Dari Hoso Kyoku ke RRI, Kisah Panjang Radio Perjuangan Surabaya

  • 17 Sep 2026 06:23 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID,SURABAYA – Program Ngobras Pro1 RRI Surabaya, Rabu 16 September 2026, menghadirkan Ketua Komunitas Begandring Soerabaia, Ahmad Zaki Yamani, SH. Dipandu presenter Joe Adi Yuanda, dialog ini membahas sejarah perjalanan RRI Surabaya, mulai dari masa pendudukan Jepang hingga berkembang menjadi radio yang mengudara selama 24 jam.

Joe Adi Yuanda membuka acara dengan memperkenalkan narasumber, Mas Ahmad Zaki Yamani, SH, Ketua Komunitas Begandring Soerabaia. Pembahasan kemudian diawali dengan sejarah RRI Surabaya yang pada masa pendudukan Jepang dikenal dengan nama Surabaya Hoso Kyoku. Zaki menjelaskan, setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, berita kemerdekaan disiarkan secara sembunyi-sembunyi dalam bahasa Madura pada malam hari, kemudian bahasa Jawa pada sore hari tanggal 18 Agustus 1945.

“Penyiaran dalam bahasa Madura dan Jawa ini bertujuan untuk mengelabui Jepang yang saat itu masih berkuasa,” jelas Zaki. Namun, setelah berita proklamasi dalam bahasa Jawa tersebar, Surabaya Hoso Kyoku ditutup oleh Kempetai, polisi militer Jepang, pada 19 Agustus 1945. Menurut Zaki, peristiwa tersebut menjadi bagian penting dari perjuangan awal radio dalam menyebarluaskan semangat kemerdekaan Indonesia.

Lebih lanjut, Zaki menerangkan bahwa Radio Jakarta berhasil direbut pada 11 September 1945, yang kemudian diperingati sebagai Hari Radio Republik Indonesia. Sementara itu, di Surabaya, perebutan aset radio Jepang berlangsung pada 20–27 September 1945. Sehari sebelum insiden perobekan bendera di Hotel Yamato, tepatnya 18 September 1945, tentara Jepang meminta orang-orang radio menyiarkan berita dari Jakarta. Namun, siaran tersebut ternyata berasal dari pihak NICA dan tidak disebarluaskan karena dinilai mengandung propaganda.

“Setelah insiden bendera di Hotel Yamato, orang-orang radio sadar dan bersama pemuda serta masyarakat merebut gedung radio pada 27 September 1945,” ungkap Zaki. Kepala radio saat itu, Pak Sukirman, kemudian ditunjuk untuk memimpin. Nama Hoso Kyoku diganti menjadi Radio Republik Indonesia Surabaya, sementara lagu-lagu patriotik menggantikan lagu kebangsaan Jepang. Peristiwa ini menandai babak baru perjuangan radio sebagai media perjuangan bangsa.

Seorang pendengar dari Jawa Barat, Oma Yanti, turut mengajukan pertanyaan mengenai perbedaan Hoso Kyoku dengan radio pribumi lainnya, seperti BRV atau Batavia Radio Vereniging dan siaran ketimuran. Zaki menjelaskan, Hoso Kyoku merupakan radio Jepang yang dikelola pemerintah pendudukan, sedangkan BRV di Jakarta dan Silvo atau Chinese Radio Omroep Vereniging di Surabaya merupakan radio swasta. Adapun NIROM merupakan radio pemerintah Hindia Belanda yang awalnya berfokus pada siaran berbahasa Belanda, kemudian mengakomodasi siaran ketimuran seperti karawitan dan wayangan untuk menarik pendengar non-Belanda.

Pada masa pendudukan Jepang, seluruh radio swasta dilarang dan siaran hanya diperbolehkan melalui Hoso Kyoku. Radio-radio yang ada didata dan masyarakat dilarang mendengarkan siaran lain. Zaki juga mengisahkan perjuangan tokoh seperti Yusuf Purnomo dan Dr. Abdul Rahman Saleh dalam menyiarkan berita proklamasi. Bahkan, Dr. Abdul Rahman Saleh menyembunyikan pemancar di Fakultas Kedokteran agar perjuangan penyiaran tetap berlangsung. Semangat para angkasawan radio tercermin dalam slogan, “Sekali di udara, tetap di udara.”

Perjuangan angkasawan RRI Surabaya berlanjut setelah gedung di Jalan Pemuda terbakar pada 29 Oktober 1945 dalam pertempuran Surabaya. Pemancar dibagi menjadi tiga bagian untuk diselamatkan dan digunakan kembali, bahkan disembunyikan di bawah tanah serta di gua-gua Gunung Willis guna menghindari pelacakan Belanda. Setelah pengakuan kedaulatan pada Desember 1949, nama RRI mengalami perubahan menjadi RRI Daerah Surabaya dan kemudian RRI Jawa Timur. Pada masa RIS, pemancar RRIS dengan operator Belanda berada di Dikayon, sedangkan RRI berada di Embong Malang. Setelah Agustus 1950, gedung Dikayon menjadi studio dan pemancar tetap di Embong Malang, sementara gedung Jalan Pemuda direnovasi pada akhir 1950-an.

Menutup dialog, Pak Totok, salah satu pendengar senior, berbagi pengalaman mendengarkan RRI Surabaya sejak 1974. Ia menceritakan, pada masa itu Pro 1 mengudara pukul 05.00–08.00, dilanjutkan Pro 2 pukul 08.00–12.00, dan seterusnya secara bergantian hingga tengah malam. Pada 1978 mulai hadir pemancar 585 yang siarannya dimodulasi di bawah Jasa, sebelum RRI akhirnya bersiaran 24 jam penuh pada 1983. Kisah tersebut menegaskan panjangnya perjalanan RRI Surabaya sebagai bagian dari sejarah perjuangan, informasi, dan hiburan masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....