BMKG Dorong Literasi Masyarakat Hadapi Gempa

  • 21 Agt 2026 20:14 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Masyarakat Indonesia perlu memiliki pemahaman yang baik mengenai karakter kegempaan di wilayah masing-masing, menyusul kondisi Indonesia yang berada di kawasan tektonik aktif.

Penanggung Jawab Kendali Mutu Data Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Dr. Pepen Supendi, mengatakan literasi kebencanaan dan kegempaan menjadi bagian penting dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat.

Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa sumber gempa di Indonesia beragam, tidak hanya berasal dari zona megathrust, tetapi juga sesar aktif, zona subduksi, hingga sistem back-arc thrust atau sesar naik busur belakang.

“Indonesia ini memang secara tektonik aktif. Jadi kalau kemudian terjadi beberapa gempa, jangan langsung dikaitkan bahwa semua lempeng atau semua sesar itu sedang aktif secara bersamaan. Bisa saja itu terjadi secara kebetulan,” ujar Pepen saat diwawancarai RRI Surabaya, Rabu 19 Agustus 2026.

Pepen menjelaskan, aktivitas kegempaan merupakan konsekuensi dari kondisi tektonik Indonesia yang berada pada pertemuan sejumlah lempeng. Karena itu, terjadinya gempa di beberapa wilayah dalam waktu yang berdekatan tidak serta-merta menunjukkan adanya hubungan langsung secara tektonik.

Menurutnya, diperlukan analisis terhadap lokasi, kedalaman, mekanisme sumber, dan karakter masing-masing gempa sebelum menyimpulkan adanya keterkaitan antara satu kejadian dengan kejadian lainnya.

“Kalau ada gempa yang terjadi beruntun, belum tentu itu karena sesarnya aktif bersamaan. Kita harus melihat dulu sumbernya di mana, mekanismenya bagaimana, dan apakah memang ada keterkaitan secara tektonik,” katanya.

Pepen menilai pemahaman tersebut penting disampaikan kepada masyarakat agar informasi mengenai aktivitas kegempaan tidak berkembang menjadi kekhawatiran maupun kepanikan.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak hanya berfokus pada istilah megathrust ketika membicarakan potensi kegempaan, termasuk di Jawa Timur.

Menurutnya, wilayah Jawa Timur juga memiliki sumber kegempaan lain yang perlu dipahami masyarakat, termasuk sistem back-arc thrust atau sesar naik busur belakang, selain sesar-sesar aktif dan zona subduksi.

“Jadi bukan hanya megathrust yang harus kita pahami. Ada juga back-arc thrust, ada sesar-sesar aktif, dan ada wilayah subduksi. Ini semua merupakan bagian dari kondisi tektonik Indonesia yang memang aktif,” katanya.

Data BMKG menunjukkan struktur back-arc thrust terdapat di kawasan Selat Madura dan menjadi salah satu sumber gempa di wilayah Jawa Timur. Analisis BMKG terhadap gempa Sumenep pada September 2025 menyebut gempa tersebut berkaitan dengan aktivitas sesar aktif bawah laut yang berasosiasi dengan Madura Strait Back Arc Thrust.

Kajian seismologi yang melibatkan Pepen Supendi juga menunjukkan adanya aktivitas gempa dangkal di Jawa Timur yang berkaitan dengan Kendeng Thrust dan Zona Sesar Rembang–Madura–Kangean–Sakala (RMKS).

Sementara itu, pemutakhiran Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 memasukkan Sesar Baribis, Sesar Semarang, dan Sesar Kendeng dalam sistem Java Back-arc Thrust. Sejumlah segmen sistem tersebut juga berada di wilayah Jawa Timur, antara lain Pandan, Drenges, Waru, Selat Madura, dan Situbondo.

Pepen menilai pemahaman terhadap berbagai sumber gempa tersebut penting karena karakter ancaman di setiap wilayah tidak selalu sama. Masyarakat perlu mengetahui potensi di daerah masing-masing sekaligus memahami langkah mitigasi yang harus dilakukan.

“Yang penting adalah bagaimana masyarakat tahu apa yang harus dilakukan, bahayanya seperti apa, dan mitigasinya seperti apa. Jadi bukan untuk membuat masyarakat takut, tetapi supaya masyarakat lebih siap,” ujarnya.

Menurut Pepen, literasi kegempaan juga perlu berjalan beriringan dengan sistem monitoring dan penyampaian informasi kebencanaan yang baik. Masyarakat perlu mendapatkan informasi berdasarkan data dan analisis ilmiah, bukan berdasarkan dugaan atau informasi yang belum terverifikasi.

Ia menilai edukasi dan sosialisasi harus dilakukan secara berkelanjutan, sehingga masyarakat tidak baru belajar mengenai mitigasi ketika gempa terjadi.

Pemahaman tersebut menjadi semakin penting karena aktivitas kegempaan dapat terjadi di berbagai wilayah Indonesia dengan karakter sumber yang berbeda. Masyarakat juga perlu memahami bahwa mengetahui potensi bukan berarti dapat memprediksi kapan gempa akan terjadi.

“Jadi bukan berarti ketika kita mengetahui ada sumber gempa, kemudian kita mengatakan gempa akan terjadi sekarang. Kita harus memahami bahwa potensi itu ada, tetapi yang paling penting adalah bagaimana kita melakukan mitigasi,” katanya.

Pepen mengatakan, mitigasi dapat dilakukan dengan mengenali lingkungan dan potensi bahaya di sekitar, memahami prosedur keselamatan, serta mengikuti informasi resmi dari lembaga yang berwenang.

Kondisi tersebut menjadi pelajaran penting dari berbagai kejadian gempa yang terjadi di Indonesia, termasuk gempa bumi magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus 2026.

BMKG mencatat gempa tersebut bersumber dari aktivitas Flores Back-Arc Thrust dan sempat memicu peringatan dini tsunami sebelum dinyatakan berakhir. Peristiwa tersebut sekaligus mengingatkan bahwa sumber kegempaan di Indonesia memiliki karakter yang beragam dan perlu dipahami secara ilmiah.

Pepen berharap masyarakat dapat menjadikan setiap kejadian gempa sebagai momentum untuk meningkatkan kesiapsiagaan, bukan memperbesar kekhawatiran.

Dengan literasi kebencanaan yang baik, masyarakat diharapkan mampu memahami informasi mengenai gempa secara proporsional, mengetahui potensi bahaya di wilayahnya, serta melakukan langkah mitigasi yang tepat ketika terjadi bencana.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....