Medsos Jadi Ruang Adu Domba, Akademisi Unesa Ingatkan Ancaman Persatuan

  • 02 Okt 2026 14:45 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Perdebatan di media sosial kini tak jarang berubah menjadi pertarungan emosi. Unggahan bernada provokatif dapat dengan cepat memancing ribuan komentar yang berisi makian, tuduhan, hingga saling serang antarkelompok.

Kondisi tersebut menjadi tantangan baru bagi persatuan masyarakat. Ruang digital yang semestinya menjadi tempat bertukar informasi dan gagasan justru berpotensi menjadi ruang tumbuhnya polarisasi serta konflik sosial.

Pakar sejarah Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Rojil Nugroho Bayu Aji, menilai fenomena tersebut perlu menjadi perhatian, khususnya dalam momentum Peringatan Hari Kesaktian Pancasila. Menurutnya, bentuk ancaman terhadap persatuan bangsa telah berubah seiring perkembangan zaman.

"Secara historis, Peringatan Hari Kesaktian Pancasila selalu mengingatkan kita pada dasar negara yang menyatukan. Namun persatuan itu semakin terancam, dan ancaman itu tidak lagi datang dalam bentuk senjata, melainkan bersembunyi di balik kolom komentar dan algoritma media sosial," katanya, Jumat, 2 Oktober 2026.

Rojil melihat tingginya tensi perdebatan di ruang digital sebagai salah satu tanda yang perlu diwaspadai. Perbedaan pandangan yang seharusnya menjadi bagian dari dinamika demokrasi dapat berkembang menjadi permusuhan ketika masyarakat mudah terpancing oleh narasi yang memecah belah.

"Bahaya terbesar saat ini adalah ketika polarisasi atau pembelahan masyarakat sengaja dipelihara di media sosial. Orang begitu mudah membenci sesama anak bangsa hanya karena beda pandangan politik atau pilihan. Jika ini dibiarkan, kita sedang menggali lubang perpecahan kita sendiri," kata akademisi yang juga aktif sebagai Koordinator Bonek Surabaya tersebut.

Menurut Rojil, peringatan Pancasila tidak cukup dimaknai melalui kegiatan seremonial maupun hafalan. Nilai-nilai Pancasila perlu diterjemahkan ke dalam perilaku sehari-hari, termasuk ketika masyarakat beraktivitas di media sosial.

Sila kemanusiaan, misalnya, dapat menjadi dasar dalam berinteraksi di ruang digital. Pengguna media sosial perlu menghindari perilaku menghina, merundung, maupun menghujat orang lain hanya karena adanya perbedaan pandangan.

Nilai persatuan juga dapat diwujudkan dengan membangun interaksi yang saling mendukung dan menguatkan. Media sosial, menurutnya, semestinya tidak digunakan untuk menyebarkan hoaks maupun narasi yang sengaja mempertentangkan kelompok masyarakat.

Sementara itu, semangat musyawarah dapat diterapkan melalui kebiasaan berdiskusi secara sehat. Perbedaan pendapat tidak semestinya menjadi alasan untuk saling menuduh atau menyerang.

Rojil juga menyoroti peran generasi muda dan mahasiswa dalam menjaga suasana ruang digital. Kelompok yang sangat aktif menggunakan media sosial tersebut dinilai memiliki posisi penting dalam menentukan apakah ruang digital berkembang menjadi arena konflik atau menjadi ruang pertukaran gagasan yang sehat.

"Anak muda jangan mau dimanfaatkan oleh narasi-narasi provokatif. Jadilah pemutus rantai perpecahan dengan membangun diskusi yang rasional, menghargai keberagaman pandangan, dan menjaga agar ruang digital kita tetap adem," tuturnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....