Indonesia Tak Boleh Abai Ancaman Gempa, Struktur Bangunan Perlu Diperkuat

  • 26 Agt 2026 10:00 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu 15 Agustus 2026 menjadi pengingat bahwa Indonesia tidak boleh abai terhadap ancaman gempa. Tokoh peduli inovasi teknologi, Hadi Wardoyo, menilai penguatan struktur bangunan harus menjadi bagian penting dari mitigasi bencana.

“Yang harus kita pikirkan adalah bagaimana keselamatan manusia menjadi prioritas sejak bangunan itu direncanakan. Gempa tidak bisa kita hentikan, tetapi risiko akibat keruntuhan bangunan dapat kita kurangi,” ujar Hadi yang juga CEO Kawoong Innovation, Rabu, 26 Agustus 2026.

Hadi mengatakan mitigasi gempa tidak seharusnya baru dilakukan setelah bencana terjadi, tetapi harus dimulai sejak tahap perencanaan bangunan. Menurut dia, fondasi dan sistem struktur perlu dirancang dengan mempertimbangkan karakteristik tanah serta potensi guncangan di wilayah rawan gempa.

“Kuncinya adalah kekuatan dan fleksibilitas fondasi dalam menahan guncangan gempa. Fondasi yang kokoh dan fleksibel mampu menyalurkan energi gempa secara lebih merata ke tanah, mengurangi risiko keretakan, dan pada akhirnya dapat menekan biaya perbaikan,” ujar Hadi.

Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah Konstruksi Jaring Rusuk Beton (KJRB), penyempurnaan dari Konstruksi Sarang Laba Laba (KSLL) yang ditemukan Ryantori dan Sutjipto pada 1976. Teknologi tersebut dikembangkan untuk fondasi bangunan dan disebut telah digunakan pada berbagai gedung, fasilitas publik, gudang, hingga infrastruktur di sejumlah wilayah Indonesia.

“Indonesia tidak mungkin menunggu gempa berikutnya untuk kemudian berbenah,” kata Hadi.

Menurut Hadi, penguatan struktur bangunan perlu berjalan bersama evaluasi bangunan lama, penerapan standar konstruksi, perencanaan tata ruang, serta peningkatan literasi kebencanaan masyarakat. Gempa Flores menunjukkan bahwa kesiapan harus dibangun sebelum bencana datang agar risiko korban jiwa dan kerusakan bangunan dapat ditekan.

Sebagaimana diketahui, gempa yang berpusat di laut sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo itu memicu peringatan dini tsunami yang kemudian berakhir pada pukul 07.30 WIB. Berdasarkan laporan Reuters yang mengutip data BNPB, sedikitnya 47 orang meninggal dunia, ratusan bangunan rusak, dan sekitar 2.000 warga Nagekeo mengungsi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....