Serat Wulangreh Tetap Relevan di Era Digital
- 16 Sep 2026 06:00 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya — Serat Wulangreh karya Sri Susuhunan Pakubuwono IV tidak sekadar menjadi warisan sastra Jawa, tetapi juga menyimpan pedoman etika yang tetap relevan menghadapi perubahan perilaku masyarakat di era digital. Pesan tentang budi pekerti, tata krama, kewaspadaan, serta pentingnya memilih lingkungan pergaulan kembali dibahas dalam program Siaran Aspirasi Budaya Pro 4 FM RRI Surabaya, Minggu 13 September 2026, dengan topik Serat Wulangreh Pupuh Pangkur.
Pecinta budaya Nusantara, Cak Ries dan Cak Rafli, menjelaskan bahwa secara makna, Wulangreh mengandung pengertian tentang piwulang atau ajaran serta tata cara dan aturan dalam menjalani kehidupan. Karya Sri Susuhunan Pakubuwono IV dari Kasunanan Surakarta tersebut pada awalnya berisi nasihat bagi keluarga kerajaan, namun nilai-nilainya juga ditujukan untuk masyarakat secara luas agar mampu menjalani kehidupan dengan tertib.
Cak Rafli mengatakan, ajaran dalam Serat Wulangreh mencakup berbagai aspek kehidupan, mulai dari hubungan sosial, penghormatan kepada orang tua, kasih sayang kepada saudara dan teman, hingga tanggung jawab seorang pemimpin. “Tujuannya supaya manusia hidup dengan baik dan akhirnya menjadi manusia yang punya tata titi lan laku,” ujarnya.
| Baca juga: Pramuka di Era Digital, Masih Relevankah? |
Salah satu bagian yang dibahas adalah Pupuh Pangkur, yang memuat nasihat agar manusia mampu membedakan perbuatan baik dan buruk serta menjunjung adat istiadat dan tata krama. Pesan tersebut tercermin dalam ajaran agar adat, aturan, dan tata krama senantiasa dijaga, baik pada siang maupun malam hari, yang dimaknai sebagai kewajiban menjaga perilaku setiap saat.
Nilai tersebut dinilai semakin penting ketika masyarakat memasuki era digital yang memungkinkan seseorang berkomunikasi tanpa harus bertatap muka. Cak Rafli menilai kemudahan teknologi tidak semestinya membuat etika ikut hilang, termasuk ketika seseorang memberikan komentar, menyampaikan pendapat, maupun berinteraksi di ruang digital.
Menurutnya, unggah-ungguh sejatinya bukan persoalan status sosial, tingkat pendidikan, maupun kondisi ekonomi, melainkan bentuk penghormatan terhadap orang lain. “Unggah-ungguh iku gak ndelok masalah strata, sugih melarat, berpendidikan opo ora, karena unggah-ungguh sejatinya adalah sikap kita di sosial, di masyarakat,” katanya.
| Baca juga: Koperasi Harus Bertahan dan Tetap Relevan |
Pupuh Pangkur juga mengajarkan manusia untuk selalu eling lan waspada, serta mempertimbangkan akibat sebelum bertindak, berbicara, maupun mengambil keputusan. Pesan ini dinilai relevan dengan kehidupan modern, ketika keputusan yang dilakukan secara tergesa-gesa, termasuk di media sosial, dapat menimbulkan dampak luas dan sulit ditarik kembali.
Selain mengatur perilaku pribadi, Serat Wulangreh mengingatkan pentingnya memilih lingkungan pergaulan. Cak Ries dan Cak Rafli menekankan bahwa karakter seseorang dapat terbentuk dari lingkungan tempat ia berinteraksi, sehingga masyarakat dianjurkan mendekat kepada orang-orang yang baik, berilmu, bijaksana, dan memiliki perilaku positif.
Pembahasan juga menyoroti tantangan pelestarian budaya di tengah perubahan zaman. Menurut Cak Rafli, kebudayaan akan lebih mudah bertahan apabila memiliki ekosistem yang memungkinkan pelaku budaya memperoleh manfaat sekaligus memiliki penikmat atau masyarakat pendukung, seperti yang mulai dilakukan dalam upaya menghidupkan kembali penggunaan aksara Jawa di berbagai ruang publik dan media.
Karena itu, pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan menghafalkan warisan leluhur, tetapi perlu diteruskan melalui pendidikan dan praktik dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai Serat Wulangreh, mulai dari tata krama, empati, kehati-hatian, tanggung jawab hingga kemampuan memilih pergaulan, dinilai dapat menjadi bekal karakter generasi muda agar mampu mengikuti perkembangan teknologi tanpa kehilangan jati diri budaya Nusantara.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....