Teologi Kemerdekaan Dorong Introspeksi Bangsa

  • 26 Agt 2026 06:41 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Memasuki 81 tahun kemerdekaan Indonesia, masyarakat perlu kembali merefleksikan makna kemerdekaan secara menyeluruh, tidak hanya terbebas dari penjajahan, tetapi juga merdeka dalam bidang ekonomi, sosial, hukum, budaya, dan spiritual. Hal itu disampaikan H. Ibrahim dari FKUB Kota Surabaya dalam siaran Dialog Moderasi Beragama Pro 4 RRI Surabaya, Senin 24 Agustus 2026, dengan tema “Teologi Kemerdekaan dan Arah Indonesia”.

H. Ibrahim mengaitkan refleksi kemerdekaan dengan pesan Al-Qur’an dalam Surah An-Nahl ayat 112 tentang sebuah negeri yang sebelumnya aman dan tenteram, dengan rezeki yang berlimpah, tetapi kemudian mengalami kelaparan dan ketakutan akibat mengingkari nikmat Allah. Menurutnya, ayat tersebut menjadi pengingat bahwa kehidupan berbangsa harus dibangun dengan rasa syukur sekaligus tanggung jawab menjaga nikmat kemerdekaan.

“Semua musibah yang terjadi itu sebab dari perbuatan kita. Andaikan semua masyarakat Indonesia sadar akan hak dan kewajiban mempertahankan serta menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia, insyaallah kita tidak perlu susah-susah karena semuanya sudah diatur dalam tatanan berbangsa dan bernegara,” ujar Ibrahim.

Ia menilai Indonesia memiliki sumber daya alam dan potensi yang sangat besar sehingga semestinya mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. Karena itu, persoalan bangsa tidak cukup dilihat dari ketersediaan sumber daya, tetapi juga dari bagaimana seluruh elemen masyarakat mengelolanya dengan baik dan menjalankan kehidupan berbangsa berdasarkan nilai-nilai Pancasila serta keyakinan agama masing-masing.

Menurut Ibrahim, kemerdekaan Indonesia secara faktual memang telah membebaskan bangsa dari penjajahan negara lain, tetapi kemerdekaan secara substansial belum sepenuhnya terwujud. Ia menyoroti masih beratnya kondisi ekonomi, terbatasnya lapangan pekerjaan, persoalan sosial, hingga penegakan hukum yang masih dirasakan belum sepenuhnya memberikan rasa keadilan bagi masyarakat.

“Secara faktual, secara kenyataan ini kita belum seratus persen merdeka, dalam hal ekonomi kita dikuasai oleh orang luar. Dari segi sosial sangat rentan, kemudian dari segi hukum kita masih mendengar kalimat bahwa hukum itu tumpul ke atas, tajam ke bawah,” kata Ibrahim.

Memasuki usia 81 tahun kemerdekaan, Ibrahim mengajak seluruh elemen bangsa melakukan muhasabah atau introspeksi terhadap kontribusi masing-masing bagi negara. Ia juga menekankan pentingnya peran pemimpin untuk benar-benar mendengar kondisi masyarakat, memahami persoalan yang dihadapi, serta menjalankan tata aturan berbangsa dan bernegara berdasarkan ketentuan yang telah disepakati bersama.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, Ibrahim menegaskan bahwa umat dan seluruh elemen masyarakat memiliki peran strategis dalam menentukan arah Indonesia ke depan. Menurutnya, kemerdekaan harus diisi dengan perjuangan bersama untuk menghadirkan kebaikan, memperkuat kepercayaan terhadap nilai-nilai kebangsaan, serta menjaga Indonesia agar tetap aman, adil, sejahtera, dan berlandaskan Ketuhanan Yang Maha Esa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....