Membaca Kota lewat Material dan Karya Seni: Seniman Berbagi Kisah di Galeri DKS
- 04 Okt 2026 21:57 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya — Dewan Kesenian Surabaya (DKS) kembali menghadirkan ruang dialektika seni yang hangat dan bernas melalui diskusi seni rupa bertajuk "Membaca Kota Lewat Material dan Karya Seni". Diskusi ini berlangsung di Galeri DKS pada Sabtu malam, 3 Oktober 2026, mulai pukul 18.00 WIB. Dipandu oleh seniman senior Agus Koecink sebagai moderator, acara ini menghadirkan dua perupa kenamaan Surabaya, Bagas Karunia Putra dan Agung Tato, sebagai narasumber utama.
Sesi pemaparan dibuka dengan memori masa kecil Bagas Karunia Putra yang tak lepas dari denyut jantung Kota Surabaya. Mengenyam pendidikan dasar di SD Simpang tepat di depan Gedung Negara Grahadi Bagas kecil saban hari berjalan kaki menuju rumahnya di Kampung Genteng dengan melintasi kompleks Balai Pemuda.
Dari ritme harian itulah ia mulai mengenal keberadaan Akademi Seni Rupa Surabaya (Aksera). Ketertarikannya pada dunia visual mendorongnya mengikuti kursus melukis Sekolah Minggu usai Aksera nonaktif. Kiprahnya berlanjut hingga jenjang SMA, di mana karyanya mulai tampil dalam berbagai pameran di Loka Seni dan Galeri DKS.
Memasuki bangku perkuliahan seni rupa di IKIP Negeri Surabaya (kini Unesa), Bagas mulai mengembangkan gaya berkarya dekoratif dan aktif dalam komunitas Holopis Kuntul Baris. Kelompok ini dikenal ekstrem karena menantang para anggotanya menciptakan lukisan berskala raksasa hingga ukuran 4 x 7 meter. Lingkaran kreatif tersebut dihuni oleh jajaran seniman kenamaan seperti Koeboe Sarawan, S. Yadi, Dadang Rukmana, Sugiarso Widodo, Gatot Pujiarto, hingga Slamet Hendro Kusumo.
Namun, titik balik terpenting dalam perjalanan artistik Bagas terjadi pada pameran tahun 2000 di Balai Pemuda. Saat gelaran lelang berlangsung, karya seni rupa kinetik milik Bagas tidak dimasukkan dalam daftar lelang. Bahkan, mekanismenya diminta untuk disajikan agar dentang bunyinya tidak mengganggu jalannya lelang. Peristiwa tersebut menjadi pemantik kuat yang mengubah arah kreativitasnya secara mendasar.
"Sejak saat itulah saya tertantang untuk menekuni seni rupa kinetik hingga saat ini," tegas Bagas di hadapan para peserta diskusi.
Bagi Bagas, seni rupa kinetik (Kinetic Art) bukan sekadar mengejar gerak visual atau mekanik, melainkan medium ekspresi yang utuh. Dalam genre ini, unsur gerak menjadi elemen utama baik secara mekanis maupun ilusi optik yang kerap berpadu harmonis dengan unsur bunyi sebagai bagian integral dari karya.
Guna menghidupkan karya kinetiknya, Bagas konsisten memanfaatkan material bekas dan limbah dari pasar loak. Ia bahkan kerap berburu ke "Pasar Maling" pada pukul 03.00 dini hari dengan berbekal senter untuk memilah barang-barang terbuang. Kebiasaan mengumpulkan material bekas ini juga diakui oleh Agung Tato. Dosen STKW Surabaya tersebut memiliki kegemaran mengoleksi majalah lawas, buku tua, hingga kaset bekas.
Bagi Agung, benda-benda rongsokan sering dianggap sampah oleh lingkungan sekitar sehingga perlu ruang khusus agar tidak dibuang. Namun, ia menekankan agar proses perakitan limbah tidak sekadar terjebak pada keterampilan teknis semata. "Kita harus menghapus jejak sejarah limbah itu sehingga menjadi karya seni baru," tutur Agung.
Diskusi makin berbobot dengan kehadiran dua kurator Artsubs, Nirwan Dewanto dan Asmujo Irianto, yang memicu pembahasan meluas hingga ke ranah kritis. Pada penghujung acara, perdebatan merebak saat para peserta membedah pemaknaan pameran Artsubs sebagaimana yang sempat dilontarkan oleh Ketua DKS, Chrisman Hadi. Karya Agung Tato dan Bagas Karunia Putra saat ini tengah dipajang dalam pameran Artsubs yang berlangsung hingga 8 November mendatang, sementara karya kinetik Bagas juga dapat dinikmati di Pameran Titik Temu di Galeri DKS hingga Minggu 4 Oktober 2026.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....