Pramuka di Era Digital, Masih Relevankah?
- 14 Agt 2026 14:55 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Di tengah kehidupan yang semakin dekat dengan teknologi digital, kegiatan Pramuka mungkin terlihat seperti sesuatu yang berasal dari masa lalu. Seragam cokelat, berkemah, kegiatan di alam terbuka, hingga keterampilan membaca arah mata angin menjadi hal yang identik dengan kepramukaan.
Namun, ketika informasi bisa diperoleh hanya melalui telepon pintar dan kecerdasan buatan semakin mudah digunakan, apakah Pramuka masih relevan bagi generasi muda?
Pertanyaan tersebut menarik dibicarakan pada Hari Pramuka yang diperingati setiap 14 Agustus. Sebab, tantangan generasi muda saat ini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga bagaimana mereka beradaptasi, bekerja sama, mengambil keputusan, dan menyelesaikan persoalan dalam kehidupan sehari-hari.
Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dalam Rencana Strategis Gerakan Pramuka 2023–2028 secara terbuka mencatat perkembangan teknologi digital sebagai salah satu tantangan organisasi. Gerakan Pramuka dituntut meningkatkan daya tarik dan minat anak, remaja, serta pemuda untuk bergabung di tengah perkembangan teknologi digital dan berbagai distraksi lainnya.
“Gerakan Pramuka ditantang untuk terus mampu meningkatkan daya tarik, minat anak, remaja dan pemuda bergabung dengan Pramuka dalam era teknologi digital dan distraksi lainnya,” demikian salah satu poin dalam Rencana Strategis Gerakan Pramuka 2023–2028.
Dokumen tersebut juga menyebut Gerakan Pramuka perlu mengembangkan pendidikan kecakapan hidup peserta didik sesuai perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, sosial, dan ekonomi. Artinya, perkembangan zaman tidak dipandang sebagai sesuatu yang harus dijauhi, tetapi menjadi bagian yang perlu diantisipasi dalam pendidikan kepramukaan.
Tantangan tersebut membuat kegiatan Pramuka tidak cukup jika hanya mempertahankan pola lama. Kegiatan kepramukaan perlu tetap memberikan pengalaman yang sesuai dengan kebutuhan generasi muda, tanpa kehilangan nilai dasar yang menjadi bagian dari pendidikan kepramukaan.
Sebab, ada keterampilan yang tidak selalu bisa diperoleh hanya dengan melihat layar. Bekerja dalam kelompok, berkomunikasi secara langsung, mengambil keputusan bersama, bertanggung jawab terhadap tugas, serta belajar menghadapi kondisi di alam terbuka merupakan pengalaman yang membutuhkan keterlibatan secara langsung.
Di sisi lain, teknologi juga sebenarnya dapat menjadi bagian dari kegiatan Pramuka. Pemanfaatan teknologi informasi dapat membantu penyebaran informasi, komunikasi antaranggota, pengelolaan kegiatan, hingga pengembangan keterampilan baru.
Kwarnas bahkan mencatat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat mengubah gaya hidup, aspirasi, serta tuntutan peserta didik, masyarakat, dan bangsa. Karena itu, Gerakan Pramuka dituntut mampu mengantisipasi perubahan tersebut melalui transformasi program kegiatan dan kurikulum pendidikan.
Dengan demikian, persoalannya bukan sekadar apakah Pramuka masih relevan atau tidak di era digital. Yang lebih penting adalah bagaimana kegiatan Pramuka mampu menjawab kebutuhan generasi muda yang hidup di tengah perubahan teknologi yang sangat cepat.
Generasi muda tetap membutuhkan kemampuan bekerja sama, berkomunikasi, bertanggung jawab, peduli terhadap lingkungan, dan mengambil keputusan. Pada saat yang sama, mereka juga perlu memiliki kecakapan untuk menggunakan teknologi secara tepat.
Pramuka pun tidak harus diposisikan berlawanan dengan teknologi. Justru, keduanya dapat berjalan bersama ketika teknologi digunakan sebagai sarana, sementara nilai-nilai seperti kemandirian, kepemimpinan, kerja sama, dan kepedulian tetap menjadi bagian dari proses pendidikan.
Pada Hari Pramuka ke-65 tahun 2026, tantangan tersebut menjadi semakin relevan. Kwartir Nasional tahun ini mengusung tema “Memantapkan Langkah Organisasi Mendukung Swasembada Pangan Menuju Indonesia Emas 2045.” Tema tersebut menunjukkan bahwa kegiatan Pramuka juga diarahkan untuk berkontribusi pada persoalan yang lebih luas dan kebutuhan bangsa.
Jadi, Pramuka di era digital bukan berarti harus meninggalkan kegiatan yang selama ini menjadi cirinya. Yang perlu berubah adalah cara menghadirkan nilai-nilai tersebut agar tetap dekat dengan kehidupan generasi muda.
Teknologi boleh semakin maju. Namun, kemampuan untuk bekerja sama, bertanggung jawab, peduli terhadap lingkungan, dan belajar dari pengalaman nyata tetap menjadi bekal yang dibutuhkan. Dan mungkin, di situlah tantangan terbesar Pramuka hari ini: tetap relevan tanpa kehilangan nilai.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....