RSKKA Perpanjang Pelayanan Kesehatan bagi Korban Gempa di Dampek

  • 01 Sep 2026 09:04 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur menetapkan tanggap darurat gempa selama 15 hingga 28 Agustus 2026. Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga (RSKKA) kemudian bergabung memberikan pelayanan kesehatan di wilayah terdampak.

Direktur RSKKA, Dr. Agus Harianto, SpB, mengakui timnya terlambat tiba akibat keterbatasan pendanaan. “Bahkan membeli solar untuk satu kali perjalanan ke Labuan Bajo saja pada waktu itu tidak sanggup,” ujarnya, Senin, 31 Agustus 2026.

Namun, dukungan dan empati berbagai pihak akhirnya memungkinkan RSKKA memasuki Dampek pada 21 Agustus 2026. Dampek menjadi salah satu wilayah yang terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur.

Keterbatasan dokter spesialis mendorong RSKKA membangun kolaborasi dengan berbagai lembaga kemanusiaan dan rumah sakit. Kolaborasi tersebut kemudian membentuk Rumah Sakit Lapangan Kolaborasi (RSLK) Dampek.

“RS lapangan ini pada masa tanggap darurat awal fokus menangani trauma fisik, seperti patah tulang dan luka,” kata Agus. Pelayanan dilakukan melalui kolaborasi tenaga kesehatan dari berbagai lembaga yang hadir di Dampek.

Sebelum RSKKA tiba, dokter Puskesmas Dampek, Dr. Melinda, menyoroti persoalan rujukan pasien pascagempa. “Banyak orang meninggal sia-sia di sini karena seharusnya dirujuk, tetapi mereka tidak mau dirujuk,” ujarnya.

Sejumlah pasien menolak rujukan ke RSUD Borong karena jarak perjalanan yang cukup jauh. Perjalanan dari Dampek menuju Borong membutuhkan waktu sekitar lima hingga enam jam.

Selain jarak, keterbatasan biaya transportasi dan kebutuhan hidup selama berada di Borong menjadi pertimbangan pasien. Kehadiran RSKKA pun memberikan pilihan pelayanan kesehatan yang lebih dekat bagi masyarakat.

Salah seorang pasien, Hasri, 38 tahun, mengalami patah tulang paha akibat tertimpa reruntuhan tembok. Warga Dusun Ranapandang itu sebelumnya menolak rujukan karena mempertimbangkan jauhnya perjalanan menuju rumah sakit.

Hasri akhirnya menjalani operasi di RSKKA yang berlabuh di Teluk Nangga Lirang. “Saya tidak menyangka, ternyata saya bisa dioperasi di kapal phinisi yang berlabuh di pantai desa kami,” katanya.

Hingga 29 Agustus 2026, sebagian besar korban dengan patah tulang dan luka telah memperoleh pelayanan medis. Sejumlah pasien juga telah menjalani tindakan operasi di RSKKA.

Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur kemudian memperpanjang status tanggap darurat hingga 12 September 2026. Keputusan tersebut mendorong RSKKA mempertimbangkan kelanjutan pelayanan kesehatan di Dampek.

RSKKA sebagai motor pendirian RSLK Dampek ingin menjaga semangat dan kerja sama seluruh kolaborator. Selain itu, masyarakat Dampek dan sekitarnya masih membutuhkan pelayanan operasi.

“Banyak orang bertanya apakah RSKKA masih ada di Dampek,” ungkap Kepala Puskesmas Dampek, Herlina. Ia menyampaikan harapan masyarakat agar RSKKA memperpanjang masa pelayanannya.

Dalam misi kebencanaan ini, RSKKA mengusung tema Heal the Wounds and Restore Humanity with Love. Agus menilai upaya pemulihan kemanusiaan korban bencana masih perlu diperkuat.

“Kami merasa belum banyak berbuat dalam aspek trauma healing,” ujar Agus. Karena itu, Yayasan Ksatria Medika Airlangga memutuskan melanjutkan pelayanan kesehatan di Dampek.

RSKKA berencana mengirimkan psikiater, psikolog, serta dokter spesialis sesuai kebutuhan masyarakat. Tenaga kesehatan tersebut diharapkan mendukung pemulihan fisik dan psikologis korban gempa.

Agus mengakui RSKKA bukan organisasi dengan kekuatan pendanaan yang besar. Namun, ia optimistis dukungan berbagai pihak akan kembali membantu keberlanjutan pelayanan kemanusiaan.

“Pendeknya kami ingin korban gempa dan tenaga kesehatan di Dampek tidak merasa sendirian,” kata Agus. “Mereka masih punya sahabat yang bernama Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga".

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....