Menjaga Warisan lewat Coretan Canting: Kisah Cak Yoko Pengrajin Batik Surabaya
- 02 Okt 2026 10:30 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya – Memperingati Hari Batik Nasional tahun 2026, Program Pro 4 RRI Surabaya menghadirkan suasana berbeda dalam siaran udara interaktif Dialog Kita Indonesia pada Jumat, 2 Oktober 2026. Mengangkat tema penguatan apresiasi budaya lokal, dialog publik ini menghadirkan perajin sekaligus pemilik label Batik Cak Yoko sebagai narasumber utama untuk mengulas perjalanan seni wastra dan seluk-beluk industri kerajinan batik di Kota Pahlawan.
Perjalanan Cak Yoko dalam merambah dunia kriya kain ini berawal dari keikutsertaannya dalam program pemberdayaan masyarakat. Sebelum menekuni teknik membatik, ia berprofesi sebagai penjahit busana.
Peluang emas mulai terbuka saat beliau berkesempatan mengikuti pelatihan membatik selama dua hari di Rumah Batik Putat Jaya—sebuah fasilitas pemberdayaan warga yang diinisiasi oleh Tri Rismaharini pascapenutupan kawasan lokalisasi. "Awalnya ikut pelatihan Ibu-ibu di Tambakwredi. Nah, baru memulai belajar batiknya itu di Rumah Batik Putat Jaya yang didirikan Bu Risma. Terus setelah bikin kain, saya jahit, ternyata dipinjem dari Ibu-ibu yang pelatihan kemarin itu untuk bazar di kelurahan awalnya. Ternyata kok laku waktu itu. Nah, sejak saat itu saya tekuni bikin batik itu," ujar Cak Yoko saat menceritakan awal mula kariernya di Studio Pro 4 RRI Surabaya.
Melalui konsistensi dan eksperimen teknik, usaha kriya ini berhasil melahirkan karakter motif yang khas dan pembeda di Surabaya. Cak Yoko mengombinasikan keahlian canting tulis dan cap yang dipelajarinya di Putat Jaya dengan teknik pewarnaan gradasi dan cipratan yang ia dapatkan langsung dari instruktur asal Pekalongan dalam program Pahlawan Ekonomi.
"Ciri khas warna saya itu enggak polosan. Saya ada nuansa semburnya. Jadi kayak misalkan warna-warni gitu juga sembur, jadi kayak motif cipratan gitu ciri khas Batik Cak Yoko. Tapi yang di Surabaya itu cuma saya, saya dulu yang bikin cipratan itu," ujar Cak Yoko menguraikan keunikan karya buatannya.
Dalam dialog tersebut, dibahas pula perbedaan mendasar serta nilai estetika antara batik tulis, batik cap, dan kain motif cetak (printing). Tingkat kerumitan manual dan durasi pengerjaan yang memakan waktu hingga satu minggu per helai kain menjadi alasan utama tingginya nilai ekonomis batik tulis asli. Di tengah pergeseran tren pasar di mana konsumen kini makin menggemari padu padan wastra batik bersama kain tenun dan lurik, edukasi mengenai nilai seni batik dianggap sangat krusial.
| Baca juga: Serat Wulangreh Tetap Relevan di Era Digital |
"Kalau yang mahal itu yang batik tulis. Kan prosesnya motif itu kan dari tangan kita... Menggambar pola dulu di kain, itu aja memerlukan waktu 1 hari paling ndak, kalau motifnya full selebar 2,5 meter itu. Nah, belum mencantingnya itu mungkin 2-3 hari selesai, belum mencolet pewarnaan motifnya. Ya mungkin harus meyakinkan pembeli supaya kembali beli batik cap atau batik tulis," tuturnya menekankan pentingnya menjaga apresiasi karya seni otentik.
Dedikasi Cak Yoko terhadap keberlanjutan tradisi membatik tidak berhenti pada ranah komersial semata. Selain membuka pintu tempat kerjanya di Kedurus Dukun Gang 3 No. 55 Surabaya bagi warga perorangan maupun instansi yang ingin belajar, beliau secara aktif membagikan keterampilannya dengan mengajar seni membatik bagi anak-anak penyandang disabilitas di Rumah Anak Prestasi.
"Dan saat ini saya juga ngajar di Rumah Anak Prestasi, yang khusus anak-anak disabilitas. Kan ilmu itu kan bisa nanti dibagi sama orang lain," pungkas Cak Yoko menutup perbincangan. Inspirasi motif-motif baru buatan Cak Yoko sendiri kerap lahir dari ruang publik kota, seperti pengamatan visual flora dan bunga saat beraktivitas di taman-taman Surabaya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....