Rakhmatika: Penyebab Kecelakaan KM Virgo 8 Harus Dibuktikan Teknis

  • 21 Sep 2026 21:19 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Alumnus Teknik Perkapalan ITS, Rakhmatika Ardianto, meminta penyebab kecelakaan KM Virgo Transport 8 dibuktikan secara teknis. Praktisi transportasi laut dan Wakil Ketua Forum Transportasi Laut MTI itu menilai, penyebab kecelakaan tidak boleh disimpulkan berdasarkan asumsi.

Menurut Rakhmatika, modifikasi kapal, riwayat lintasan, dan kedalaman perairan perlu dikaji berdasarkan data teknis. Ia menanggapi pembahasan Prof. Saut Gurning di sejumlah media mengenai kecelakaan KM Virgo Transport 8.

Rakhmatika menekankan perlunya kajian menyeluruh sebelum menarik kesimpulan mengenai penyebab kecelakaan kapal tersebut. Terkait modifikasi kapal, Rakhmatika menjelaskan bahwa perubahan desain memiliki mekanisme pengesahan dan pengawasan.

Ia merujuk PM Nomor 54 Tahun 2021 tentang pengesahan gambar rancang bangun kapal. “Pemilik kapal tidak dibenarkan mengubah konstruksi sesuka hati. Ada gambar rancang bangun dan perhitungan teknis,” ujarnya, Senin, 21 September 2026.

“Proses pengesahan serta pengawasan dilakukan Direktorat Perkapalan dan Kepelautan Ditjen Hubla bersama BKI, Setelah pekerjaan selesai, dilakukan perhitungan ulang stabilitas kapal melalui inclining test oleh BKI,” kata Rakhmatika.

Menurut Rakhmatika, modifikasi atau perubahan desain kapal merupakan hal biasa dalam industri pelayaran. “Sejumlah kapal yang beroperasi saat ini juga mengalami perubahan desain maupun fungsi selama masa operasinya,” katanya.

Ia mencontohkan Doulos Phos yang dibangun pada 1914 di Amerika Serikat sebagai SS Medina. Kapal tersebut awalnya merupakan kapal barang, kemudian berubah menjadi kapal peziarah dan penumpang bernama SS Roma.

Kapal itu selanjutnya menjadi kapal pesiar MS Franca, kemudian perpustakaan terapung MV DoDoulos. “MV Doulos beroperasi sebagai perpustakaan terapung pada 1977–2009, sebelum direvitalisasi menjadi hotel,” ujarnya.

Menurut Rakhmatika, Doulos Phos The Ship Hotel beroperasi di Bintan sejak 2019 hingga sekarang. Ia juga mencontohkan Shinka Maru yang dikonversi dari kapal Ro-Ro barang menjadi kapal Ro-Ro penumpang.

Kapal tersebut kemudian bernama Our Lady of Medjugorje, sedangkan Shinsei Maru berubah menjadi Our Lady of Sacred Heart. Di Eropa, European Seaway juga dikonversi dari freight ferry menjadi kapal penumpang dan kendaraan Pride of Kent.

Kapal tersebut melayani rute Dover–Calais setelah mengalami perubahan besar pada fungsi dan desainnya.“Di Filipina, MV St. Thomas Aquinas juga merupakan hasil konversi kapal feri Jepang Sumiyoshi,” kata Rakhmatika.

“Perubahan desain maupun fungsi kapal lazim dilakukan sepanjang memenuhi proses teknis, keselamatan, dan klasifikasi,” ujarnya. Pada KM Virgo Transport 8, disebutkan terdapat modifikasi berupa penambahan ramp door pada sisi kapal.

Menurut Rakhmatika, kapal tidak akan memperoleh sertifikat kelas jika perhitungannya tidak memenuhi persyaratan stabilitas. Ia menjelaskan, perubahan konstruksi yang membuat stabilitas negatif dapat menyebabkan kapal miring sejak kondisi kosong.

Risiko tersebut dapat meningkat ketika kapal sudah bermuatan dan beroperasi dalam kondisi tertentu. “Buktinya, kapal tersebut telah beroperasi lebih dari satu bulan dengan lebih dari 30 rit,” ujarnya.

“Ketika kecelakaan terjadi, kapal telah menempuh sekitar 190 mil laut dari total 240 mil laut,” ucapnya. Rakhmatika menambahkan, stabilitas kapal juga dipengaruhi kondisi cuaca serta letak atau posisi muatan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....