Beradaptasi Sesama Manusia Berlandaskan Ilmu Akhlak
- 15 Sep 2026 10:11 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Sikap saling menghormati dan menghargai menjadi salah satu kunci dalam membangun kehidupan masyarakat yang aman, tenteram, dan damai. Hal tersebut disampaikan K.H. Qodli Syafi'i Al-Hasby, Wakil Bendahara Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Surabaya, dalam Dialog Moderasi Beragama di RRI Surabaya pada Senin, 14 September 2026.
Dalam dialog bertopik “Beradaptasi Sesama Manusia”, Kyai Qodli menjelaskan bahwa kehidupan bermasyarakat, bernegara, dan beragama menurut ajaran Islam perlu berpedoman pada Al-Qur'an dan Hadis. Adaptasi dengan sesama manusia dapat dilakukan melalui sikap saling menghormati dan menghargai untuk menciptakan kehidupan yang aman, tenteram, serta damai.
Ia menekankan, kebersamaan dan kekompakan di tengah masyarakat tidak cukup hanya mengandalkan rasa kebersamaan, tetapi perlu dibungkus dengan ilmu dan akhlak. Menurutnya, ilmu berperan mencegah masyarakat terjebak dalam “ketaatan buta”, sekaligus membantu setiap orang memilah sesuatu yang benar dan yang salah.
Kyai Qodli juga menjelaskan pentingnya aturan dalam kehidupan bermasyarakat agar berbagai aktivitas tidak menimbulkan gesekan maupun perpecahan. Ia mencontohkan fenomena sound horeg yang belakangan ramai diperbincangkan, yang dapat menjadi haram apabila penggunaannya sampai mengganggu orang lain. Karena itu, menurutnya, pemerintah perlu menghadirkan aturan, termasuk melalui peraturan daerah, untuk menata aktivitas tersebut.
Selain aturan, pemimpin juga dinilai memiliki tanggung jawab untuk menjadi teladan dalam kehidupan masyarakat. Keteladanan tersebut dimulai dari lingkup keluarga, seperti ayah, hingga pemimpin pemerintahan, ulama, dan organisasi. Kurangnya moralitas pemimpin, termasuk tindakan korupsi, dapat menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat dan berpotensi memicu perpecahan.
Dalam menyikapi perbedaan dan persoalan di tengah masyarakat, Kyai Qodli mengingatkan pentingnya menyampaikan kritik secara membangun. Kritik dalam kehidupan bernegara diperbolehkan selama tidak berubah menjadi hujatan yang justru memperkeruh keadaan. “Masalah kecil sebaiknya dihabiskan, dan masalah besar dikecilkan,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengaitkan kemampuan beradaptasi dengan kandungan Surah Al-Hujurat ayat 13. Menurutnya, Allah menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal atau lita'arafu. Prinsip tersebut berlaku bagi seluruh manusia tanpa memandang latar belakang agama, sehingga perbedaan dapat menjadi ruang untuk saling mengenal dan berlomba dalam kebaikan atau fabaqul khairat.
Menutup dialog, K.H. Qodli Syafi'i Al-Hasby menegaskan pentingnya membentengi kehidupan bermasyarakat dan bernegara dengan ilmu serta akhlak. “Kita harus saling menunjukkan akhlak yang baik, bergotong royong dalam kebaikan, serta saling menghormati,” pesannya, agar tercipta kehidupan yang damai, tenteram, dan mendukung kemajuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....