Perubahan Kiblat Mengajarkan Ketaatan
- 20 Agt 2026 07:52 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Masjid Qiblatain menjadi salah satu tempat bersejarah dalam perjalanan Islam yang mengajarkan tentang ketaatan dan kesiapan seorang Muslim untuk mengikuti perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Hal tersebut disampaikan Ustaz H. Moenir, Penyuluh Agama Islam Kecamatan Simokerto Kementerian Agama Kota Surabaya, dalam program Cahaya Pagi Pro 4 RRI Surabaya, Kamis, 20 Agustus 2026, dengan tema Masjid Qiblatain.
Ustadz H. Moenir menjelaskan, Masjid Qiblatain yang berada di Kota Madinah dahulu dikenal dengan nama Masjid Bani Salamah. Masjid tersebut kemudian dikenal sebagai Masjid Qiblatain karena berkaitan erat dengan peristiwa perubahan arah kiblat umat Islam, dari Baitul Maqdis di Palestina menuju Ka'bah di Masjidil Haram, Mekkah.
Perubahan kiblat tersebut terjadi setelah Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabat melaksanakan salat menghadap Baitul Maqdis selama sekitar 16 atau 17 bulan setelah hijrah ke Madinah. Kemudian, Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkan wahyu yang memerintahkan umat Islam untuk menghadap Masjidil Haram.
| Baca juga: Baiatul Aqabah Ajarkan Kepedulian Sosial |
"Perubahan kiblat ini didasarkan pada perintah dan wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, bukan semata-mata karena keinginan atau kemauan Nabi," ujar Ustaz H. Moenir.
Ia menerangkan, peristiwa perubahan kiblat terjadi ketika Rasulullah SAW sedang melaksanakan salat Zuhur bersama para sahabat. Pada saat itu, turun perintah Allah agar arah kiblat dialihkan menuju Ka'bah. Peristiwa tersebut kemudian menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah perkembangan umat Islam.
Menurut Ustadz H. Moenir, perubahan kiblat juga menjadi ujian terhadap keimanan dan ketaatan umat Islam. Allah SWT hendak menunjukkan siapa yang benar-benar mengikuti Rasulullah SAW dan siapa yang berpaling dari perintah-Nya. Karena itu, perubahan arah kiblat tidak hanya berkaitan dengan perubahan arah dalam melaksanakan salat, tetapi juga mengandung pelajaran tentang kepatuhan terhadap ketentuan Allah.
"Orang mukmin itu seharusnya ketika mengetahui bahwa sesuatu merupakan perintah Allah, sikapnya adalah sami'na wa atha'na, kami mendengar dan kami taat," katanya.
Ia menambahkan, sikap para sahabat dalam menerima perubahan kiblat menjadi teladan bagi umat Islam dalam menyikapi perubahan yang berlandaskan kebenaran. Ketika perintah Allah telah jelas, seorang Muslim tidak semestinya mempertentangkannya dengan kebiasaan atau keinginan pribadi.
Pelajaran berikutnya adalah pentingnya kesiapan untuk melakukan perubahan diri. Menurutnya, perubahan kiblat dapat menjadi momentum untuk melakukan evaluasi terhadap kehidupan, termasuk meninggalkan kemaksiatan, kelalaian, dan kebiasaan yang tidak sesuai dengan tuntunan agama menuju kehidupan yang lebih dekat dengan Allah SWT.
"Kalau kita mengetahui kebenaran, maka kewajiban kita adalah taat dan berusaha memperbaiki diri," tutur Ustaz H. Moenir.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa makna kiblat tidak hanya berkaitan dengan arah fisik ketika melaksanakan salat. Seorang Muslim juga perlu memperhatikan arah hatinya. Ketika tubuh menghadap Ka'bah, hati dan seluruh orientasi kehidupan semestinya juga diarahkan kepada Allah SWT, bukan kepada harta, jabatan, popularitas, maupun pujian manusia.
"Yang perlu kita tanyakan kepada diri kita adalah, ke mana kiblat hati kita? Seharusnya kiblat hati kita adalah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala," ujarnya.
Ustadz H. Moenir berharap, kisah Masjid Qiblatain dan perubahan kiblat dapat menjadi pengingat bagi umat Islam untuk senantiasa meningkatkan ketaatan, memperbaiki diri, serta menjadikan Allah SWT sebagai tujuan utama dalam kehidupan. Dengan demikian, peristiwa sejarah tersebut tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menutup pembahasan dengan mengajak umat Islam untuk menanamkan sikap sami'na wa atha'na terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya serta terus memperbaiki arah hati agar senantiasa berada dalam ketaatan. "Mudah-mudahan arah kiblat kita selalu menuju ketaatan dan meraih rida Allah Subhanahu wa Ta'ala," ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....