Guru Soroti Menurunnya Etika dan Ketaatan Belajar Siswa
- 23 Jul 2026 07:27 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID,Surabaya- Kelancaran proses belajar mengajar tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik siswa, tetapi juga oleh tegaknya aturan sekolah, ketertiban di kelas, motivasi belajar yang tinggi, serta etika yang baik. Keempat aspek tersebut dinilai menjadi fondasi penting dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif dan mampu mendukung peningkatan prestasi belajar.
Hal ini disampaikan oleh beberapa Pendidik di Surabaya kepada Pro1 melalui sambungan telepon Rabu, 22 Juli 2026.
Guru senior sekaligus Penasehat MI Sunan Giri Surabaya, H. Abdul Hadi, AMA.Pd, menilai saat ini terjadi penurunan ketaatan siswa terhadap kegiatan belajar. Menurutnya, kondisi tersebut tidak terlepas dari pengaruh lingkungan rumah, lingkungan pergaulan, serta melemahnya pengawasan orang tua terhadap aktivitas anak.
"Lingkungan rumah, lingkungan bermain dan pengawasan orang tua kendor. Ini semua yang menjadikan siswa kurang taat terhadap pelajaran. Porsi bermain lebih banyak ketimbang porsi belajar," ujar Abdul Hadi.
Ia menambahkan bahwa lingkungan memiliki peran besar dalam membentuk karakter dan kebiasaan belajar anak. Meski saat ini banyak tersedia lembaga pendidikan keagamaan seperti Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA), namun hal itu belum sepenuhnya mampu meningkatkan kepatuhan siswa terhadap nilai-nilai pendidikan dan etika.
"Pengaruh lingkungan juga berpengaruh akan ketaatan siswa. Padahal TPA banyak di kampung-kampung. Kenapa kepatuhan menurun? Yang menyedihkan kepatuhan pada faktor-faktor pendidikan. Kurang belajar, kurang hormat pada guru, kurang hormat pada orang tua," tambah Abdul Hadi.
Sementara itu, Guru Agama Islam SMK Pariwisata Satya Widya Surabaya, Drs. Muhammad Ghufron, menyoroti menurunnya etika dan kedisiplinan siswa yang menurutnya dipengaruhi oleh penggunaan telepon genggam secara berlebihan. Kondisi tersebut dinilai berdampak pada menurunnya minat belajar dan rasa hormat kepada orang yang lebih tua.
"Memang sekarang masalah etika menurun. Yang muda kurang menghormati yang tua. Sopan santun terabaikan. Ini disebabkan banyak bermain HP," kata Muhammad Ghufron yang juga merupakan Takmir Masjid An Nur Medokan Ayu, Rungkut, Surabaya.
Kedua pendidik tersebut sepakat bahwa pembinaan karakter dan etika harus menjadi perhatian bersama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Momentum seperti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS), maupun proses pembelajaran di kelas perlu dimanfaatkan secara optimal untuk menanamkan disiplin, sopan santun, dan tanggung jawab kepada peserta didik agar terbentuk generasi yang berkarakter sekaligus berprestasi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....