Menangkal Radikalisme dan Terorisme di Media Digital: Tekankan Cinta Kasih

  • 25 Agt 2026 09:33 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat menuntut masyarakat untuk semakin bijak dalam menggunakan perangkat pintar. Dalam program siaran interaktif Cahaya Pagi yang mengudara di Pro 4 RRI Surabaya pada Selasa 25 Agustus 2026 Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Simokerto, Ustadz Asy'ari, S.Pd.I., M.H., menyoroti secara tajam tantangan baru di era modern.

Asy'ari menyampaikan bahwa smartphone kini telah beredar luas di seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua. Kendati demikian, pemanfaatan smartphone tentu tidak lepas dari dampak positif maupun negatif, terutama bagi para pelajar yang kini makin rentan menjadi sasaran penyebaran paham radikalisme.

Fenomena sekolah-sekolah di Indonesia yang dalam beberapa tahun belakangan menjadi target infiltrasi radikalisme menjadi keprihatinan bersama. Ustadz Asy'ari menegaskan “Pentingnya membangun pemikiran kritis pada siswa-siswi sekolah sebagai benteng utama pertahanan ideologi.” Ungkap Ustadz Asy’ari.

Pemikiran kritis ini diharapkan mampu menjadi titik awal untuk mematikan isu-isu terkait radikalisme di kalangan pelajar. Berdasarkan riset ilmiah dengan pendekatan deskriptif kualitatif melalui wawancara dan analisis data terstruktur, terungkap bahwa tingkat literasi media remaja usia sekolah saat ini masih berada pada level dasar (basic). Meskipun generasi muda zaman sekarang sangat mahir mengoperasikan internet dengan berbagai fitur kompleks, kemampuan mereka dalam menganalisis serta menguji kebenaran pesan-pesan ideologis atau keagamaan yang ekstrem masih sangat terbatas.

Bahaya radikalisme tidak boleh dipandang sebelah mata karena dapat mengganggu kerukunan masyarakat dan menimbulkan dampak sosial maupun psikologis. Sejumlah kasus penangkapan terduga teroris yang diberitakan di berbagai daerah menunjukkan bahwa ancaman kekerasan berbasis ideologi masih menjadi perhatian.

Menanggapi persoalan tersebut, Ustadz Asy'ari meluruskan pandangan dengan mengutip hadis Nabi Muhammad SAW: “Agama yang paling dicintai di sisi Allah adalah agama yang lurus dan toleran” (HR. Bukhari). Menurutnya, Islam mengajarkan sikap moderat dan tidak berlebihan dalam beragama.

Lebih lanjut, Ustadz Asy'ari menegaskan bahwa “Radikalisme atas nama agama pada hakikatnya adalah pemahaman, sikap, dan tindakan yang bertolak belakang dengan substansi ajaran Islam itu sendiri. Islam secara tegas melarang segala bentuk kekerasan dan justru memerintahkan umatnya untuk senantiasa mengedepankan kasih sayang serta kesantunan, baik kepada sesama Muslim maupun kepada non-Muslim.” Ujar Ustadz Asy’ari.

Sifat ramah dan lembut ini merupakan cermin keimanan yang sejati, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda dalam Hadis Riwayat Muslim bahwa kasih sayang itu jika diletakkan pada sesuatu akan menghiasinya dengan kebaikan, dan jika dicabut akan menjadikannya buruk. Nabi Muhammad SAW adalah teladan kebajikan yang selalu mengajarkan keramahan kepada istrinya, Aisyah RA, serta kepada seluruh umat manusia.

Dalam siaran tersebut, dipaparkan pula lima pilar utama untuk mencegah penyebaran radikalisme dan terorisme di tengah masyarakat. Pertama, memahamkan ajaran agama secara utuh, benar, dan inklusif. Kedua, menjaga persatuan dan kesatuan bangsa di atas perbedaan. Ketiga, meningkatkan pemahaman akan pentingnya hidup dalam kebersamaan.

Selain itu keempat, bersikap kritis dan menyaring setiap informasi yang diterima. Serta kelima, ikut aktif menyosialisasikan bahaya radikalisme dan terorisme. Prinsip kebersamaan ini berlandaskan pada hadis Nabi Muhammad SAW (HR. Bukhari) yang menyatakan bahwa keimanan seseorang tidak sempurna sebelum ia mencintai saudaranya yang mencakup persaudaraan kemanusiaan (ukhuwah insaniyah)—sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.

Untuk menghadapi ancaman radikalisme secara komprehensif, Ustadz Asy'ari merincikan enam langkah solusi strategis yang dapat diterapkan oleh masyarakat dan pemerintah: Penguatan peran keluarga, pendidikan toleransi sejak dini, penguatan literasi digital, pelibatan tokoh agama & masyarakat, dialog antaragama & budaya dan penegakan hukum tegas & adil

Sebagai penutup siaran Cahaya Pagi, Ustadz Asy'ari mengimbau pentingnya dukungan hasil riset dan publikasi jurnal ilmiah akademis sebagai penyedia data dan analisis fakta yang mendalam. Publikasi kajian yang terstruktur akan membantu para pemangku kebijakan, peneliti, dan praktisi dalam merumuskan strategi pencegahan radikalisme yang berbasis bukti nyata.

Ia mengajak seluruh warga Surabaya, khususnya para pendengar RRI Pro 4, untuk menjadikan media digital sebagai sarana menyebarkan pesan-pesan perdamaian, keramahan, dan cinta kasih demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....