hal itu dirasakan oleh Fani, siswi kelas 1 sekolah dasar yang datang bersama keluarganya. Dengan wajah antusias, Fani mengaku senang dapat berkunjung ke Candi Bajang Ratu karena ia bisa melihat langsung peninggalan yang selama ini diceritakan gurunya di sekolah.

“Aku senang bisa wisata ke Candi Bajang Ratu. Di sekolah Bu Guru cerita tentang kerajaan dan candi, sekarang aku bisa melihat langsung bentuk candinya. Jadi aku lebih mengerti cerita pelajaran sejarah,” ujar Fani sambil menunjuk bangunan candi.

Menurut Fani, kunjungan tersebut membuat pelajaran sejarah terasa lebih nyata dan menyenangkan. Ia berharap dapat mengunjungi situs sejarah lainnya agar bisa belajar lebih banyak tentang masa lalu Indonesia.

Antusiasme anak-anak seperti Fani menunjukkan bahwa wisata sejarah memiliki peran penting dalam pendidikan karakter dan kebudayaan. Pengalaman belajar langsung di lapangan dinilai mampu menumbuhkan rasa ingin tahu, kecintaan terhadap sejarah bangsa, serta kesadaran untuk menjaga warisan budaya.

Fani dan Phio saat berwisata ke Candi Bajang Ratu. Sabtu, 8 Agustus 2026.

Sementara itu, salah seorang pengunjung dewasa, Narno Purnomo juga menilai Candi Bajang Ratu sangat tepat dijadikan destinasi wisata keluarga. Ia sengaja mengajak cucu-cucunya berkunjung agar mereka tidak hanya mengenal sejarah dari buku pelajaran.

“Ketika anak-anak melihat sendiri bangunan peninggalan Majapahit, mereka lebih mudah membayangkan bagaimana kehidupan masyarakat pada masa itu. Wisata seperti ini sangat edukatif,” katanya.

Selain nilai sejarahnya, kawasan Candi Bajang Ratu menawarkan suasana yang tenang dan asri. Banyak pengunjung memanfaatkan area sekitar candi untuk berjalan santai sambil menikmati arsitektur kuno yang masih terjaga. Selain itu, fasilitas di sekitar candi juga memadai. Seperti mushola, toilet hingga tempat cuci tangan dan kaki.

Keberadaan Candi Bajang Ratu tidak dapat dipisahkan dari kawasan Trowulan yang dikenal sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Majapahit. Bersama situs-situs lain di sekitarnya, candi ini menjadi bagian penting dari upaya pelestarian warisan budaya nasional dan pengembangan wisata sejarah di Jawa Timur.

Pengelola kawasan terus mengingatkan pengunjung untuk menjaga kebersihan dan kelestarian situs. Wisatawan juga diimbau tidak memanjat bangunan candi, tidak mencoret dinding, serta mematuhi aturan yang berlaku demi menjaga keutuhan cagar budaya tersebut.

Di tengah derasnya arus wisata modern, Candi Bajang Ratu membuktikan bahwa destinasi sejarah tetap memiliki daya tarik kuat. Bukan hanya sebagai saksi bisu kejayaan Majapahit, tetapi juga sebagai tempat belajar yang hidup bagi generasi muda. Dari langkah kecil seorang siswa sekolah dasar yang kagum melihat candi untuk pertama kalinya, harapan akan tumbuhnya kecintaan terhadap sejarah bangsa tampak menemukan ruangnya di situs berusia ratusan tahun itu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....