Kelola Rasa Iri dengan Memperkuat Keimanan dan Bersyukur

  • 01 Okt 2026 06:30 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Rasa iri dapat muncul ketika seseorang melihat orang lain memperoleh keberhasilan, memiliki sesuatu yang diinginkan, atau mendapatkan kebahagiaan yang belum dirasakan. Jika tidak dikelola, rasa tersebut dapat berkembang menjadi hasad dan keinginan agar kenikmatan orang lain hilang.

Hal tersebut disampaikan Ustadzah Rachma Ayuningtyas Ketua Departemen Humas PW Salimah Jatim, yang akrab disapa Ustazah Yuyun, dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Surabaya, Kamis, 1 Oktober 2026, dengan tema “Mengelola Sifat Iri”.

Menurut Ustazah Yuyun, iri menjadi sikap tercela ketika seseorang tidak hanya menginginkan kenikmatan yang dimiliki orang lain, tetapi juga berharap kenikmatan tersebut hilang.

“Iri adalah rasa tidak suka ketika orang lain mendapatkan kenikmatan. Iri ini bisa berkembang menjadi hasad atau dendam. Jangan sampai kita berharap kenikmatan orang lain itu hilang,” ujarnya.

Ia mengingatkan, Rasulullah SAW melarang umat Islam saling iri, membenci dan saling menjauhi. Dalam HR Muslim, Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kalian saling iri, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, tetapi jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara.”

Untuk mengelola rasa iri, kata Ustazah Yuyun, langkah pertama adalah memperkuat keimanan dan keyakinan terhadap takdir Allah SWT dengan terus menambah ilmu. Setiap nikmat yang dimiliki manusia merupakan bagian dari qadarullah dan tidak semata-mata karena kemampuan diri sendiri.

Allah SWT berfirman dalam QS An-Nisa ayat 32, “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain... Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya.”

Selanjutnya, masyarakat diajak menyadari bahwa rasa iri tidak memberikan keuntungan, tetapi justru dapat membawa kebencian dan kesedihan. Karena itu, rasa iri perlu dialihkan dengan mensyukuri nikmat yang dimiliki, melihat orang lain yang berada dalam kondisi lebih sulit dalam urusan dunia, serta mendoakan orang yang mendapatkan nikmat.

Ustazah Yuyun juga menjelaskan bahwa Islam mengenal keinginan untuk mendapatkan kebaikan seperti yang dimiliki orang lain tanpa berharap nikmat tersebut hilang dari orang yang memilikinya. Rasulullah SAW memberikan contoh dalam HR Bukhari, yakni orang yang dianugerahi harta kemudian menginfakkannya di jalan Allah, serta orang yang diberi ilmu lalu mengamalkan dan mengajarkannya kepada orang lain.

Kedua golongan tersebut merupakan contoh orang yang boleh menjadi objek ghibthah, yaitu seseorang boleh merasa iri dalam arti positif terhadap kebaikan yang dimiliki orang lain, dengan harapan dapat memperoleh kebaikan serupa tanpa menginginkan nikmat tersebut berkurang atau hilang dari orang lain.

“Ketika melihat orang lain mendapatkan nikmat, jangan sampai kita berharap nikmat itu hilang. Kita doakan kebaikannya dan kita juga memohon kepada Allah agar diberikan karunia-Nya. Inilah iri yang dibolehkan dalam Islam, yaitu ketika kita melihat orang lain memiliki kebaikan, seperti orang yang memiliki harta lalu menginfakkannya di jalan Allah atau orang yang memiliki ilmu kemudian mengamalkan dan mengajarkannya. Kita boleh berharap memiliki kebaikan yang sama, tetapi tidak boleh berharap nikmat tersebut hilang dari orang lain,” katanya.

Ia mengajak masyarakat menjadikan keberhasilan orang lain sebagai motivasi untuk memperbaiki diri, bukan alasan untuk menyimpan kebencian. Dengan memperkuat iman, bersyukur dan memohon karunia Allah, rasa iri diharapkan dapat dikelola menjadi dorongan untuk melakukan kebaikan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....