AJI Ingatkan Jurnalis, Tak Ada Berita Seharga Nyawa

  • 14 Sep 2026 11:59 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Keselamatan jurnalis saat bertugas di daerah rawan bencana kembali menjadi sorotan. Jaminan keselamatan dinilai tidak datang begitu saja, melainkan berakar dari kemampuan jurnalis dalam memetakan potensi bahaya serta kesiapan kantor media dalam menerapkan prosedur operasional standar (SOP) peliputan.

Menurut Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya Yulianus Andre Yuris saat diwawancara RRI Minggu 13 September 2026 mengatakan penilaian risiko (risk assessment) menjadi langkah mendasar yang wajib dilakukan jurnalis sebelum terjun ke lokasi bencana.

“Tidak ada berita seharga nyawa. Jurnalis harus tahu mana risiko yang bisa diterima dan mana yang tidak bisa ditolerir, artinya segal risiko yang ada perlu di perhitungkan dengan matang sebelum melakukan peliputan. Lebih bagus lagi jika dilengkapi dengan perbekalan yang mumpuni,” ujar Andre.

Dirinya menjelaskan melalui pemetaan ini, jurnalis dapat memilah mana risiko yang masih bisa ditolerir dan mana yang dapat mengancam keselamatan jiwa. Melalui kesiapan teknis dan mitigasi mandiri perlu disiapkan secara matang.

“Sebagai contoh, saat melakukan peliputan banjir, jurnalis harus memastikan peralatan kerja seperti kamera terlindungi dalam wadah kedap air. Namun, jika timbul risiko fatal seperti ancaman tenggelam sementara jurnalis tidak memiliki kemampuan berenang, langkah mitigasi yang tepat harus diambil,” ucapnya.

Sementara Aktivis Relawan Sekber Relawan Penanggulangan Bencana Jawa Timur (SRPB Jatim) Rachmad Subekti Kimiawan menyebut informasi serta zonasi bahaya yang dirilis oleh lembaga resmi seperti Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) bisa dijadikan panduan utama bagi insan pers sebelum meliput.

“Biasanya PVMBG sudah mengeluarkan semacam rilis yang dimana itu bisa di jadikan suatu patokan bagi jurnalis untuk memperhitungkan risiko yang mungkin saja terjadi di lapangan. Karena situasi di tkp bencana kadang memang tidak bisa di prediksi,” ungkap Rachmad.

Dengan tersedianya SOP di tingkat redaksi serta pemahaman risiko dari para jurnalis, diharapkan proses pencarian informasi di wilayah bencana dapat tetap berjalan tanpa mengorbankan keselamatan jiwa jurnalis di lapangan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....