Guru Besar UNAIR Soroti Dampak Serius Karhutla

  • 05 Sep 2026 12:52 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Kebakaran hutan dan lahan kembali terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan selama musim kemarau. Guru Besar Antropologi Ekologi FISIP Universitas Airlangga, Prof. Dr. Mohammad Adib, menyebut Karhutla tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan dan lingkungan.

Menurutnya, karhutla menunjukkan adanya krisis dalam relasi manusia dengan alam serta konflik cara pandang terhadap ruang hidup. Bagi negara dan korporasi, lahan gambut kerap dipandang sebagai ruang komoditas yang dapat dimanfaatkan secara ekonomi.

Sementara masyarakat adat memandang gambut sebagai ruang hidup yang berkaitan erat dengan kebudayaan dan tata air. “Fenomena ini secara jelas menunjukkan krisis relasi manusia dengan alam,” ujar Prof. Adib, Jumat, 4 September 2026.

“Kebakaran hebat meledak ketika pemaksaan ontologi kapitalis menghancurkan sistem ekologi dan ontologi lokal,” ujarnya. Prof. Adib menilai karhutla tidak semata-mata terjadi akibat cuaca ekstrem, termasuk fenomena El Nino.

Kerentanan kebakaran juga berkaitan dengan perubahan bentang alam akibat pengelolaan manusia terhadap kawasan gambut. Pembuatan kanal untuk mengeringkan gambut dapat mengganggu sistem hidrologis alami dan membuat lahan lebih mudah terbakar.

Menurutnya, pemberian konsesi turut mengubah hubungan masyarakat dengan ruang hidup serta lingkungan sekitarnya. “Alam diperlakukan semata-mata sebagai komoditas cepat saji, bukan sebagai commons yang harus dijaga," ujarnya.

Perubahan tersebut juga membawa dampak langsung bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan terdampak. Masyarakat menghadapi ancaman ISPA, kehilangan ruang hidup, hingga ketimpangan dalam relasi kuasa.

Prof. Adib turut menyoroti narasi yang mengambinghitamkan praktik ladang berpindah masyarakat adat Dayak. Menurutnya, persoalan tersebut harus dilihat bersama sejarah hilangnya akses masyarakat terhadap wilayah kelola tradisional.

“Ironisnya, masyarakat yang kehilangan kedaulatan atas ruang hidup justru mudah disalahkan ketika terjadi bencana,” katanya. Prof. Adib mendorong perubahan cara pandang dalam mengelola alam dan kawasan gambut di Indonesia.

Ia meminta penghentian pola kebijakan kaku dan tersentralisasi yang diterapkan secara top-down. Penanganan karhutla, menurutnya, tidak cukup hanya dilakukan melalui upaya pemadaman api.

Upaya tersebut harus disertai pemulihan tata air gambut dan pelibatan masyarakat adat dalam pengelolaannya. Prof. Adib juga mendorong pengembangan bioekonomi gambut basah untuk menjaga ekosistem sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....