Ngobras Angkat Jejak Logistik Pahlawan Bu Dar Mortir
- 20 Mei 2026 00:08 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID,Surabaya - Program dialog interaktif Ngobras Pro1 RRI Surabaya kembali menghadirkan diskusi sejarah yang sarat makna pada Selasa 19 Mei 2026. Mengangkat tema perjuangan logistik dalam mempertahankan kemerdekaan, acara yang dipandu host Joe Adi Yuanda tersebut menghadirkan pecinta sejarah sekaligus Ketua Begandring Soerabaia, Zaki Yamani, sebagai narasumber utama.
Dialog berlangsung secara interaktif di studio dengan partisipasi pendengar melalui sambungan telepon dan WhatsApp. Dalam dialog tersebut, Zaki Yamani menegaskan bahwa makanan memegang peran vital dalam setiap peperangan, termasuk saat Pertempuran Surabaya.
Menurutnya, logistik menjadi elemen penting yang sering terlupakan dalam narasi sejarah perjuangan. “Perang tidak mungkin dimenangkan hanya dengan semangat. Tanpa pasokan makanan yang cukup, pasukan akan lemah dan pertempuran tidak bisa berjalan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, di balik heroiknya perlawanan arek-arek Suroboyo, terdapat sosok perempuan tangguh bernama Mas Roro Sudarias Suratdi Kusumo atau yang akrab dikenal sebagai Bundar. Perempuan kelahiran Purwokerto, 18 April 1904 itu, saat pecah perang berusia 41 tahun dan memiliki latar pendidikan kuat yang membentuk karakter kepemimpinan tegas.
“Bu Dar Mortir bukan sekadar tokoh pendukung. Ia adalah penggerak yang mampu mengorganisasi kekuatan sipil untuk menopang perjuangan bersenjata,” kata Zaki.
Peran besar Bu Dar dimulai saat dirinya membongkar gudang logistik pakaian dan perbekalan, kemudian menginisiasi pendirian dapur umum. Dari yang awalnya hanya mampu menyediakan sekitar 5.000 porsi makanan, jaringan dapur umum itu berkembang menjadi lebih dari 50 titik yang tersebar di seluruh wilayah Surabaya. “Ini adalah kerja logistik besar di masa perang. Semua dilakukan dengan gotong royong dan strategi yang sangat terorganisasi,” jelasnya.
Perjuangan tersebut tidak lepas dari pengorbanan besar. Untuk memenuhi kebutuhan logistik para pejuang, Bu Dar bahkan rela menggadaikan emas pribadinya seberat 100 gram kepada seorang saudagar di Jombang. Dana hasil gadai itu digunakan untuk membeli kebutuhan pangan bagi para pejuang di wilayah Mojokertoagung.
“Beliau mempertaruhkan seluruh yang dimiliki. Bahkan ketika harus bergerak di wilayah berbahaya, ia tetap mampu lolos dari kejaran pasukan Belanda dengan menyamar sebagai warga biasa,” ungkap Zaki.
Selain berjasa dalam bidang logistik perang, Bu Dar juga memiliki perhatian besar terhadap pendidikan generasi muda. Setelah perang usai, rumahnya di Jalan Pacar Nomor 1 Surabaya dijadikan asrama bagi pelajar dan anak-anak muda yang ia bina dengan disiplin ketat.
“Bundar percaya masa depan bangsa harus dipimpin oleh orang-orang terdidik. Karena itu, ia membiayai pendidikan banyak anak muda dan mengangkat mereka sebagai anak asuh,” tuturnya.
Zaki juga menjelaskan bahwa Bu Dar menerima sejumlah penghargaan atas jasanya, di antaranya Bintang Gerilya dan Bintang Kesetiakawanan. Pemerintah Kota Surabaya bahkan tengah menyiapkan pengusulan Bu Dar sebagai Pahlawan Nasional. Namun, proses tersebut memerlukan pengumpulan data historis yang lengkap. “Masih banyak pekerjaan rumah, mulai penulisan biografi hingga pengenalan sosok Bu Dar kepada generasi muda agar jasanya tidak hilang ditelan zaman,” kata Zaki.
Menutup dialog, Zaki menekankan pentingnya menghadirkan kembali narasi sejarah dari sudut pandang yang lebih luas. Menurutnya, perjuangan kemerdekaan bukan hanya tentang mereka yang mengangkat senjata, tetapi juga mereka yang memastikan para pejuang tetap bertahan hidup. “Kisah Bu Dar mengajarkan kita bahwa kemerdekaan juga diperjuangkan lewat dapur umum, pengorbanan, dan keberanian yang sering kali tak banyak tercatat dalam buku sejarah,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....