Agama Berperan Penting dalam Menjaga Kesehatan Mental
- 05 Okt 2026 06:17 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Agama memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan mental karena menjadi pedoman manusia dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Agama tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT, tetapi juga memberikan tuntunan agar seseorang mampu menerima kenyataan, mengendalikan diri, memperoleh ketenangan, dan tetap memiliki harapan saat menghadapi ujian.
Hal tersebut disampaikan Pimpinan Pesantren dan Panti Asuhan Mitra Arafah Surabaya, Ustadzah Haniah, dalam program Mutiara Pagi PRO 1 RRI Surabaya, Senin 5 Oktober 2026, dengan tema “Peranan Agama dalam Kesehatan Mental”.
Ustadzah Haniah mengatakan, agama memberikan pegangan agar manusia memiliki arah dalam menjalani kehidupan. Karena itu, umat Islam perlu mensyukuri nikmat iman dan Islam serta menjadikan ajaran agama sebagai pedoman dalam menghadapi berbagai persoalan.
“Kita beragama agar hidup kita tidak kacau. Kita bersyukur bahwa kita beragama karena kehendak Allah agar hidup kita lebih baik,” ujar Ustadzah Haniah.
Menurut Ustadzah Haniah, agama memiliki hubungan erat dengan kesehatan mental karena dapat menjadi benteng pengendali sekaligus sarana terapi dalam menghadapi tekanan kehidupan. Ia mengutip pemikiran Prof. Dr. Hj. Zakiah Daradjat, psikolog Muslim dan pendidik yang banyak mengkaji psikologi agama serta kesehatan mental, mengenai peran agama dalam menjaga kesehatan jiwa.
“Dr. Zakiah Daradjat menuliskan bahwa agama itu berfungsi sebagai benteng pengendali dan sarana terapi penyembuhan yang efektif serta pencegah gangguan mental. Jadi agama ini mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan kita, termasuk dalam kesehatan mental,” jelas Ustadzah Haniah.
Ustadzah Haniah menjelaskan, agama memiliki sejumlah peran dalam menjaga kesehatan mental. Pertama, agama menjadi sarana penyembuhan dan pencegahan. Kepatuhan terhadap ajaran agama, menurutnya, dapat membantu seseorang menerima kenyataan hidup dan menghadapi tekanan tanpa mudah terjebak dalam stres maupun keputusasaan.
Kedua, agama memberikan ketenangan batin. Ustadzah Haniah mengingatkan, kehidupan dunia tidak terlepas dari ujian sehingga persoalan perlu dihadapi dengan kesabaran dan tetap mendekatkan diri kepada Allah SWT.
“Dunia ini bukan tempat senang, tetapi tempat ujian. Jadi ketika kita menghadapi masalah, kita harus menyadari bahwa hidup ini memang ada ujiannya dan kita harus menghadapinya dengan sabar serta tetap dekat kepada Allah,” tuturnya.
Hal tersebut sejalan dengan Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 155 yang menjelaskan bahwa manusia akan diuji dengan berbagai bentuk ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan hasil kehidupan. Ayat tersebut juga memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang sabar.
Ketiga, agama menjadi pedoman hidup. Bagi umat Islam, pedoman tersebut bersumber dari Al-Qur’an yang memberikan petunjuk dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Ustadzah Haniah mengingatkan agar Al-Qur’an tidak hanya dibaca, tetapi juga dipahami dan diamalkan.
Al-Qur’an Surat Al-Isra ayat 82 menyebut Al-Qur’an sebagai penyembuh dan rahmat bagi orang-orang beriman. Sementara Surat Ar-Ra’d ayat 28 menegaskan bahwa hati menjadi tenteram dengan mengingat Allah SWT.
Keempat, agama menjadi sarana meningkatkan ketakwaan. Ustadzah Haniah mengatakan, semakin dekat hubungan seseorang dengan Allah, semakin kuat pula pegangan yang dimilikinya ketika menghadapi persoalan.
“Kalau ketakwaan kita meningkat, hubungan kita dengan Allah juga semakin dekat. Dengan begitu, ketika menghadapi persoalan hidup, kita tidak mudah putus asa karena kita yakin ada Allah yang selalu bersama kita,” ujarnya.
Kelima, ibadah menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah sekaligus memperoleh ketenangan, salah satunya melalui salat. Ustadzah Haniah mengatakan, salat yang dilakukan dengan khusyuk dapat menjadi ruang untuk menyampaikan persoalan kepada Allah dan memohon pertolongan-Nya.
“Ketika kita salat, kita sedang menghadap Allah, menyampaikan segala persoalan kita kepada Allah dan memohon pertolongan-Nya. Jadi salat itu sangat penting untuk ketenangan jiwa kita,” kata Ustadzah Haniah.
Hal tersebut antara lain tercermin dalam hadis riwayat Abu Dawud Nomor 4985 yang memuat ungkapan Nabi Muhammad SAW kepada Bilal agar salat menjadi sarana memperoleh ketenangan.
Keenam, agama mengajarkan manusia untuk berdoa. Menurut Ustadzah Haniah, doa merupakan bentuk pengakuan manusia atas kelemahan diri sekaligus ketergantungannya kepada Allah SWT.
“Doa jangan hanya dilakukan ketika kita sedang mempunyai masalah, tetapi dalam keadaan apa pun kita harus selalu berdoa kepada Allah,” ungkapnya.
Dalam hadis riwayat Abu Dawud Nomor 1479, Nabi Muhammad SAW menyebut doa sebagai ibadah.
Ustadzah Haniah menegaskan, manusia tidak akan terlepas dari persoalan dan ujian kehidupan. Karena itu, agama dapat menjadi pegangan agar seseorang tidak mudah kehilangan arah dan harapan ketika menghadapi kesulitan.
“Ketika kita mempunyai agama, kita mempunyai pegangan. Kita tahu kepada siapa kita harus meminta pertolongan, bagaimana menghadapi ujian, bagaimana menerima kenyataan dan bagaimana tetap mempunyai harapan,” ujar Ustadzah Haniah.
Ia menambahkan, mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah, doa, kesabaran, dan ketakwaan dapat menjadi bagian dari ikhtiar menjaga ketenangan jiwa. Sementara persoalan kesehatan mental yang membutuhkan penanganan lebih lanjut tetap perlu mendapatkan bantuan dari tenaga profesional.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....