Menakar Perjalanan dan Tantangan Pembangunan Kesehatan Indonesia
- 05 Sep 2026 21:04 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya — Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan panjang pembangunan kesehatan nasional. Dalam rentang lebih dari delapan dekade, wajah kesehatan Indonesia telah berubah secara signifikan. Dari sistem pelayanan yang dahulu terbatas, kini Indonesia memiliki jaringan puskesmas, rumah sakit, program jaminan kesehatan, tenaga medis dan tenaga kesehatan yang semakin beragam, hingga sistem kesehatan yang mulai bergerak menuju digitalisasi.
Namun, di balik berbagai kemajuan tersebut, pekerjaan rumah pembangunan kesehatan masih jauh dari selesai. Ketimpangan akses, distribusi tenaga kesehatan, kualitas pelayanan, perlindungan dan kesejahteraan tenaga kesehatan, hingga kesenjangan antara wilayah perkotaan dan daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) masih menjadi persoalan yang membutuhkan dorongan kuat dan konsisten.
Prof. Dr. Santi Martini, dr.M.Kes Pengurus IAKMI Cabang Surabaya sekaligus Dosen FKM UNAIR Surabaya, saat berbincang dengan RRI Surabaya, Sabtu, 5 September 2026 menilai, Perjalanan pembangunan kesehatan Indonesia menunjukkan perubahan besar dalam tata kelola. Sistem kesehatan tidak lagi semata-mata berorientasi pada pengobatan ketika masyarakat sakit, tetapi semakin diarahkan pada upaya promotif dan preventif, penguatan layanan primer, sistem rujukan, pembiayaan, ketahanan kesehatan, sumber daya manusia, serta pemanfaatan teknologi.
"Kementerian Kesehatan saat ini menjalankan transformasi kesehatan melalui enam pilar utama, yakni transformasi layanan primer, layanan rujukan, sistem ketahanan kesehatan, pembiayaan kesehatan, sumber daya manusia kesehatan, dan teknologi kesehatan," ujarnya.
Perubahan tersebut menandai pergeseran cara pandang. Puskesmas, misalnya, tidak lagi hanya diposisikan sebagai tempat masyarakat datang ketika sakit, tetapi juga sebagai garda terdepan dalam pencegahan penyakit, skrining, imunisasi, pemantauan kesehatan sepanjang siklus hidup, serta penguatan kesehatan masyarakat.
Di sisi lain, kata Prof. Santi, rumah sakit juga terus didorong untuk meningkatkan mutu layanan dan memperluas akses terhadap layanan rujukan. Pemerintah bahkan menempatkan pembangunan dan penguatan rumah sakit di kawasan Indonesia Timur sebagai bagian dari upaya pemerataan layanan kesehatan.
Perubahan lainnya terjadi pada pembiayaan kesehatan. "Kehadiran Jaminan Kesehatan Nasional telah mengubah lanskap akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. Negara berupaya membangun sistem pembiayaan yang lebih berkeadilan sehingga kemampuan ekonomi tidak semestinya menjadi satu-satunya penentu apakah seseorang dapat memperoleh pelayanan kesehatan," ucapnya.
Pandemi COVID-19 menjadi salah satu titik balik penting dalam perjalanan sistem kesehatan Indonesia. Pandemi memperlihatkan bahwa sistem kesehatan membutuhkan data yang cepat, terintegrasi, dan dapat digunakan untuk mengambil keputusan.
Karena itu, digitalisasi kini menjadi bagian penting dalam transformasi kesehatan. Pemerintah memperkuat ekosistem SATUSEHAT untuk mengintegrasikan data dan layanan kesehatan dari berbagai fasilitas, mulai dari rumah sakit, puskesmas, laboratorium hingga apotek.
Menurut Prof. Santi, Teknologi memberikan peluang besar. Konsultasi jarak jauh, rekam medis elektronik, pemanfaatan data kesehatan, hingga pengembangan berbagai inovasi digital dapat membantu mengatasi hambatan geografis yang selama puluhan tahun menjadi persoalan Indonesia sebagai negara kepulauan.
Sinyal internet tidak akan banyak berarti apabila di ujung jaringan tidak terdapat tenaga kesehatan yang mampu memberikan pelayanan. Aplikasi kesehatan juga tidak akan menyelesaikan persoalan apabila fasilitas kesehatan kekurangan dokter, dokter gigi, perawat, bidan, tenaga kesehatan masyarakat, tenaga laboratorium, tenaga farmasi, dan tenaga kesehatan lainnya.
Pembangunan fasilitas kesehatan dapat terlihat secara fisik. Rumah sakit dapat dibangun, puskesmas dapat direnovasi, peralatan medis dapat dibeli, dan sistem digital dapat dikembangkan. Tetapi kualitas pelayanan pada akhirnya sangat bergantung kepada manusia yang menjalankannya.
Pemerintah sendiri ucap Prof. Santi, menempatkan transformasi SDM kesehatan sebagai salah satu pilar utama reformasi kesehatan. Fokusnya antara lain memastikan ketersediaan, kualitas, dan pemerataan distribusi tenaga kesehatan, termasuk untuk kawasan daerah tertinggal, perbatasan, dan kepulauan.
"Perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan pun mulai diarahkan berbasis wilayah agar kebutuhan setiap daerah dapat dipetakan secara lebih objektif. Pendekatan tersebut penting karena persoalan kesehatan di Indonesia tidak seragam. Kebutuhan sebuah kota besar tentu berbeda dengan kabupaten kepulauan atau wilayah pegunungan yang akses transportasinya terbatas.
Namun, pemerataan tenaga kesehatan bukan sekadar persoalan mengirimkan dokter atau tenaga kesehatan ke daerah. Ada persoalan yang lebih besar: bagaimana membuat mereka mau datang, mampu bertahan, berkembang secara profesional, dan merasa aman ketika bekerja di wilayah tersebut," ujarnya.
Prof. Santi menilai Pembangunan kesehatan juga tidak dapat dipisahkan dari perlindungan terhadap tenaga medis dan tenaga kesehatan.
"Mereka berada di garis depan pelayanan. Mereka menghadapi risiko pekerjaan, tekanan pelayanan, beban administratif, tuntutan profesional, serta dalam situasi tertentu harus bekerja dengan sumber daya yang terbatas.Karena itu, peningkatan mutu pelayanan harus berjalan beriringan dengan perlindungan, kesejahteraan, dan pengembangan karier tenaga kesehatan, "katanya.
Menurut Prof. Santi, Arah kebijakan SDM kesehatan pemerintah periode 2025–2029 juga memasukkan aspek pembinaan dan pengawasan, perlindungan, kesejahteraan, karier, pendidikan, beasiswa, peningkatan kompetensi, serta pemerataan distribusi tenaga kesehatan. Ini merupakan langkah penting. Sebab, sulit berharap terciptanya pelayanan kesehatan yang aman dan berkualitas apabila orang-orang yang memberikan pelayanan tersebut bekerja dalam sistem yang tidak memberikan perlindungan dan dukungan yang memadai.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....