Pakar ITS Pertanyakan Kesesuaian Desain KM Virgo Transport 8

  • 16 Sep 2026 05:49 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Dugaan penyebab terbaliknya KM Virgo Transport 8 di perairan Masalembo menjadi sorotan pakar hidrodinamika ITS. Guru Besar Departemen Teknik Perkapalan ITS, Prof Ir I Ketut Aria Pria Utama MSc PhD, menyoroti desain kapal.

Menurutnya, kesesuaian desain kapal dengan karakteristik perairan menjadi faktor penting dalam keselamatan pelayaran. Ia menjelaskan, aspek performa kapal di laut atau seakeeping masih kerap diabaikan dalam perancangan kapal Indonesia.

“Tidak sedikit masalah stabilitas dan kenyamanan gerak kapal terjadi karena aspek seakeeping kurang diperhatikan,” ujarnya, Selasa, 15 September 2026. KM Virgo Transport 8 diketahui merupakan kapal impor asal Jepang yang telah berusia sekitar 30 tahun.

Namun, Ketut menilai usia kapal bukan persoalan utama selama perawatan dilakukan secara baik dan berkala. “Yang perlu dikritisi adalah apakah desain kapal buatan Jepang sesuai untuk berlayar di lautan Indonesia,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi perairan Jepang berbeda dengan karakteristik perairan Indonesia yang lebih terbuka dan bergelombang. “Karakteristik rute pelayaran yang ekstrem ini menuntut standar desain lambung kapal yang berbeda," ucapnya.

Ketut menjelaskan, kapal feri jenis roll-on/roll-off atau Ro-Ro memiliki karakteristik desain tertentu. Kapal Ro-Ro dari negara empat musim umumnya memiliki lambung tertutup penuh untuk menghadapi cuaca dingin.

KM Virgo Transport 8 sendiri diketahui merupakan kapal dengan jenis Ro-Ro. Ketut mengatakan desain kapal yang beroperasi Indonesia dapat menggunakan bukaan pada sisi samping.

“Desain seperti itu juga berfungsi mengurangi beban pajak ruang tertutup (enclosed space),” ujarnya. Menurutnya, kondisi tersebut berkaitan dengan stabilitas kapal ketika beroperasi di perairan Indonesia.

Ia juga menyebut kemungkinan masuknya air dalam jumlah besar ke dalam badan kapal. “Pemicu masuknya air dapat berasal dari cuaca buruk, gelombang tinggi, atau ramp door tidak kedap air,” katanya.

Air yang masuk ke dek kapal dapat memicu efek permukaan bebas atau sloshing effect. Kondisi tersebut dapat menyebabkan kapal bergoyang tidak stabil apabila sistem pompa tidak memadai.

“Risiko semakin diperparah jika kendaraan tidak diikat benar, sehingga bergeser dan mengubah titik pusat massa kapal," katanya. Selain faktor teknis, ia menyoroti pentingnya edukasi keselamatan pelayaran kepada seluruh penumpang.

Menurutnya, penumpang perlu menerima safety induction dan prosedur darurat sebelum kapal berangkat. “Hal ini krusial untuk memastikan penumpang memahami langkah evakuasi mandiri,” ujarnya mengingatkan.

Ia menilai edukasi tersebut penting menghadapi situasi darurat yang dapat terjadi secara tidak terduga. Penjelasan Ketut diharapkan memperkuat perhatian terhadap keselamatan transportasi laut Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....