Masalembo Bukan Misteri, Ini Penjelasan Ilmiahnya

  • 16 Sep 2026 19:59 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Perairan Masalembo selama bertahun-tahun dikaitkan dengan cerita mistis dan disebut “Segitiga Bermuda Indonesia”. Namun, dari perspektif sains, kawasan tersebut merupakan bagian sistem laut Indonesia yang memiliki dinamika kompleks.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Dr. Daryono mengatakan, kondisi Masalembo perlu dipahami secara ilmiah. “Masalembo memiliki dinamika oseanografi dan meteorologi maritim yang kompleks,” kata Daryono, dikutip dari laman IG. Rabu, 16 September 2026.

Menurutnya, kompleksitas tersebut tidak berarti Masalembo memiliki fenomena misterius yang otomatis menyebabkan kapal tenggelam. “Risiko pelayaran merupakan hasil interaksi berbagai faktor lingkungan, kapal, muatan, dan keputusan navigasi,” ujarnya.

Masalembo terhubung dengan sistem perairan Laut Jawa, Selat Makassar, dan Laut Flores. Selat Makassar menjadi jalur penting Arus Lintas Indonesia yang membawa massa air dari Pasifik.

Sementara itu, Laut Jawa dan Laut Flores dipengaruhi konfigurasi kepulauan, pasang surut, serta perubahan musiman. “Masalembo bukan sekadar tempat bertemunya tiga laut,” kata Daryono.

Kawasan tersebut merupakan bagian sistem pertukaran massa air yang dinamis dan kompleks. Perbedaan temperatur, salinitas, densitas, kedalaman, serta arah arus dapat membentuk struktur laut horizontal maupun vertikal.

Pada kondisi tertentu, perbedaan densitas antarlapisan dapat menghasilkan stratifikasi laut dan shear arus. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan turbulensi, pencampuran massa air, dan fenomena gelombang internal.

“Fenomena tersebut tidak boleh langsung dianggap sebagai penyebab kapal kehilangan daya apung atau kendali,” ucapnya. Faktor atmosfer juga berperan penting karena Masalembo dipengaruhi sistem monsun Asia-Australia.

Perubahan arah dan kecepatan angin dapat memengaruhi pembentukan serta propagasi gelombang. Dalam kondisi tertentu, gelombang dari berbagai arah dapat bertemu dan membentuk cross-sea.

“Cross-sea dapat meningkatkan gerakan kapal, terutama rolling dan pitching,” ucap Daryono. Kondisi tersebut juga dapat menambah beban dinamis pada struktur kapal selama pelayaran.

Cross-sea tidak semata-mata terbentuk akibat benturan angin dengan arus. Fenomena tersebut dapat muncul dari kombinasi gelombang lokal dan gelombang dari wilayah lain.

Cuaca konvektif juga perlu diperhitungkan dalam memahami risiko pelayaran di Masalembo. Laut yang hangat menyediakan uap air dan energi bagi atmosfer, tetapi tidak otomatis menghasilkan badai ekstrem.

Ketika awan Cumulonimbus berkembang kuat, dapat terjadi hujan lebat, petir, downdraft, dan gust front. “Perubahan angin dan gelombang mendadak dapat meningkatkan beban serta gerakan kapal,” kata Daryono.

Selain atmosfer dan laut, batimetri atau bentuk dasar laut turut memengaruhi propagasi gelombang. Perubahan kedalaman dapat memengaruhi gelombang melalui proses shoaling dan refraksi.

Ketika gelombang memasuki perairan dangkal, kecepatannya dapat berkurang dan karakteristiknya berubah. Namun, perubahan kedalaman tidak selalu menyebabkan tinggi gelombang meningkat secara drastis.

“Besarnya perubahan bergantung pada periode, arah gelombang, kedalaman, dasar laut, pasang surut, dan arus,” katanya. Karena itu, kondisi berbahaya di Masalembo sebaiknya tidak dijelaskan menggunakan satu mekanisme tunggal.

Risiko pelayaran merupakan hasil interaksi faktor lingkungan, manusia, serta karakteristik kapal. Faktor lingkungan meliputi angin, gelombang, arus, pasang surut, cuaca konvektif, dan batimetri.

Sementara faktor kapal mencakup stabilitas, distribusi muatan, kondisi teknis, kemampuan manuver, dan kecepatan. Kompetensi awak serta keputusan navigasi juga menjadi bagian penting dalam keselamatan pelayaran.

Dalam gelombang besar, kapal dapat mengalami rolling dan pitching yang signifikan. Apabila stabilitas terganggu atau muatan bergeser, kondisi tersebut dapat menjadi semakin serius.

Pada kapal Ro-Ro, pengamanan kendaraan dan muatan menjadi bagian penting keselamatan pelayaran. “Pergeseran muatan dapat memengaruhi stabilitas kapal,” kata Daryono.

Ia menegaskan, berbagai fenomena tersebut bukan kesimpulan penyebab kecelakaan Virgo Transport 8. “Kontribusi masing-masing faktor harus dibuktikan melalui data dan investigasi kecelakaan,” ujarnya.

Menurut Daryono, semua kecelakaan di Masalembo juga tidak dapat otomatis dikaitkan dengan kondisi alam. Kecelakaan kapal dapat melibatkan banyak faktor yang terjadi secara bersamaan.

Investigasi harus mencakup cuaca, kondisi laut, kapal, muatan, stabilitas, mesin, navigasi, dan faktor manusia. Dengan demikian, Masalembo tidak perlu dijelaskan sebagai wilayah mistis atau “kuburan kapal”.

“Secara ilmiah, kawasan ini merupakan lingkungan laut yang dinamis dan kompleks,” ujarnya. Tantangannya bukan kekuatan misterius, melainkan perubahan kondisi laut dan atmosfer yang berinteraksi.

Interaksi tersebut juga berkaitan dengan karakteristik kapal serta aktivitas pelayaran. Keselamatan membutuhkan informasi cuaca dan laut aktual serta perencanaan pelayaran yang matang.

Pemantauan kondisi kapal dan muatan, kesiapan awak, serta keputusan operasional juga sangat penting. “Masalembo bukan misteri, Masalembo adalah pengingat bahwa laut harus dipahami dengan sains dan dipantau dengan data,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....