Inflasi Jatim Agustus 2026 Capai 3,32 Persen, Sumenep Tertinggi di 11 Kota IHK

  • 01 Sep 2026 15:59 WIB
  •  Surabaya
Poin Utama
  • Inflasi Jatim Agustus 2026 y-on-y 3,32% dengan IHK naik dari 108,65 ke 112,26, m-to-m 0,34% dan y-to-d 1,82%, dipicu kelompok makanan 4,36% dan perawatan pribadi 9,09%.
  • Sumenep inflasi tertinggi 3,99% IHK 116,04 dan Banyuwangi terendah 2,69% IHK 112,60 dari 11 kota IHK yang semua alami inflasi, Surabaya 3,62% dan Malang 3,31%.
  • Pemicu inflasi bulanan daging ayam ras andil 0,28% dan cabai rawit 0,04%, penahan bawang merah deflasi 0,06%, tren inflasi naik dibanding 2025 yang 2,17%.

RRI.CO.ID, Surabaya - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur mencatat inflasi Year on Year (y-on-y) Provinsi Jawa Timur pada Agustus 2026 sebesar 3,32 persen, dengan inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Sumenep sebesar 3,99 persen. Plt. Kepala BPS Provinsi Jawa Timur Ir. Herum Fajarwati, M.M mengatakan, perkembangan harga berbagai komoditas pada Agustus 2026 secara umum menunjukkan adanya kenaikan.

"Berdasarkan hasil pemantauan BPS Provinsi Jawa Timur pada Agustus 2026 terjadi inflasi year on year (y-on-y) sebesar 3,32 persen, atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,65 pada Agustus 2025 menjadi 112,26 pada Agustus 2026," ujar Herum dalam Berita Resmi Statistik, Senin, 1 September 2026.

Adapun secara Month to Month (m-to-m) dan Year to Date (y-to-d), Jawa Timur masing-masing mengalami inflasi sebesar 0,34 persen dan 1,82 persen. Dari sebelas kelompok pengeluaran, seluruhnya mengalami inflasi y-on-y. Kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau mengalami inflasi tertinggi 4,36 persen dengan andil 1,20 persen terhadap inflasi y-on-y.

Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya mencatat inflasi y-on-y sebesar 9,09 persen dengan andil 0,64 persen, dimana komoditas emas perhiasan menjadi penyumbang dominan 0,52 persen. Sementara Kelompok Transportasi inflasi 4,65 persen dengan andil 0,58 persen yang didorong bensin dan angkutan udara.

Untuk inflasi bulanan (m-to-m), komoditas yang dominan memberikan andil inflasi adalah daging ayam ras sebesar 0,28 persen, cabai rawit 0,04 persen, serta beras, udang basah, dan daging sapi masing-masing 0,02 persen.

"Sementara penahan inflasi adalah bawang merah deflasi andil 0,06 persen serta tomat dan bawang putih." ujarnya.

Pada Agustus 2026, 11 kabupaten/kota IHK di Jawa Timur seluruhnya mengalami inflasi y-on-y. Hal ini menunjukkan tekanan harga merata di seluruh wilayah pemantauan.

"Inflasi tertinggi terjadi di Sumenep sebesar 3,99 persen dengan IHK sebesar 116,04 sedangkan inflasi terendah terjadi di Banyuwangi sebesar 2,69 persen dengan IHK sebesar 112,60," jelas Herum.

Rinciannya, Kota Surabaya inflasi 3,62 persen, Kota Madiun 3,41 persen, Kota Malang 3,31 persen, Kota Kediri 3,28 persen, dan Kota Probolinggo 3,10 persen. Sementara Kabupaten Gresik 3,01 persen dan Kabupaten Tulungagung 3,00 persen.

Jika dibandingkan tahun sebelumnya, tingkat inflasi tahun ini meningkat. Pada Agustus 2025 inflasi y-on-y tercatat 2,17 persen dan y-to-d 1,44 persen, sedangkan Agustus 2024 inflasi y-on-y 2,05 persen dan y-to-d 0,78 persen.

BPS juga mencatat untuk inflasi m-to-m, Kota Surabaya menjadi yang terendah sebesar 0,09 persen, sementara Kabupaten Banyuwangi tertinggi bulanan sebesar 0,86 persen, diikuti Kabupaten Gresik 0,66 persen.

Dengan kondisi tersebut, BPS Provinsi Jawa Timur mengimbau masyarakat dan pemangku kebijakan untuk mewaspadai fluktuasi harga komoditas pangan, khususnya daging ayam ras dan cabai yang menjadi pemicu utama inflasi bulanan.

BPS Provinsi Jawa Timur akan terus memantau perkembangan harga di 11 kota IHK untuk menjaga stabilitas dan ketersediaan pasokan di Jawa Timur.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....