Peneliti BRIN: Kajian Arkeologi Kini Terintegrasi dengan Ilmu Kebumian
- 12 Sep 2026 21:07 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Perkembangan arkeologi kini semakin bersinggungan dengan geologi dan ilmu kebumian. Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Danny Hilman Natawidjaja, mengatakan kajian tersebut terus berkembang.
Menurut Danny, perkembangan itu melahirkan istilah geoarkeologi dan arkeogeologi dengan penekanan berbeda. “Ini cukup luas lingkupnya, bahkan di seismologi sekarang ada yang lebih khusus,” ujarnya, Sabtu, 12 September2026.
Ia menjelaskan, data kegempaan memiliki keterkaitan dengan perkembangan kebudayaan manusia pada masa lalu. Karena itu, kini berkembang kajian arkeologi seismik yang menghubungkan gempa dengan peninggalan budaya.
Danny mengatakan, kajian gempa bumi dan arkeologi geologi memiliki konsep serta metodologi yang tidak jauh berbeda. “Keduanya sama-sama konsen pada Kuarter akhir, berbeda dengan geologi Tersier,” katanya.
Dalam kajian gempa bumi, penelitian diawali melalui pemetaan aktif menggunakan teknologi penginderaan jauh beresolusi tinggi. Teknologi tersebut mencakup Digital Terrain Model (DTM) dan data penginderaan jauh beresolusi tinggi.
Selanjutnya, peneliti melakukan pemetaan geomorfologi secara langsung di lapangan untuk memperkuat hasil penelitian. Penelitian juga menggunakan sejumlah peralatan, seperti Ground Penetrating Radar (GPR) dan geolistrik.
Danny menjelaskan, peralatan tersebut diperlukan karena jalur sesar tidak selalu terlihat jelas di permukaan. “Tidak selamanya jalur sesar di permukaan ini jelas, jadi kita perlu bantuan peralatan itu,” ujarnya.
Pendekatan lintas disiplin tersebut membantu peneliti menghubungkan rekam jejak gempa dengan perubahan lingkungan dan kebudayaan. Kajian tersebut membuat penelitian kegempaan tidak hanya berfokus pada aspek geologi, tetapi juga sejarah peradaban.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....