Batik Surabaya, Motif Lokal Penuh Makna
- 02 Okt 2026 09:55 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Hari Batik Nasional yang diperingati setiap 2 Oktober menjadi momentum untuk mengenal lebih jauh kekayaan batik di berbagai daerah, termasuk Surabaya. Di Kota Pahlawan, batik tidak hanya menjadi busana, tetapi juga menjadi media untuk membawa identitas dan cerita tentang kota.
Pemerintah Kota Surabaya telah mematenkan enam motif batik khas Surabaya, yakni Sparkling, Kintir-Kintiran, Abhi Boyo, Gembili Wonokromo, Kembang Bungur, dan Remo Surabayan. Keenam motif tersebut dipilih melalui Lomba Desain Batik Surabaya 2022 dan dinilai menggambarkan berbagai sisi Kota Surabaya.
Salah satu motif yang memiliki filosofi kuat adalah Kintir-Kintiran. Motif ini menggambarkan Surabaya yang dikelilingi sejumlah sungai. Aliran air dalam motif tersebut juga dimaknai sebagai gambaran arek-arek Suroboyo yang mampu mengikuti perkembangan zaman dan tetap berjuang mencapai cita-cita.
Laman resmi Pemerintah Kota Surabaya menjelaskan, motif Kintir-Kintiran memadukan sejumlah unsur yang lekat dengan lingkungan dan identitas kota, mulai dari aliran sungai, mangrove, Suro dan Boyo, semanggi hingga bambu. “Dalam desain Kintir-kintir ini juga ada garis lengkungan dan garis yang bergerigi untuk mewakili aliran sungai dan alam mangrove dengan akar-akarnya yang tampak tajam. Ada pula ornamen Suro dan Boyo dalam bentuk stilasi yang melambangkan arek-arek Suroboyo,” demikian tulis laman resmi Pemerintah Kota Surabaya.
Tidak berhenti pada Suro dan Boyo, motif tersebut juga menghadirkan semanggi yang memiliki makna tersendiri. Semanggi dimaknai sebagai simbol cinta dan harmoni, sementara ornamen garis-garis bambu melambangkan perjuangan dan loyalitas.
“Saya juga cantumkan semanggi yang melambangkan cinta dan harmoni, serta ada ornamen garis-garis bambu sebagai lambang perjuangan dan loyalitas. Jadi, semuanya ada maknanya dan itu menggambarkan kota kita tercinta, Surabaya,” demikian tulis laman resmi Pemerintah Kota Surabaya, mengutip penjelasan pencetus motif Kintir-Kintiran.
Unsur Semanggi sendiri memang menjadi salah satu ciri yang ditonjolkan dalam batik Surabaya. Pemerintah Kota Surabaya sebelumnya menyebut Semanggi bersama Sparkling, Suro dan Boyo, serta Kya-Kya sebagai sejumlah motif atau unsur yang menjadi kekhasan batik Surabaya.
Makna yang dibawa batik Surabaya tidak hanya terdapat pada Kintir-Kintiran. Motif Sparkling terinspirasi dari Tari Sparkling khas Surabaya, sementara Remo Surabayan mengambil unsur kesenian Tari Remo. Motif Gembili Wonokromo, Kembang Bungur, dan Abhi Boyo juga dirancang dengan mengambil inspirasi yang berkaitan dengan kehidupan dan identitas Kota Surabaya.
Keberadaan motif khas tersebut menunjukkan bahwa batik dapat menjadi lebih dari sekadar kain bermotif. Di dalamnya terdapat upaya untuk merekam lingkungan, kesenian, simbol kota, sekaligus nilai yang dianggap mewakili karakter masyarakat Surabaya.
Pemerintah Kota Surabaya juga terus mendorong pengembangan batik khas kota. Pada 2024, Pemkot bersama Dekranasda kembali menggelar lomba desain motif batik khas Suroboyo untuk menambah variasi motif yang dapat merepresentasikan identitas Surabaya.
Pada Hari Batik Nasional, batik Surabaya pun dapat dikenali bukan hanya dari corak dan warnanya. Di balik motifnya terdapat cerita tentang sungai, mangrove, Semanggi, Suro-Boyo, kesenian, perjuangan, hingga karakter arek-arek Suroboyo.
Dengan demikian, mengenakan batik khas Surabaya tidak sekadar memilih busana bercorak lokal, tetapi juga menjadi cara untuk membawa dan mengenalkan cerita Kota Pahlawan melalui selembar kain.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....