Patahan Surabaya Bergerak, Mitigasi Perlu Diperkuat

  • 22 Sep 2026 14:16 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO ID, Surabaya: Keberadaan Patahan Surabaya dan Patahan Waru menjadi perhatian dalam upaya pengurangan risiko gempa di Kota Surabaya. Keduanya merupakan bagian dari sistem Java Back-arc Thrust yang secara umum berkaitan dengan sistem Sesar Kendeng, sehingga keberadaannya perlu dipahami sebagai salah satu sumber potensi kegempaan di wilayah Jawa Timur.

Pakar geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Amien Widodo, mengatakan sesar merupakan sumber gempa karena pergerakan pada bidang patahan dapat memicu guncangan. Karena itu, keberadaan sesar aktif tidak seharusnya hanya dipandang sebagai informasi mengenai potensi gempa, tetapi juga menjadi dasar untuk memperkuat mitigasi.

“Jadi sesar itu adalah sumber gempa. Dari hasil kajian dan penelitian kawan-kawan ITS bersama stakeholder dan pihak-pihak terkait, di Jawa itu ada banyak patahan. Di Jawa Timur juga ada beberapa yang perlu diperhatikan, termasuk sesar aktif Surabaya dan sesar Waru,” kata Amien saat diwawancarai RRI Surabaya, Senin (21/9/2026).

Dalam kajian kegempaan Jawa, sistem back-arc thrust merupakan salah satu bagian penting dari lingkungan tektonik di wilayah tersebut. ITS sebelumnya menjelaskan bahwa Kota Surabaya dilalui dua segmen Sesar Kendeng, yakni Segmen Surabaya dan Segmen Waru. Kajian geofisika ITS juga menemukan bidang sumber gempa yang berkaitan dengan sesar tersebut memanjang ke arah barat hingga sekitar 64 kilometer, dengan kedalaman yang dikaji berada pada kisaran 0 hingga 11 kilometer.

Amien menjelaskan, sistem patahan tersebut merupakan bagian dari proses tektonik yang berlangsung di bawah permukaan. Pergerakannya tidak berarti gempa besar akan segera terjadi, karena waktu terjadinya gempa tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan keberadaan maupun aktivitas sesar.

“Dari kajian kawan-kawan ITS memang tidak bisa diprediksi kapan kira-kira gempa itu akan terjadi. Alat pendeteksinya juga terbatas dan patahan atau gerakan itu ada jauh di dalam permukaan tanah, sehingga sulit memastikan kapan terjadi pergeseran dan potensi gempanya,” ujarnya.

Karena itu, Amien meminta Pemerintah Kota Surabaya bersama pihak terkait terus memperkuat langkah mitigasi. Menurutnya, pemetaan titik-titik rawan, pemantauan aktivitas kegempaan, hingga pengembangan perangkat monitoring dan sistem peringatan perlu dilakukan secara berkelanjutan.

Ia menilai kesiapan tersebut penting karena mitigasi dilakukan sebelum bencana terjadi. Selain memperkuat pemantauan, pemerintah juga perlu memastikan pembangunan memperhatikan ketahanan terhadap gempa, sehingga risiko kerusakan maupun korban dapat ditekan ketika terjadi guncangan.

“Pemerintah kota sudah melakukan mitigasi dengan cukup baik, termasuk dalam perencanaan pembangunan. Bangunan diarahkan supaya tahan gempa dan beberapa kontraktor maupun developer juga sudah mulai mengikuti aturan tersebut,” kata Amien.

Amien juga mendorong agar mitigasi tidak berhenti pada pembangunan fisik. Pemetaan kawasan rawan perlu diikuti dengan penyiapan ruang yang dapat digunakan masyarakat untuk keselamatan dan evakuasi. Penambahan ruang terbuka hijau juga dinilai dapat menjadi bagian dari perencanaan kota yang mempertimbangkan risiko bencana.

Kajian ITS mengenai kegempaan Surabaya sebelumnya memang menempatkan Sesar Surabaya dan Sesar Waru sebagai bagian dari sistem Sesar Kendeng. ITS juga menekankan pentingnya pemetaan sesar aktif dan pemahaman kondisi geologi untuk mendukung perencanaan tata ruang serta pembangunan yang mempertimbangkan aspek kebencanaan.

Sementara itu, pemutakhiran Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 juga menjadi bagian dari upaya memperbarui pemahaman mengenai sumber-sumber gempa di Indonesia. Peta tersebut memperbarui informasi mengenai jalur dan geometri sesar, segmentasi, sumber gempa aktif, skenario patahan, serta parameter kegempaan lainnya.

Dengan demikian, informasi mengenai Patahan Surabaya, Patahan Waru dan sistem Java Back-arc Thrust bukan untuk memunculkan kepanikan mengenai kapan gempa akan terjadi. Sebaliknya, informasi tersebut menjadi dasar untuk memperkuat kesiapsiagaan, mulai dari bangunan tahan gempa, pemetaan kawasan rawan, pemantauan kegempaan, penyediaan ruang aman, hingga edukasi masyarakat agar memahami langkah penyelamatan diri ketika gempa terjadi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....