Upaya Menjaga Kedaulatan Bahasa, Budi Utomo Susun Bausastra Arab-Jawa

  • 01 Okt 2026 14:20 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya — Fenomena pencampuran bahasa atau gado-gado dalam tutur kata masyarakat modern kian marak terjadi. Tak sedikit kosakata bahasa daerah yang perlahan tergeser dan terancam punah akibat tingginya penggunaan istilah asing maupun bahasa serapan dalam interaksi sehari-hari.

Merespons keresahan tersebut, Program Sinau Basa Jawa Pro 4 RRI Surabaya menghadirkan dialog interaktif membahas pentingnya pemeliharaan kedaulatan bahasa melalui penyusunan kamus atau Bausastra Arab-Jawa, Kamis 1 Ontober 2016

Terhubung sebagai narasumber, Ketua DPW Persatuan Pambiwara Indonesia (PEPARI) Jawa Timur, Rahmad Budi Utomo yang akrab disapa Cak Budi mengungkapkan bahwa proyek penyusunan Bausastra Arab-Jawa ini berawal dari keinginan untuk melestarikan bahasa Jawa lokal sekaligus menjaga kemurnian tutur kata di tengah masyarakat.

Cak Budi menjelaskan bahwa saat ini banyak masyarakat Jawa, termasuk para pembawa acara (pambiwara), yang tanpa sadar mengganti kosakata bahasa Jawa dengan istilah asing atau serapan yang sebenarnya sudah memiliki padanan kata yang pas dalam bahasa Jawa.

"Banyak bahasa Jawa yang tercampur dengan bahasa lainnya, jadi bahasa gado-gado. Ada campuran bahasa Melayu, Inggris, hingga bahasa Arab. Padahal, bahasa Arab ini sebagian besar sudah memiliki padanan kata dalam bahasa Jawa," ujar Cak Budi dalam siaran Sinau Basa Jawa di Pro 4 RRI Surabaya.

Ia mencontohkan penggunaan sebutan dalam keluarga seperti abi dan ummi yang kian masif menggeser istilah lokal. "Bahasa Jawa kan sudah punya kata bapak, ibu, simbok, embo, atau emak. Karena ikut-ikutan, kata-kata asli ini pelan-pelan tersingkir dan lama-kelamaan bisa hilang. Lewat Bausastra ini, kalau sudah ada padanan bahasa Jawanya, tidak perlu memakai bahasa asing lagi," tegasnya.

Hingga saat ini, proses penyusunan kamus tersebut masih terus berjalan secara bertahap. Cak Budi bersama timnya aktif berdiskusi dan berembuk untuk membedah kosakata yang sering digunakan masyarakat guna ditemukan padanan bahasa Jawanya yang paling tepat.

"Hitungan saya sudah terkumpul hampir 3.000 kosakata. Ini bukan mengartikan seluruh kamus bahasa Arab ke bahasa Jawa, melainkan fokus pada kata-kata yang biasa dan sering didengarkan dalam kehidupan sehari-hari," kata Ketua PEPARI Jatim tersebut. Contoh lain yang disoroti adalah kata ustaz yang dalam bahasa Jawa sejatinya berpadanan dengan kata guru, serta kata marhaban atau ahlan wa sahlan yang memiliki arti sugeng rawuh (selamat datang).

Guna menjaga ketepatan makna tanpa merusak esensi aslinya, Cak Budi menerapkan metode pembedahan tata bahasa (ilmu sharaf) dari kata dasar bahasa Arab sebelum menentukan sinonimnya dalam bahasa Jawa. Menurutnya, mencari padanan kata yang presisi menjadi tantangan terbesar dalam proses penyusunan Bausastra ini.

"Bahasa Arab itu berasal dari kata kerja yang mengalami perubahan (sharaf). Contohnya kata marhaban yang berasal dari kata dasar ra-hu-ba yang artinya menyambut. Jadi tidak hanya melihat kamus terjemahan langsung, tetapi dipreteli dulu kata dasarnya, baru dicarikan sinonim bahasa Jawa yang paling pas," paparnya merespons pertanyaan pendengar.

Proyek Bausastra Arab-Jawa ini ditargetkan untuk dimanfaatkan secara internal terlebih dahulu oleh para pambiwara dan pecinta budaya Jawa sebagai panduan tutur (guidance) dalam membawakan acara agar terhindar dari pemakaian bahasa yang campur aduk. Setelahnya, kamus ini secara bertahap akan disebarluaskan kepada masyarakat umum.

Di akhir dialog, Cak Budi menegaskan bahwa penyusunan kamus ini bukan sekadar urusan translasi kata, melainkan bagian dari menjaga kedaulatan dan sikap berbahasa. "Kedaulatan bahasa adalah pilar kebangsaan dan cermin peradaban yang menentukan identitas serta martabat bangsa. Jika kita berbicara bahasa Jawa, hendaknya kita menjaga kemurniannya agar identitas budaya kita tetap berdaulat," katanya mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....