Mengenal Lebih Dekat WRS-NG, Perangkat BMKG Penerima Informasi Gempa dan Tsunami

  • 16 Sep 2026 11:23 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Dalam menghadapi ancaman bencana gempabumi dan tsunami di wilayah Indonesia, kecepatan dan keakuratan informasi menjadi faktor paling krusial untuk menyelamatkan nyawa. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengandalkan teknologi diseminasi mutakhir bernama Warning Receiver System - New Generation (WRS-NG). Perangkat ini dirancang sebagai sarana penerima informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami secara cepat, real-time, dan terintegrasi penuh ke dalam sistem *Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS).

Perangkat WRS-NG hadir dalam bentuk konsol layar tampilan interaktif yang terhubung langsung dengan pusat pemrosesan data geofisika BMKG. Kehadiran teknologi ini bertujuan untuk memangkas alur birokrasi informasi, sehingga stakeholder penanggulangan bencana di daerah seperti BPBD, pemerintah daerah, hingga media massa dapat segera mengambil keputusan darurat tanpa penundaan.

Sistem WRS-NG memiliki fungsi komprehensif dalam menyajikan data kebencanaan geofisika yang terbagi dalam dua kategori utama:

  1. Sebagai Informasi Gempabumi Cepat :
  • Menerima dan menampilkan informasi gempabumi secara otomatis dan real-time.
  • Menyajikan parameter lengkap gempa (titik koordinat episentrum, kedalaman, magnitudo, dan waktu kejadian).
  • Menampilkan peta guncangan (shakemap) untuk memvisualisasikan tingkat dampak di wilayah terdampak.
  • Menyediakan data intensitas guncangan yang dirasakan masyarakat (skala MMI).
  1. Sebagai Peringatan Dini Tsunami (PDT)
  • Menerima sinyal dan tampilan peringatan dini tsunami beserta status potensi ancaman.
  • Menampilkan estimasi waktu tiba gelombang tsunami (estimated time of arrival) di wilayah pesisir terdampak.
  • Menyajikan pemutakhiran data secara terus-menerus berdasarkan hasil observasi riil di lapangan.

Untuk menjaga keandalan sistem sekaligus kesiapan operator di lapangan, WRS-NG dilengkapi dengan dua moda penggunaan yaitu mode operasional. alat tersebut berjalan secara aktif nonstop 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Moda ini berfungsi penuh untuk menerima serta memproses data kebencanaan nyata yang dikirim langsung oleh Kedeputian Bidang Geofisika BMKG. Kemudian ada juga Mode TEST, Moda khusus yang disediakan untuk kegiatan simulasi (drill), gladi bersih, pelatihan teknis, maupun uji jaringan komunikasi. Dengan moda ini, para pemangku kepentingan dapat melatih prosedur respons darurat (SOP) secara berkala tanpa mengganggu alur operasional utama atau menimbulkan kepanikan palsu.

Perangkat WRS-NG menjadi ujung tombak dalam alur waktu (timeline) diseminasi informasi BMKG yang terukur dalam hitungan menit. Gempa terjadi dan jaringan sensor seismik di lapangan mendeteksi getaran tanah secara otomatis hanya membutuhkan waktu 1 menit. Saat BMKG mengolah data seismik secara cepat untuk menentukan parameter awal (lokasi, magnitudo, kedalaman) juga membutuhkan waktu 1 menit. Langkah selanjutnya melakukan re-analisis secara paralel oleh operator on-duty BMKG untuk memastikan kualitas data hanya membutuhkan waktu 2 menit. Dan diseminasi informasi resmi disebarkan secara manual dan otomatis berdasarkan SOP ke seluruh perangkat WRS-NG, media, dan masyarakat membutuhkan waktu 3 menit.

Sedangkan Timeline Peringatan Dini Tsunami (PDT) Sejak

dikeluarkannya parameter gempa berpotensi tsunami, estimasi waktu tiba gelombang, serta tingkat ancaman awal. Kemudian pemutakhiran parameter gempa, estimasi gelombang, dan penyesuaian tingkat ancaman.

Langkah selanjutnya menyajikan hasil observasi permukaan air laut dan pemutakhiran status ancaman. Kemudian dilakukan Observasi tide gauge lanjutan secara berkala. Serta pada Pernyataan resmi bahwa peringatan dini tsunami telah berakhir (atau sesuai dengan pertimbangan pimpinan), Semua informasi tersebut terproses dalam waktu 190 menit.

Dalam skema diseminasi InaTEWS BMKG, WRS-NG berkedudukan sebagai salah satu moda utama yang langsung terhubung ke barisan stakeholder prioritas, bersanding dengan moda lain seperti Email, Fax, SMS, Website, Mobile Apps, dan Media Sosial. Informasi dari WRS-NG yang diterima oleh instansi seperti BNPB, BPBD, TNI/Polri, Pengelola Bandara/Pelabuhan, SAR, hingga Media selanjutnya diteruskan secara cepat kepada masyarakat luas.

Saat ini BMKG telah menempatkan sebanyak 500 unit WRS-NGyang tersebar di wilayah rawan bencana di seluruh Indonesia. Mayoritas unit dialokasikan ke BPBD/Pusdalops (298 unit), Kantor Pemerintah Daerah (59 unit), UPT/Balai BMKG (42 unit), instansi K/L dan Universitas (39 unit), Basarnas/SAR (27 unit), Media (18 unit), Infrastruktur Kritis (10 unit), Hotel/Sektor Pariwisata (6 unit), serta Komunitas (1 unit).

Dengan keterpaduan sistem, moda operasional 24 jam, serta kecepatan penyampaian informasi di bawah 3 menit, hadirnya WRS-NG menjadi fondasi penting bagi pemerintah daerah dalam merespons ancaman bencana secara cepat dan tepat guna meminimalkan risiko korban jiwa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....