Bahasa Surabaya Cerminkan Karakter Warga yang Blakasuta

  • 07 Okt 2026 05:04 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya- Bahasa khas Surabaya tidak sekadar menjadi alat komunikasi sehari-hari, tetapi juga mencerminkan karakter masyarakatnya yang dikenal lugas, tegas, terbuka, dan mudah akrab. Ragam bahasa ini menjadi bagian dari identitas budaya yang terus hidup di tengah masyarakat Kota Surabaya.

Bahasa Surabayaan merupakan salah satu ragam dialek Jawa Timur yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Surabaya dan sekitarnya. Penggunaannya identik dengan gaya bicara yang langsung, cepat, dan penuh energi, dengan sejumlah kosakata khas seperti “wis”, “gak”, “lungo”, “mangan”, “neng”, “ndi”, hingga “ra opo-opo”.

Pecinta Budaya Nusantara, Ries Handono, mengatakan, karakter bahasa Surabaya tidak dapat dilepaskan dari karakter masyarakatnya yang terbuka dan apa adanya. Menurutnya, cara berbicara warga Surabaya menunjukkan kedekatan sosial sekaligus keberanian menyampaikan pendapat.

“Orang Surabaya itu dikenal blakasuta. Apa yang ada di hati, biasanya disampaikan melalui ucapan. Jadi bukan berarti kasar, tetapi lebih kepada keterusterangan dan kejujuran dalam berkomunikasi,” ujar Ries. Selasa, 6 Oktober 2026.

Istilah blakasuta sendiri dalam budaya Jawa memiliki makna terus terang, jujur, lugas, dan apa adanya. Sikap tersebut menggambarkan keselarasan antara hati, ucapan, dan perbuatan, sehingga seseorang tidak menggunakan topeng atau berpura-pura di hadapan orang lain.

Menurut Ries, penggunaan bahasa Surabaya juga menunjukkan kedekatan antarmasyarakat. Sapaan seperti “aku” dan “kowe” di antara orang yang sebaya, misalnya, tidak selalu dimaknai sebagai bentuk ketidaksopanan. Dalam konteks tertentu, justru menunjukkan keakraban dan hubungan sosial yang dekat.

Meski demikian, masyarakat Surabaya tetap mengenal tata krama ketika berbicara dengan orang yang lebih tua atau dihormati. Penggunaan bahasa yang lebih halus seperti “kulo” dan “panjenengan” dapat digunakan dalam situasi tertentu, terutama ketika berbicara dengan tokoh masyarakat maupun dalam acara resmi.

Ia menambahkan, karakter blakasuta perlu dipahami sesuai konteks dan tidak disamakan dengan berbicara kasar. “Blakasuta itu bukan berarti bebas berkata semaunya. Ada nilai kejujuran, keberanian, dan kesetiaan di dalamnya. Tegas boleh, tetapi tetap harus menghormati orang lain,” katanya.

Keberadaan bahasa khas Surabaya menjadi bagian penting dari kekayaan budaya lokal yang perlu terus dikenalkan kepada generasi muda. Di tengah perkembangan bahasa populer dan komunikasi digital, bahasa Surabayaan dapat tetap hidup sebagai identitas sekaligus cermin karakter masyarakat Surabaya yang lugas, hangat, berani, dan blakasuta.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....