BNPB Tekankan Keselamatan Jurnalis saat Liputan Bencana
- 14 Sep 2026 20:07 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Keselamatan menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan insan pers ketika menjalankan tugas peliputan di wilayah rawan bencana. Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB menilai profesionalisme jurnalistik perlu berjalan beriringan dengan kesiapsiagaan menghadapi risiko di lapangan.
Direktur Sistem Penanggulangan Bencana BNPB, Dr. Agus Wibowo, saat menjadi narasumber Dialog Aspirasi Pro1 RRI Surabaya, Senin 14 September 2026 mengatakan ketika terjun melakukan peliputan di wilayah rawan bencana, awak media perlu memiliki wawasan dan edukasi yang cukup mengenai risiko keselamatan. Pengetahuan tersebut menjadi bekal agar jurnalis dapat mengenali kondisi wilayah dan menentukan langkah yang tepat ketika menghadapi situasi darurat.
“Ketika terjun untuk meliput, tentu harus ada wawasan dan edukasi. Seberapa penting upaya keselamatan itu diterapkan di daerah rawan bencana, misalnya. Ini menjadi poin-poin penting yang harus dipahami oleh rekan-rekan media,” ujar Agus Wibowo.
Menurut Agus, kesiapan sebelum melakukan peliputan tidak hanya menyangkut kondisi fisik, tetapi juga pemahaman terhadap karakteristik wilayah serta potensi ancaman bencana yang mungkin dihadapi.
“Profesionalisme tentu harus ada upaya kesiapan yang dilakukan awak media sebelum melakukan peliputan. Baik itu kesiapan fisik, literasi berkaitan dengan kondisi ataupun wilayah bencana, dan juga hal-hal lain yang kemudian ini berkaitan dengan keselamatan,” katanya.
Upaya meningkatkan kesiapan tersebut, menurut Agus, juga membutuhkan keterlibatan bersama antara BNPB, pemangku kepentingan terkait, dan insan pers. Sosialisasi serta edukasi kebencanaan terus dilakukan sebagai bekal bagi awak media dalam menjalankan tugas peliputan di lapangan.
BNPB, lanjut Agus, juga berupaya mendampingi rekan-rekan media dalam pelaksanaan peliputan, terutama ketika berada di lokasi yang memiliki potensi bahaya. Kolaborasi tersebut dinilai penting karena peliputan bencana pada akhirnya bertujuan menghasilkan informasi yang dibutuhkan masyarakat.
“Jadi, ada sosialisasi, ada edukasi kepada awak media, dan kebersamaan dengan seluruh stakeholder untuk mendampingi rekan-rekan media dalam pelaksanaan peliputan. Karena tentu tujuan utamanya adalah menghasilkan informasi yang dibutuhkan publik,” ujar Agus.
Selain sosialisasi dan edukasi, BNPB menyiapkan InaRISK Personal yang dapat dimanfaatkan masyarakat, termasuk awak media, untuk mengenali potensi bahaya di suatu wilayah sebelum melakukan aktivitas di lokasi tersebut.
InaRISK Personal merupakan aplikasi BNPB yang menyediakan informasi tingkat bahaya suatu wilayah sekaligus rekomendasi tindakan untuk mengantisipasinya. BNPB menyebut aplikasi tersebut dapat membantu masyarakat memantau risiko bencana di lokasi masing-masing dan memperoleh rekomendasi mitigasi.
“BNPB juga menyiapkan InaRISK Personal. Diharapkan seluruh masyarakat, termasuk awak media, bisa mengakses kawasan-kawasan yang diduga rawan bencana dan bagaimana cara-cara untuk bertahan, cara-cara untuk menyelamatkan diri, dan terlebih tadi menghindarkan diri dari malapetaka,” kata Agus.
Pemanfaatan InaRISK Personal menjadi salah satu bagian dari upaya mengenali risiko sebelum seseorang berada di lokasi bencana. BNPB menjelaskan aplikasi tersebut memuat informasi ancaman bencana dan rekomendasi mitigasi, termasuk tindakan sebelum, saat, maupun setelah bencana.
Dengan kesiapan fisik, pengetahuan mengenai karakteristik wilayah, pemahaman risiko, serta dukungan dari berbagai pihak, peliputan di wilayah rawan bencana diharapkan tetap dapat berjalan tanpa mengabaikan keselamatan jurnalis.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....