Jangkar Iman Jadi Benteng Gen Alpha di Era Digital
- 05 Sep 2026 09:33 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Derasnya arus informasi digital menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua dalam mendampingi Generasi Alpha. Penguatan keimanan dinilai penting agar anak memiliki benteng dari dalam diri ketika berhadapan dengan berbagai informasi dan pergaulan di ruang digital.
Hal tersebut disampaikan Ustazah Sri Handayani, Sekretaris Pimpinan Ranting Nasyiatul Aisyiyah PRNA Nglegok, Ponorogo, dalam tausiyah di program Mutiara Pagi Pro1 RRI Surabaya, Sabtu 5 September 2026.
Ustazah Sri Handayani mengatakan, Generasi Alpha tumbuh sebagai digital native yang terbiasa memperoleh informasi secara cepat dan mandiri. Kondisi tersebut membuat pola pendampingan orang tua perlu disesuaikan dengan karakter dan lingkungan tumbuh anak saat ini.
“Tantangan kita sebagai orang tua adalah bagaimana membersamai Gen Alpha di era digitalisasi. Mereka terbiasa mencari informasi secara instan dan mandiri, sehingga yang dibutuhkan bukan hanya pengawasan, tetapi pendampingan,” ujarnya.
Menurutnya, ruang digital juga menghadirkan tantangan moral, mulai berkurangnya interaksi tatap muka yang dapat memengaruhi empati, budaya flexing, krisis identitas, hingga risiko paparan konten seksual sejak usia dini. Data UNICEF Indonesia dalam studi 2023 menunjukkan 50,3 persen anak yang diteliti pernah melihat gambar seksual di media sosial.
Karena itu, orang tua perlu menanamkan jangkar iman sejak dini. Kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi setiap perbuatan, termasuk aktivitas di ruang digital, diharapkan dapat membentuk kontrol diri pada anak.
“Kita tidak mungkin mengawasi anak selama 24 jam. Yang harus dibangun adalah kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi. Apa yang mereka lihat, baca dan dengar di media sosial juga akan dipertanggungjawabkan,” katanya.
Pesan tersebut sejalan dengan firman Allah SWT dalam QS Al-Isra ayat 36: “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.”
Tanggung jawab orang tua juga ditegaskan Rasulullah SAW dalam hadis sahih HR Bukhari No. 7138 dan Muslim No. 1829: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
Ustazah Sri Handayani menegaskan, penguatan moral anak tidak cukup dilakukan melalui aturan dan larangan. Orang tua harus menjadi teladan, termasuk dalam penggunaan gawai. Aturan yang dibuat untuk anak juga perlu dijalankan orang tua agar menjadi kesepakatan bersama di dalam keluarga.
Selain keteladanan, komunikasi dialogis perlu dibangun agar anak memiliki ruang untuk bercerita dan menyampaikan pengalaman yang mereka temui di dunia maya. Orang tua juga perlu mengetahui lingkungan pertemanan anak, baik di dunia nyata maupun di ruang digital.
Teknologi, lanjutnya, tidak harus dijauhkan dari anak, tetapi diarahkan untuk kegiatan yang positif. Metode belajar juga dapat disesuaikan dengan perkembangan teknologi, disertai batasan penggunaan gawai dan screen time yang disepakati secara konsisten.
“Arus informasi tidak mungkin kita bendung. Tetapi dengan menanamkan jangkar iman, anak memiliki benteng dalam dirinya. Pondasi keimanan harus dibangun sehingga nilai moral tidak hanya menjadi aturan dari luar, tetapi melekat dalam diri anak,” tutur Sri Handayani.
Ia berharap orang tua tidak hanya menjadi pengawas, tetapi hadir sebagai pendamping dan teladan agar Generasi Alpha mampu memanfaatkan teknologi secara bijak, sekaligus tetap memiliki iman, empati dan tanggung jawab.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....